You are hereUnhas Batalkan 5 Mahasiswa Jalur Undangan

Unhas Batalkan 5 Mahasiswa Jalur Undangan


By dradm11 - Posted on 09 February 2012

Universitas Hasanuddin tahun 2011 membatalkan lima mahasiswa baru yang diterima melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Jalur Undangan, karena terbukti lulus setelah sekolahnya melakukan penyimpangan administratif yang tidak dapat ditoleransi.

Sekolah dari lima mahasiswa baru angkatan 2011 itu, SMA Cokroaminoto Tamalanrea Makassar,  SMAN 1 Anggeraja Enrekang, SMAN 1 Polewali Mandar, SMAN 2 Sinjai Utara, dan SMAN 2 Rantepao diberi sanksi selama tiga tahun berturut-turut tidak diikutkan dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru Jalur Undangan SNMPTN.
Para mahasiswa itu masing-masing; Inra Samsuddin (Ilmu Kelautan, asal SMA Cokroaminoto Tamalanrea, Makassar), Juliana Juada (Geofisika, MIPA, SMAN 1 Anggeraja Enrekang), Hasri (Agroteknologi, Pertanian, SMAN 1 Polewali Mandar), A.Inra Noviarti (Peternakan, SMAN 2 Sinjai Utara), dan  Yonatan Biu (Ilmu Ekonomi, SMAN 2 Rantepao).
Kepala Humas Unhas M.Dahlan Abubakar menjelaskan, ketika dilakukan verifikasi terhadap data rapor mereka setelah pengumuman nama-nama mahasiswa baru yang diterima melalui Jalur Undangan, ditemukan terjadinya penyimpangan pada data rapor.
‘’Data rapor yang digunakan saat mengikuti pendaftaran berbeda dengan saat pendaftaran ulang,’’ kata Dahlan Abubakar, Kamis (9/2) kepada wartawan.
Tembusan Surat Keputusan Rektor Unhas 6 Juni 2011 tentang pembatalan lima mahasiswa itu juga ditembuskan ke Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dirjen Dikti, Ketua SNMPTN di Jakarta, kalangan internal Unhas, para kepala/ketua komite sekolah yang bersangkutan dan para mahasiswa yang dibatalkan.
Salah satu bentuk penyimpangan yang dilakukan, kata Dahlan, ada kepala sekolah yang memberikan kata kunci (password) untuk akses ke pendaftaran online Jalur Undangan kepada para siswanya. Padahal, password itu hanya boleh dipegang oleh kepala sekolah atau wakil kepala sekolah. Dengan adanya kata kunci untuk akses itu, terbuka kemungkinan para siswa mengubah nilai rapornya sesuai seleranya.
‘’Yang pasti, dengan kunci itu terbuka kemungkinan siswa mengubah nilai rapornya menjadi lebih tinggi dibandingkan yang lain,’’ ujarnya.
Humas Unhas mengharapkan, penyimpangan dan manipulasi data rapor seperti ini tidak terjadi lagi pada masa mendatang. Jika masih ditemukan, sanksi yang sama tetap diberlakukan. Beberapa tahun silam, salah satu SMA Negeri di Makassar juga dikenakan sanksi 3 tahun tidak diikutkan dalam penerimaan mahasiswa baru Jalur Penelusuran Potensi Belajar (JPPB), karena terbukti ‘mark up’ (menggelembungkan) nilai rapor.