| Catatan KKN Internasional - Persiapan KKN (Bagian 2) |
|
|
|
| Written by Andi Nurul Mukhlisa |
| Saturday, 28 January 2012 19:03 |
|
HARI KEDUA. Setelah melewati hari pertama kemarin dengan pelajaran onigiri, hari ini kami memulai pelajaran berikutnya, menghafalkan rute jalan, terutama jalan yang harus dilalui dari International House menuju kampus Pertanian Universitas Ehime. Bersepeda dengan kecepatan normal, perjalanan tempuh menuju kampus pertanian akan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Dari kampus pertanian menuju pusat kampus Universitas Ehime memakan waktu 15 menit.
Tidak hanya lokasi kampus, mengenali tempat perbelanjaan pun juga menjadi salah satu agenda yang sangat penting. Terbilang banyak tempat belanja yang kami kunjungi, tentu saja tujuannya adalah mencari tempat yang menawarkan harga paling murah. Pilihan ini bukan tanpa alasan, jika tidak selektif akan membuat kami mati kelaparan. Biaya hidup di Jepang ternyata sangat tinggi. Jika boleh dirinci, biaya penginapan saja sudah menghabiskan 35,000 yen per bulan, jika dirupiahkan sama dengan Rp. 3.885.000. Belum lagi pengeluaran untuk listrik, gas, dan air yang bisa mencapai 30,000 yen per bulan. Untuk makan, jika maka di luar, sekalinya berkisar 500-1,000 yen, maka untuk menyiasatinya kami berbelanja bahan makanan sendiri. Dengan uang 1,500-2,000 yen sudah cukup untuk menghidupi kami sebanyak 9 kali makan.
Jadi mau atau tidak mau penyesuaian ini memang harus dilakukan, sesuai dengan nilai beasiswa yang kami terima, di bulan pertama dan kedua 50,000 yen, sedang bulan ketiganya 80,000 yen. Kalau untuk alat transportasi, kami memilih untuk bersepeda. Untuk alat transportasi ini, kami tidak perlu mengeluarkan biaya lebih dibanding jika harus memilih alat transportasi umum lainnya. Selain itu, bersepeda bisa menyehatkan tubuh. PEMANDANGAN KONTRAS Berbeda dari Indonesia, di Jepang, baik di kampus ataupun di pusat perbelanjaan tingkat pelayanan yang diberikan sangat baik hingga membuat kami terkagum-kagum. Anda tidak akan dibiarkan menunggu meski hanya semenit, senyum pun terus merekah di bibir mereka meski terkadang tingkah kami sudah masuk dalam kategori sedikit menyebalkan, hal yang sangat langkah ditemukan di Indonesia saat ini. Lain lagi dengan masalah persampahan. Jadwal pembuangan sampah dibuat teratur. Ada 13 jenis pembagian sampah, waktu pengambilan sampah-sampah tersebut pun dibuat berbeda. Sangat wajar jika dikatakan Jepang negara terbersih di dunia. Tidak seperti di Indonesia sebagaimana yang kita mafhum. Banyak hal yang membuat kami menelan ludah melihat panorama berbeda di jepang. Kami dilayani bak raja yang bertandang di rumah pelayannya.
PERSIAPAN KKN DIMULAI Penyambutan kedatangan kami dibuka langsung oleh Wakil Rektor I Universitas Ehime. Inti dari kegiatan KKN kami itu adalah menghidupkan sebuah pulau yang hampir mati dengan penduduk hanya 20 orang. Untuk itu, kami dibuatkan kelas khusus dengan materi kuliah yang berkaitan dengan hal tersebut.
Kelas khusus yang disiapkan cukup luas, isinya hanya kami, peserta KKN program, dan dosen yang mengajar. Materi slide yang disajikan pun terkadang masih menggunakan bahasa jepang, tetapi mereka tetap berusaha menggunakan bahasa inggris saat menjelaskan, sehingga suasana kelas menjadi tidak membosankan.
Struktur bangunan pada rumah kayu di Jepang adalah salah satu materi kuliah yang diberikan. Selain itu, kami juga memperoleh kuliah yang berkaitan dengan jurusan kami, misalnya saja, yang berkaitan dengan kehutanan mendapat kuliah diantaranya adalah wood forest, forest journey, soil science, learn in biotechnology laboratory dan masih banyak lagi. Dalam Kuliah wood forest dijelaskan mengenai perkembangan kehutanan di Jepang, belakangan kami ketahui bahwa sekarang daratan negara jepang terdiri dari 75% hutan dan selebihnya merupakan pusat masyarakat. Kuliah forest journey diceritakan tentang sejarah dari kehutanan itu sendiri dari abad sebelum masehi. Lain lagi dengan kuliah soil science, di sini banyak diceritakan unsur-unsur dalam tanah dan bagaimana perlakuannya ketika di dalam greenhouse. Learn in biotechnology laboratory membuat kita mengetahui alat-alat yang digunakan di greenhouse dan bagaimana cara menggunakannya. Selain perkuliahan di dalam kelas, kami juga mendapat beberapa perkuliahan di lapangan. Dihadapkan langsung pada alat dan teknologi, terkait dengan perkuliahan. Melihat greenhouse universitas, rasanya sangat miris jika harus mengingat universitas sendiri. Alat-alat yang mereka gunakan sangatlah modern, setiap orang yang berkunjung haruslah steril.
Kami juga berkesempatan mengunjungi perkebunan. Di sini kami belajar mengenai cara memperlakukan tumbuhan sesuai jenisnya di lapangan. Di perkebunan jeruk Prof. Kadoya, kami juga bisa mengetahui bahwa jenis jeruk jepang, semakin kecil maka rasanya pun semakin manis, dan ia juga mengandung air yang banyak. Di kegiatan ini, untuk pertama kalinya pula kami memegang chainsaw dan sejenisnya secara langsung dan kemudian mempraktekkannya di sekitar kampus. Selain mengikuti kelas khusus dengan serangkaian jenis materi kuliah yang berikan tersebut, kita pun diberi kesempatan untuk mengikuti kuliah bersama mahasiswa jepang. KEBERANGKATAN DITUNDA Jadwal keberangkatan ke pulau Aijima sedianya dilaksanakan pada tanggal 1 November 2011 sebagaimana yang telah sampaikan di awal pertemuan. Namun kemudian, keberangkatan ditunda hingga tanggal 6 november 2011, setelah pelaksanaan shalat Idul Adha. Ini merupakan wujud penghargaan mereka kepada kami yang muslim.
Waktu lowong karena penundaan kemudian digunakan untuk memberikan kuliah kepada kami mengenai gambaran umum pulau yang akan kami teliti. Perkuliahannya tidak seperti sebelumnya, kuliah di dalam ruangan dan diberikan oleh dosen, namun kuliah ini kami dapatkan dari mahasiswa jepang dengan banyak berdiskusi dengan mereka, sifatnya santai dan selalu dilakukan di ruangan khusus international di lantai 5, atau di ruang UGM yang sekarang menjadi ruang SUJI di lantai 3. |

















