Kompas.com : Bioteknologi - "Ganoderma" Versus "Trichoderma" PDF Print E-mail
Wednesday, 09 March 2011 10:07

OLEH YUNI IKAWATI

Perkebunan kelapa sawit dan karet alam Indonesia tergolong terluas di dunia. Namun, produksi komoditas itu tak optimal karena serbuan jamur Ganoderma. Berbagai upaya dilakukan untuk melumpuhkan, misalnya dengan jamur Trichoderma.

Berada di wilayah khatulistiwa yang memiliki kelembaban tinggi, Indonesia merupakan surga bagi perkembangbiakan jamur.

Sumber hayati ini di satu sisi menjadi berkah karena merupakan bahan baku pangan dan obat-obatan. Di sisi lain, sumber hayati ini menjadi ancaman karena menjadi hama perusak tanaman perkebunan bernilai ekonomi tinggi.

Jamur yang menyerang perkebunan monokultur adalah Ganoderma. Spesies jamur ini bersifat patogen yang menyebabkan penyakit pada tanaman perkebunan dan kehutanan. Biasanya disebut penyakit akar merah.

Sasaran jamur ini, antara lain, beberapa spesies akasia, seperti Acacia mangium, sengon (Paraserianthes falcotaria) dan beberapa tanaman perindang flamboyan (Delonix regio), cemara (Casuarina equisetifolia), angsana (Pterocarpus indicus), dan tanaman perkebunan, yaitu kelapa sawit (Elaeis guineensis).

Sulit dikendalikan

Selama ini pertumbuhan Ganoderma sulit dikendalikan. Jamur ini menginfeksi dan menggerogoti pohon dan memakan unsur karbon hingga pohon lapuk dan roboh. Setelah pohon mati, jamur tetap bertahan dalam bentuk saprofit.

Jamur ganas ini menular lewat spora melalui perakaran di bawah tanah. Selain itu lewat cabang dan ranting, spora jamur terbang tertiup angin dan menginfeksi tumbuhan lain.

Gejala kejangkitan jamur berupa pertumbuhan tanaman terhambat, daun menguning, tajuk mati, akar dan pangkal batang rusak, hingga akhirnya roboh. Pepohonan yang tumbang terjadi dalam satu lokasi tertentu di kawasan perkebunan dan kehutanan.

Kejangkitan jamur pada tanaman sulit terdeteksi dini. Setelah dua hingga tiga tahun bibit jamur masuk ke dalam tanaman, baru muncul bunga jamur. Kondisi ini sudah lanjut sehingga mustahil diatasi. Akibatnya, tanaman harus dibongkar hingga ke akarnya agar tidak menular pada tanaman lain. Hal itu diuraikan SM Widyastuti, pengajar di Universitas Gadjah Mada yang juga peneliti jamur.

Penelitian jamur

Penyakit jamur merah menjadi bahan penelitian Widyastuti, dari Jurusan Perlindungan dan Kesehatan Hutan Fakultas Kehutanan UGM, sejak lama.

Penelitian mulai dia dilakukan tahun 1980-an. Temuan awalnya hama jamur ini pada tanaman Acacia mangium. Penelitian menunjukkan, 40 persen akasia terkena Ganoderma.

Dari studi lapangan selama 15 tahun terakhir, ia menemukan hama ini pada perkebunan karet dan kelapa sawit.

Jamur ini tidak ditemukan di hutan alam, yang sistem tumbuhannya polikultur (beragam jenis). Dalam lingkungan alami terjadi keseimbangan ekosistem. Populasi jamur Ganoderma tidak meluas karena ada organisme lain yang menekan pertumbuhannya.

Pengendalian hayati

Fenomena itulah yang mendorong Widyastuti melakukan penelitian Ganoderma sekaligus mencari musuh alaminya. Penelitian yang dilakukan di laboratorium dan di lapangan bertujuan mengidentifikasi jamur penyebab penyakit busuk akar dan pangkal batang itu, terutama jamur Ganoderma philippii dan Rigidoporus lignosus.

Dari penelitian ini ia mengetahui pola serangan dan sebarannya. Ia menemukan serangan Ganoderma menggunakan miselia (benang) jamur ini untuk menembus stomata (mulut daun) dan intraseluler pada batang. Selain itu, diteliti tingkat toleransi tanaman terhadap Ganoderma sp.

Isolasi ”Trichoderma”

Sejak tahun 2007, Widyastuti mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa antijamur dan aktivitasnya melawan Ganoderma pada tanaman. Sasarannya adalah mengendalikan jamur secara hayati dan ramah lingkungan.

Riset lanjutan dilaksanakan selama tiga tahun terakhir setelah dia terpilih sebagai peraih Tanoto Professorship Award. Salah satu tahap yang dilakukannya adalah menemukan jamur ”penakluk” Ganoderma.

Ia mengisolasi ratusan jenis jamur dari sejumlah daerah. Namun, pilihannya jatuh pada Trichoderma, yang bersifat parasit terhadap Ganoderma sp.

Jamur itu dikoleksi dari Jambi, Jawa Tengah (Surakarta), dan Riau. Trichoderma ditemukan pada kotoran gajah dan serasah tumbuhan.

Trichoderma sp bersifat antagonistik, menghambat pertumbuhan jamur di tanah, termasuk Ganoderma sp.

Dalam penelitian mikroskopis di laboratorium diketahui reaksi biologis Trichoderma terhadap Ganoderma. Benang jamur Trichoderma (T reesei, T harzianum, dan T koningii) melilit benang jamur Ganoderma philippii dan mengeluarkan enzim untuk mengurai senyawa kimia pada benang jamur hingga unsur karbonnya dapat diambil. Reaksi ini membuat Ganoderma mati.

Uji coba pengendalian hayati menggunakan Trichoderma sp pada Ganoderma sp meliputi efektivitas dan interaksi di antara keduanya. Hal ini untuk mengetahui kemampuan Trichoderma sp ketika diaplikasikan di persemaian untuk menekan pertumbuhan Ganoderma sp.

Hasilnya, aplikasi Trichoderma sp di persemaian dapat menekan pertumbuhan Ganoderma sp pada tanaman A mangium.

”Selama 40 tahun penelitian, belum ada pengendalian hayati yang efektif dan ekonomis. Efektivitasnya masih di bawah 10 persen,” kata Widyastuti.

Upaya yang perlu dilakukan adalah mencari kombinasi pembasmi hama secara hayati dan pestisida yang terdegradasi. Selain itu, perlu pengembangan bibit tanaman yang tahan hama.

Dalam penggunaan di lapangan, Widyastuti membuat pelet yang mengandung jamur Trichoderma, pupuk kompos dan kotoran hewan. Di dalam pelet ada formulasi tertentu antara spora dan alginat. Temuan ini akan diajukan ke lembaga Hak atas Kekayaan Intelektual untuk mendapat hak paten.

Sumber : kompas.com

 

Add comment


Security code
Refresh