You are hereTaka Bonerate, Tak Bisa Parsial
Taka Bonerate, Tak Bisa Parsial
Taka Bonerate merupakan obyek wisata bahari yang indah di dunia. Namun, pengelolaan wisata bahari itu tidak dapat dilakukan secara parsial.
‘’Taka Bonerate jangan hanya dikembangkan dari aspek ekologi saja, tetapi harus komprehensif,’’ kata Prof.Dr.Ir. Ambo Tuwo, DEA, pada Sesi III diskusi rangkaian kegiatan ‘Book Fair Unhas’ di Gedung Rektorat Unhas, Kamis (18/8).
Ambo Tuwo mengatakan, tidak ada yang meragukan keindahan objek wisata bahari Taka Bonerate, namun akses ke sana masih menjadi kendala. Berbeda dengan objek wisata Bunaken di Sulawesi Utara yang hanya dalam waktu lima menit dapat dicapai.
Menurut Asisten Direktur I Program Pascasarjana Unhas ini, dalam pengelolaan wisata bahari hendaknya juga diperhatikan selain aspek ekologi, juga aspek sosial-ekonomi, kelembagaan, dan sarana wilayah (transportasi, dan sebagainya).
‘’Kita tidak mungkin memperbaiki kehidupan rakyat lokal menjadi sejahtera tanpa adanya sarana dan prasarana di lokasi wisata Taka Bonerate itu,’’ ujar Ambo Tuwo yang tampil bersama Prof.Dr.Ir.Iqbal Burhanuddin, M.Sc.,(judul buku ‘’The Sleeping Giant, Potensi dan Permasalahan Kelautan) dan Prof.Dr.Alex Rantetondok, M.Sc. dalam diskusi yang dipandu Prof.Dr.Ir.Andi Niartiningsih, MP, Dekan Fakultas llmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas.
Guru Besar kelahiran Makassar 16 November 1962 ini menyebutkan, kendala utama yang kita hadapi dalam pengelolaan wisata bahari di Sulawesi Selatan adalah masalah sosial budaya. Ada sisi budaya yang berimplikasi suatu objek wisata akan sulit dikembangkan, karena kondisi dan situasi masyarakat lokal.
Di dalam bukunya ‘Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut’ yang ikut dipamerakan pada Book Fair Unhas tersebut, Ambo Tuwo menjelaskan, ada beberapa prinsip pengembangan ekowisata yang harus dipenuhi, kesatu, yakni mencegah dan menanggulangi dampak dan aktivitas wisatawan terhadap bentang alam dan budaya masyarakat lokal. Kedua, mendidik atau menyadarklan wisatawan dan masyarakat lokal akan pentingnya konservasi. Ketiga, mengatur agar kawasan yang digunakan untuk ekowisata dan manajemen pengelola kawasan pelestarian dapat menerima langsung penghasilan atau pendapatan. Keempat, masyarakat dilibatkan secara aktif dalam perencanaan dan pengembangan ekowisata. Kelima, keuntungan ekonomi yang diperoleh secara nyata. Keenam, semua upaya pengembangan, termasuk fasilitas dan utilitas harus tetap menjaga keharmonisan dengan alam. Ketujuh, pembatasan pemenuhan permintaan,karena umumnya daya dukung ekosistem alamiah lebih rendah dari daya dukung ekosistem
buatan.
‘’Kedelapan, jika suatu kawasan pelestarian dikembangkan untuk ekowisata, maka devisa dan belanja wisatawan dialokasikan secara proporsional dan adil untuk pemerintah pusat dan daerah,’’ sebut Ambo Tuwo.
Book Fair Unhas dalam rangka Dies Natalis ke-55 Unhas itu berakhir Jumat (19/8) ini.
