You are hereProf.Dr.Lukman, M.S.: Tanpa Transmisi , Penggunaan Bahasa Daerah Merosot

Prof.Dr.Lukman, M.S.: Tanpa Transmisi , Penggunaan Bahasa Daerah Merosot


By dradm11 - Posted on 30 November 2011

Salah satu faktor penyebab merosotnya penggunaan bahasa ibu (bahasa daerah, BD) adalah tidak adanya pentransmisian bahasa daerah itu dari generasi tua ke generasi muda, seperti hal yang terjadi bagi kebanyakan orang/keluarga di Kota Makassar dan juga daerah-daerah lain.

Prof.Dr.Lukman, M.S. yang juga Ketua  Program Studi Linguistik Program S-3 Pascasarjana Unhas  dalam orasi penerimaan jabatan sebagai Guru Besar tetap dalam Bidang Linguistik/Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Selasa (29/11) mengatakan, meski suatu keluarga Bugis  tinggal di kota Makassar, namun anak-anak mereka tidak mampu berbahasa Bugis. Hal ini baru disadari ketika anak-anak sudah mulai besar dan ternyata tidak mewarisi bahasa kedua orang tuanya.    "Ini menunjukkan, tidak adanya pentransmisian bahasa Ibu kepada generasi berikutnya. Jangankan generasi ketiga atau keempat berdasarkan hasil-hasil  penelitian terdahulu, bahasa ibu itu bergeser, pada generasi pertama saja sudah dapat terjadi," ujar Lukman dalam orasinya berjudul "Revitalisasi Peran dan Fungsi Bahasa Ibu dalam Menangkal Arus Globalisasi" dalam Rapat Senat Luar Biasa yang dipimpin Rektor Unhas/Ketua Senat Prof.Dr.dr.Idrus A Paturusi.    Lukman yang menyelesaikan pendidikan S-3 di Unhas tahun 2000 itu mengatakan, agar BD tetap eksis di tengah-tengah penuturnya, alternatif lain yang perlu dipilih adalah menumbuhkan sikap positif berupa kebanggaan dan kesetiaan terhadap BD. Walaupun sikap positif dapat ditumbuhkan tanpa diikuti oleh perilaku nyata dalam menggunakan bahasa itu pada ranah-ranah pemakaiannya yang tepat, seperti di rumah dan di lingkungan keluarga atau membangun hubungan-hubungan sosial yang akrab antarsesama etnis belum dapat menjamin bahasa itu akan terhindar dari pergeseran.    Menurut Lukman, revitalisasi peran dan fungsi bahasa ibu dimaksudkan bukan untuk menandingi atau menyaingi bahasa nasional atau bahasa internasional sekalipun, melainkan dimaksudkan agar bahasa itu sebagai aset bangsa yang mendukung tumbuhnya nilai-nilai budaya lokal yang relevan dengan kepribadian kelompok pendukungnya dapat diselamatkan. Bahasa ibu memiliki ranah penggunaan yang berbeda dengan penggunaan bahasa Indonesia.     "Pembagian fungsi antara bahasa ibu/bahasa daerah dan bahasa Indonesia sudah diatur dengan jelas. Revitalisasi peran dan fungsi bahasa ibu dimaksudkan agar tumbuh situasi pemakaian bahasa yang diglosik," sebut Lukman.
Kedua bahasa, baik bahasa ibu/daerah dan bahasa Indonesia memiliki peran dan fungsi yang sama pentingnya. Kita tidak perlu terperangkap dengan anggapan yang keliru bahwa dengan menguatnya penggunaan bahasa ibu atau bahasa daerah akan memperkuat dorongan munculnya disintegrasi bangsa.
"Tentu saja hal itu keliru. Yang perlu dipahami bersama, dengan menguatnya penggunaan bahasa ibu atau bahasa daerah berarti menguat pulalah upaya penyelamatan nilai-nilai budaya lokal dari ancaman globalisasi," Lukman menyimpulkan orasinya.

Biodata
Nama : Prof.Dr.Lukman, M.S
Tempat/Tgl lahir : Lenrang, Soppeng, 1960.
Pangkat/Jabatan : Pembina Utama Madya/Guru Besar
Pekerjaan : Dosen Fak.Ilmu Budaya Unhas
Istri : Dra.Suriati Rahman
Anak : Tiga orang
Pendidikan : S-1 Fak.Sastra Unhas (1986), S-2 (1991) dan S-3 (2000) Program Pascasarjana Unhas.