You are hereProf Dr.Muhammad Darwis, MS: Perlu Tranformasi Pembalajaran Secara Utuh

Prof Dr.Muhammad Darwis, MS: Perlu Tranformasi Pembalajaran Secara Utuh


By dradm11 - Posted on 30 November 2011

Belajar bahasa ialah belajar tentang kaidah-kaidah bahasa yang meliputi kaidah ejaan, kaidah diksi (pilihan kata), penyusunan kalimat efektif , paragraph, bibliografi, tata kutip, sampai ke kaidah penulisan.

"Cara belajar bahasa yang seperti ini juga disebut cara belajar secara parsial. Sejauh ini, pembalajaran bahasa secara parsial dijalani karena bertumbuh pemahaman bahwa untuk terampil menulis, terlebih dahulu perlu belajar tata bahasa," ujar Muhammad Darwis, dalam orasi penerimaan jabatan Guru Besar tetap dalam Bidang Ilmu Bahasa Indonesia/Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Selasa (29/11).
Dalam orasinya yang bertajuk "Transformasi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia," di depan Rapat Senat Luar Biasa yang dipimpin Rektor/Ketua Senat Unhas Prof.Dr.dr.Idrus A.Paturusi, ayah tujuh anak yang dilahirkan di Bone 28 Agustus 1959 ini mengatakan, masih bercokol paradigma bahwa pembelajaran bahasa itu sebagai proses deduktif. Artinya, diperlukan adanya transformasi pemahaman yang memandang pembelajaran bahasa itu sebagai proses induktif. Dengan ini anak didik dikondisikan sebagai pembelajar yang menyadari bahwa pada dirinya tertanam kaidah-kaidah kebahassan yang diperlukan untuk bias menilai apakah bentuk bahasa yang dihasilkannya logis atau tidak logis.
"Dalam hubungan ini, yang diperlukan adalah beralih dari pembelajaran bahasa secara parsial ke pembelajaran bahasa secara utuh dan menyeluruh," sebut Dekan Fakultas Sastra Unhas 2005-2009 ini.
Guna menjalani tranformasi dari pembelajaran bahasa secara parsial ke pembelajaran bahasa secara utuh dan menyeluruh,menurut Darwis, langkah yang paling efektif ditempuh ialah bertransformasi dari budaya tutur ke budaya tulis. Persoalan utama yang dihadapi ialah, masyarakat Indonesia masih bermerek budaya dengar omong. Komunikasi cenderung disinonimkan dengan komunikasi lisan yang tantangan nalarnya tidak secanggih dengan dengan komunikasi tulis. Padahal, secara kolektif, bangsa  yang lemah budaya tulisnya cenderung lemah juga daya nalarnya. Secara individual, seseorang yang produktif menulis akan lebih kritis bernalar daripada mereka yang tidak produktif menulis.
Menurut Darwis, harus diakui, keterampilan menulis lebih sulit dijadikan orientasi pembelajaran daripada keterampilan berbahasa yang lain, seperti berbicara, membaca, dan menyimak. Itu sebabnya, pembelajaran menulis dengan orientasi praktik belum menjadi pilihan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
"Perlu dikhayati, untuk terampil menulis tidak cukup dengan belajar teori menulis, Yang lebih menentukan adalah praktiknya. Dari Praktik inilah diperoleh nilai kemahiran atau keterampilan yang merupakan hasil pengembangan kompetensi menjadi perilaku yang dapat diamati," sebut Darwis.

Biodata:
Nama : Prof.Dr.H.Muhammad Darwis, M.S.
Tempat/tgl lahir : Bone, 28 Agustus 1959
Pekerjaan : Dosen Fak.Ilmu Budaya Unhas
Pangkat/Jabatan : Pembina Utama Muda/Guru Besar
Istri : Dr.Hj Kamsinah. M.Hum
Anak : Tujuh orang
Pendidikan : S-1 Fak.Sastra Unhas (1982), S-2 (1990) dan S-3 (1998) Unhas