You are hereDokter David Handojo Muljono, Sp.PD, FINASIM, Ph.D : Kepala Unit Penelitian Hepatitis Eijkman Guru Besar Tak Tetap Unhas

Dokter David Handojo Muljono, Sp.PD, FINASIM, Ph.D : Kepala Unit Penelitian Hepatitis Eijkman Guru Besar Tak Tetap Unhas


By dradm11 - Posted on 03 December 2011

Dokter David Handojo Muljono, Sp.PD, FINASIM, Ph.D, yang saat ini menjabat Kepala Unit Penelitian Hepatitis Lembaga Biologi Molekul Eijkman Jakarta, Rabu (29/11) diangkat sebagai  Dosen Tidak Tetap dengan Tugas Setara Guru Besar dalam pelaksanaan kegiatan Penelitian, Pendidikan, dan Pengabdian Masyarakat Universitas Hasanuddin. Prosesi pengangkatan tersebut digelar melalui upacara penerimaan ‘Academy Professorship Indonesia’ dalam bidang ‘Lige Sciences’ oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Royal Netherlands Academy of Arts and Sciences (KNAW) disertai penyerahan surat keputusan, dalam Rapat Senat Guru Besar Unhas, di Ruang Senat Unhas Kampus Tamalanrea.    

Dihadiri Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan stafnya, Wakil Menristek Dicky Rezady Munaf dan sejumlah pakar dari Negeri Balanda, dalam rapat yang dipimpin Rektor Unhas Prof.Dr.dr.Idrus A Paturusi, David Handojo Muljono menyampaikan orasi bertajuk ‘’Membangun Kapasitas Riset Kedokteran Melalui Integrasi Ilmu Dasar dan Kedokteran Klinik’’. Ia menjadi guru besar ke-296 yang dimiliki Unhas saat ini.
David Handojo Muljono merupakan orang kedua yang terpilih mengikuti program kerja sama AIPI-KNAW Negeri Belanda, setelah dosen UGM. Prof. Dr.Robbert Dijkgraaf, President KNAW, mengatakan, pengangkatan guru besar seperti ini pertama kali di Indonesia. Penempatan David Handojo Muljono di Universitas Hasanuddin sangat tepat, karena memiliki lokasi, peralatan,  pengalaman, dan diversity di Indonesia bagian Timur.
Sedangkan Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Prof.dr.Sangkot Marzuki, AM, Ph.D, D.Sc. mengatakan, pengangkatan David Handojo Muljono sangat spesial bagi AIPI, karena merupakan program unggulan AIPI dengan KNAW. Ini sangat penting sebagai upaya akademik mengetahui Indonesia agar dapat memberikan kontribusi dalam bidang pengetahuan.
‘’Academic professors dipilih oleh satu grup besar dengan kriteria yang sangat ketat dan oleh suatu panel internasional,’’ ujar Sangkot Marzuki dalam acara yang juga diwakili dr.Farid Husain atas nama Ketua Umum PMI M.Jusuf Kalla yang berhalangan hadir karena sedang di Jepang.
Menurut Sangkot Marzuki, seorang academic professor merupakan penghargaan yang sangat tinggi. Ini merupakan cara KNAW  meningkatkan penelitian di Indonesia. Oleh sebab itu, AIPI menyampaikan terima kasih kepada Unhas atas kerja sama ini.
Pada masa datang, sebut Sangkot Marzuki, kegiatan seperti ini akan menjadi tradisi akademik baru di Indonesia, sebab merupakan penghargaan tertinggi bagi seorang ilmuwan Indonesia.
Bagi Unhas, kata Idrus A Paturusi, kehadiran David Handojo Muljono sebagai Guru Besar Tidak tetap di Unhas akan memberikan kontribusi bagi peningkatan penelitian, khususnya dalam bidang hepatitis. Selama ini, Unhas bekerja sama dengan tenaga yang ada di jajaran Kementerian Kesehatan dalam melaksanakan pendidikan dokter. Banyak di antara mereka yang berkualitas, namun karena batas usia, terpaksa harus pensiun lebih awal.
Idrus Paturusi menyampaikan, tenaga-tenaga kualifikasi S-3, sebenarnya dapat memperoleh lolos butuh di instansi awal, karena dari aspek kum (nilai kredit), mereka tidak mengalami kesulitan diangkat sebagai tenaga dosen/guru besar di perguruan tinggi.
‘’Ini perlu lolos butuh dan hanya sekali tandatangan Ibu Menteri saja,’’ ujar Idrus sembari melirik ke Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih yang duduk di baris terdepan kursi Ruang Senat Unhas, kemudian menambahkan, jika ini dapat dilakukan, perguruan tinggi akan memperoleh tenaga berkualifikasi  di atas rata-rata dalam meningkatkan pendidikan.

