| Mencegah Bandang dengan Buah Hitam |
|
|
|
| Friday, 25 March 2011 15:17 |
|
Oleh Timbuktu Harthana Banjir bandang yang melanda Wasior di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, Oktober lalu, masih menyisakan derita dan trauma. Kini, pemerintah dan masyarakat setempat sadar betapa pentingnya mitigasi bencana. Salah satunya yakni menanami bantaran sungai dengan pohon buah hitam dan matoa, selain berbagai upaya lain tentunya. Masih jelas di benak Frans Marani (37), banjir bandang yang menghanyutkan dan menghancurkan rumahnya di dekat Sungai Anggris, di Distrik Wasior, Papua Barat, Senin pagi di bulan Oktober 2010. Kantuknya belum hilang pagi itu, tetapi air menggelontor bak tumpah dari bukit dan membuatnya terjaga. Semua orang panik. Banjir dahsyat telah meluluhlantakkan permukiman di sekitar Sungai Anggris. ”Untung masih bisa menyelamatkan istri dan enam anak saya. Semua harta benda saya hilang tersapu banjir, juga perahu untuk mancing di laut,” kata Frans yang ditemui di kamar sempit 4 meter x 4 meter di hunian sementara belakang kantor Distrik Wasior, Selasa (8/3) lalu. Banjir bandang 4 Oktober 2010 di Wasior telah merenggut 293 orang meninggal atau tak ditemukan hingga sekarang. Sebanyak 3.461 orang mengalami luka berat hingga ringan, 1.500-an keluarga kehilangan rumah, dan ratusan orang hidup tanpa mata pencaharian. Gulungan air yang meluncur dari Pegunungan Wondiboi dengan membawa ribuan ton material berupa batu, pasir, dan batang pohon juga telah menghancurkan fasilitas umum dan sosial, infrastruktur, dan sarana aktivitas ekonomi di 23 kampung di tiga distrik. Terjangan air bah yang tak sampai satu jam itu menimbulkan kerugian sekitar Rp 280,57 miliar. Sedikitnya, sebanyak 7 sekolah rusak berat dan sedang, 5 fasilitas kesehatan dan 2 rumah ibadah rusak berat, sejumlah kantor pemerintahan dan bank pun tak berfungsi akibat rusak parah dan sedang. Ratusan petani dan nelayan tradisional belum bisa beraktivitas karena 22 hektar sawah dan 78 hektar ladang tertimbun material banjir, serta puluhan kapal dan jaring ikan hanyut tersapu banjir. Menurut Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Teluk Wondama, Fredrik Payung, besarnya kerusakan itu disebabkan tiga hal. Pertama, jenis dan jumlah material yang terbawa adalah batuan besar hingga setinggi orang dewasa, batang pohon utuh dengan akar-akarnya, serta ribuan kubik tanah. Kedua, tiga sungai di kota itu serentak meluap, dari sisi utara hingga selatan kaki Pegunungan Wondiboi dan bermuara di Teluk Wondamen. Akibatnya, banjir bandang mengepung dan menghentikan gerak warga yang ingin menyelamatkan diri. Terlebih lagi, sepanjang daerah aliran sungai itu adalah permukiman padat dan pusat kegiatan ekonomi. Ketiga, sungai di Teluk Wondama maupun hampir semua sungai di Papua dangkal dan berkelok-kelok. Kedalamannya sekitar 0,5-2 meter dengan tinggi muka air sekitar 0,2-0,5 meter, dan debit airnya kecil, berkisar 0,4 meter kubik per detik. Karena sungainya berkelok, sewaktu debit air melebihi kapasitas dengan kecepatan tinggi, air keluar alur sungai dan membuat aliran baru. ”Sungai di sini tidak seperti di Jawa yang dalam, besar, dan memanjang,” kata Fredrik. Tak hanya sekali Sejumlah ahli mengatakan, penyebab utama banjir Wasior bukan pembalakan liar di hutan konservasi di Pegunungan Wondiboi (100-2.239 meter di atas permukaan laut). Banjir terjadi karena proses aktivitas alam yang berlangsung belasan, bahkan puluhan tahun, tanpa disadari masyarakat. Ada dugaan terbentuknya benteng alami yang tersusun dari runtuhan batu dan pohon di daerah hulu yang sungainya sempit dengan tebing tinggi. Terbentuknya genteng alami itu dipicu kondisi geologi Pegunungan Wondiboi yang merupakan patahan dan tersusun dari batuan gneis. Tipe batuan ini rapuh, mudah retak di bagian dalam, dan pecah saat terjadi pergerakan bumi, serta memiliki urat-urat patahan. Tumpukan material longsoran yang membendung sungai akhirnya membentuk semacam kolam besar. Ketika mencapai titik jenuh, saat volume air di dalam bendungan meningkat, ditambah (kemungkinan) adanya pergerakan bumi, benteng pun jebol. ”Coba lihat, mudah sekali mematahkan batu ini dengan tangan,” kata staf Badan Lingkungan Hidup Teluk Wondama, Asa Maniani, sambil mencongkel batuan pada dinding Sungai Kuras. Jika debit air besar tiba-tiba, dinding sungai ini pasti mudah longsor, Bukti lain, badan sungai makin lebar setelah banjir. Sungai Anggris yang awalnya 13 meter, misalnya, kini hampir 20 meter. Dahsyatnya banjir juga didukung oleh kemiringan Pegunungan Wondiboi yang sangat tajam (di atas 50 derajat). Aliran sungai pun sangat laju. Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Teluk Wondama Hendrik Mambor, banjir di Wasior bukan baru kali ini. Pada tahun 2008 dan 2009 juga pernah terjadi banjir meski tak sebesar Oktober lalu. Banjir lebih parah pernah terjadi tahun 1955, bahkan tahun 1816. Mengutip buku Ajaib di Mata Kita karya misionaris Belanda Dr FC Kamma, Hendrik menyatakan, hampir 200 tahun lalu banjir yang menggelontorkan batuan, tanah, dan pepohonan pernah melanda Wasior. Karena jumlah penduduk sedikit, dan tempat tinggal mereka berupa rumah panggung di pesisir dan laut, tidak ada laporan korban jiwa. ”Masyarakat zaman dulu sudah menyadari, tempat tinggalnya rawan longsor dan banjir. Mereka tinggal di rumah panggung di pesisir. Tahun 1976, mereka mulai naik ke daratan dan membuat rumah-rumah di pantai,” ujar Hendrik. Buah hitam Saat ini, Pemda Teluk Wondama masih melakukan pemetaan titik-titik paling rawan banjir. Hasil pemetaan akan dijadikan panduan relokasi penduduk, menyusun tata guna lahan, dan kegiatan mitigasi bencana. Dengan alokasi dana hampir Rp 1 miliar dari APBD 2011, ditargetkan zonasi rawan bencana itu selesai akhir tahun ini. Untuk sementara, daerah rawan adalah bantaran sungai-sungai besar, seperti Sungai Rado, Sanduay, Anggris, Miei, Manggurai, Kabo, dan Ati. Warga diimbau tidak membangun lagi rumahnya di sekitar bantaran sampai ditentukan daerah mana yang laik dijadikan permukiman. ”Kami butuh bantuan dan rekomendasi pakar geologi, hidrologi, sosial-budaya, serta ekonomi menata ulang (tata ruang) Wasior,” kata Hendrik. Upaya selanjutnya secara bertahap adalah perlakuan terhadap sungai. Hal itu di antaranya melebarkan sungai sekaligus menormalisasi, membangun talut di beberapa titik, dan mereboisasi bantaran sungai yang akan dikosongkan. Untuk jangka panjang akan dibuat cek dam pada sungai di bagian kaki gunung yang berfungsi menampung sementara luapan air dan material dari gunung. Lahan eks permukiman nantinya ditanami pohon berakar kuat sekaligus bernilai ekonomi, seperti matoa (Pometia pinnata) dan buah hitam yang buahnya digemari masyarakat. Matoa jayapura dipilih karena mampu tumbuh dan berbuah dengan cepat, sedangkan buah hitam dipilih karena oleh masyarakat adat dianggap keramat atau bernilai budaya. Siapa pun yang menebang pohon ini, meski tak sengaja, akan didenda. Masyarakat dulu bahkan sengaja membuat pondok di bawah pohon hitam saat musim berbuah agar tak ada yang mencuri, termasuk burung nuri dan kakaktua. Dulu, ketika panen, pemilik pohon akan mengundang para tetangga untuk memetik bersama buah yang rasanya mirip alpukat itu. Buah hitam biasa dikonsumsi dengan olahan sagu. Tak hanya sakral, pohon ini sejatinya juga menjadi perekat sosial. ”Harapannya, pohon buah hitam yang ditanam di bantaran sungai tak akan ditebangi warga dengan alasan untuk membuka pemukiman baru. Pohon ini punya nilai budaya yang tinggi di sini,” ujar Hendrik. Di tingkat masyarakat, kerusakan bantaran sungai juga mulai disadari. Frans Marani, yang selama belasan tahun hidup di DAS Anggris, misalnya, kini melihat makin jarang ada rumpun bambu di bantaran sungai. Padahal, lima tahun lalu rumpun bambu sangat banyak. Timbunan sampah justru berserakan di muara sungai karena masyarakat membuang sampah sembarangan. Apa boleh buat, Wasior memang berkembang menjadi sebuah kota yang warganya tak lagi peduli pada sumber penghidupan dan penjaga lingkungan. Kini, pascabanjir bandang, masyarakat baru sadar bahwa mereka hidup di daratan kipas aluvial yang rentan banjir dan longsor. Jika hujan deras turun berhari-hari, mereka harus siaga melihat tanda-tanda alam yang selama ini mereka lupakan. Sumber : Kompas Cetak |