Sumber Ilmu Pengetahuan
Dalam orasinya, David Handojo Muljono mengatakan, pendidikan kedokteran sebagai sumber tenaga kedokteran diharapkan juga menjadi sumber lahirnya ilmu pengetahuan. Fakultas Kedokteran bukan hanya memiliki kemampuan professional, melainkan juga memiliki kemampuan melakukan analisis pathogenesis penyakit yang berguna untuk pengobatan pasien dan dapat menciptakan pengetahuan baru berdasarkan kebutuahn yang terdapat di Indonesia.
‘’Walaupun pembentukan Physician Scientist belum ada dalam kurikulum pendidikan dokter di Indonesia, pembangunan kapasitas riset kedokteran tetap dapat dilakukan dengan tetap memasukkan aspek patofisiologi dan fenomena klinik pada materi pendidikan ilmu dasar. Juga memasukkan aspek ilmu dasar yang terkait dengan penyakit dan pengobatannya pada materi pendidikan ilmu klinik.
‘’Selain itu, perlu mengikutsertakan mahasiswa kedokteran dan lulusan baru dalam tim riset yang merupakan perpaduan pengajar ilmu dasar dan kedokteran klinik,’’ ujar David Handojo Muljono.

Biodata:
Nama : Dokter David Handojo Muljono, Sp.PD, FINASIM, Ph.D
Tempat/tgl lahir : Magelang, 30 Maret 1954
Kepegawaian : Sipil Pusat Kementerian Kesehatan dengan penugasan Pada Lembaga Biologi Molekul Eijkman, Kemen Ristek.
Jabatan/Afiliasi : Kepala Lab Hepatitis dan Emerging Diseases, Lembaga Eijkman, Honorary Associate Professor, Sidney Medical School the University of Sidney
Riwayat Pendidikan :

  • SD Tarakanita, Magelang (1961-1967)
  • SMPK Pendowo, Magelang (1968-1969)
  • SMA Negeri I magelang (1970-1973)
  • FK Unair Surabaya (1974-1981)
  • Dokter Spesialis FK Unair (1988-1993)
  • Pendidikan Doktor, Jichi Medical University, Tachigi-Ken Jepang (1996-2000)

Pendidikan Tambahan: Hepatologi dan Teknologi Antibodi Monoklonal: Sidney Medical School University of Sydney, Australia (1989-1990).
Riwayat Pekerjaan :

  • Dokter Puskesmas Wera Timur, NTB (1981-1983)
  • Kepala Seksi KIA-Gizi-Imunisasi Diskes Lombok Barat, Mataram, NTB (1983-1988)
  • Peneliti di Lab Hepatitis Bumi Gora NTB, Mataram (1984-1988).
  • WHO Task Force, WHO Neonatal hepatitis B Immunization Project in Lombok Island, Indonesia (1988-1992)
  • Peneliti di Tropical Disease Research Centre (TDRC), Unair Surabaya (1993-1994)
  • Peneliti Senior Lembaga Biologi Molekul Eijkman, Jakarta (1999-sekarang)
  • Kepala Unit Penelitian Hepatitis, Lembaga Biologi Molekul Eijkman, Jakarta (1999-sekarang).
  • Kepala Unit Penelitian Hepatitis dan Emerging Infections Diseases Lembaga Biologi Molekul Eijkman Jakarta (2006-sekarang).

Penghargaan :

  • Wisudawan prestasi terbaik Unair (1982)
  • Wsiudawan tercepat Unair (1982).
  • MEDIKA Award IDI (1989).
  • Ronpaku Award, Gold Medal The Japanese Society for the Promotion of Science, JSPS (2000).
  • Ksatria Bakti Husada Kartika Menteri Kesehatan RI (2011).