| Seri Puntondo (Bagian 1) |
|
|
|
| Written by Andita Tri Palmuri |
| Friday, 18 May 2012 19:12 |
|
Awal Perjumpaan Tring, tring. Handphoneku berdering tanda pesan masuk. Pesan dari nomor baru yang tak ku ketahui, pesan yang begitu memaksaku untuk membuka kamus untuk men-translate ke dalam bahasa Indonesia. Pesan itu berisi “hai Andita, besok kita berencana akan berangkat ke PPLH untuk menginap selama sehari. Kita bertemu di Fakultas Kehutanan pukul 09.00 wita. Salam Rolf”. Ya itu adalah sms dari Rolf, seorang Swedian yang menjadi tutor kami dalam kegiatan ini. Dengan adanya sms itu berarti besok aku akan bertemu dengan Rolf dan dua orang mahasiswa yang sama sekali tak pernah ku kenal, satu orang adalah Swedian, dan yang satunya lagi pribumi. Rasa penasaran dan deg-degan pun menghampiriku. Um, mereka orangnya seperti apa ya?? Tak berlama-lama pernasaran, keesokan harinya pun tiba. Aku bergegas berangkat ke kampus. Aku harus berada di sana sebelum waktu yang ditentukan, terlebih lagi aku janjian dengan orang barat yang notebene dalam hidupnya tidak mengenal istilah “jam karet”. Dugaanku terbukti, setibaku di Fakultas Kehutanan, aku melihat dua orang “bule”, seorang standar tinggi orang Indonesia dan satunya tinggi menjulang, juga seorang gadis berambut panjang tengah duduk di depan lab-ku (Lab. Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata). Mereka adalah Rolf, Damian dan Foltra, mereka menungguku. Damian adalah mahasiswa yang berasal dari Swiss dan Foltra adalah alumni dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Jurusan Kelautan. Mereka akan menjadi partner kerjaku selama kegiatan ini berlangsung. Kami bertemu, saling berjabat tangan dan berkenalan. Tukaran nomor telepon? Oh, itu next. Penilaian pertamaku untuk Damian yaitu, dia cakep dengan mata berwarna biru jernih dan kulit yang begitu bersih tapi sayang dia terlalu tinggi bagiku, kayak pa’jolo’. Leherku selalu sakit tiap kali berbicara dengannya. Itulah perkenalan singkat kami. Tak lama setelah kami berkenalan, kami bergegas menuju parkiran untuk melanjutkan perjalanan. Ketika aku berjalan di koridor fakultasku, ku lihat wajah-wajah temanku yang seakan-akan berkata “iya tawwa dita”, mereka bangga. Um, seperti itulah juga perasaanku pada saat itu, ya bangga. Aku bangga bisa bergabung dalam kegiatan ini. Bergabung dalam kerjasama antara Unhas dan universitas luar negeri. Ku sambut senyuman teman-temanku dengan senyuman yang lebar dan tak kalah manis. Setibanya di parkiran, kami menuju mobil Avanza silver yang telah lama menunggu. Ketika masuk ke dalam mobil, aku melihat dua tas carel kira-kira yang ukuran 80 kg. Tas-tas itu cukup banyak mengambil ruang di dalam mobil. Itu adalah tas Damian, itulah gaya mereka bila bepergian, tidak seperti kita bangsa Indonesia yang senangnya menggunakan koper. Sudah bawa koper, bawa tas jinjing ditambah tas punggung lagi. Menuju AKPAR Perjalanan kami dilanjutkan menuju Akademi Pariwisata (Akpar) Makassar. Kami akan menjemput mahasiswa Akpar. Mereka adalah group yang berbeda dengan kami karena memiliki tugas yang berbeda. Selama perjalanan kami banyak bercerita tentang hobi, aktivitas sehari-hari, Damian bercerita tentang pengalaman pertama kalinya dia di Indonesia, katanya orang Indonesia itu lucu dan wajahnya berkarakter. Heh, maksudnya? Damian sangat senang bisa berkujung ke Indonesia, selain itu kami bercerita tentang hal-hal yang menarik di Makassar, dan banyak lagi. Setibanya kami di Akpar, kami bertemu dengan seorang dosen bersama dengan dua orang mahasiswa. Mereka adalah Ibu Nursjam, Daniel dan Ashar. Daniel dan Asar adalah dua orang mahasiswa yang akan bergabung bersama kami. Daniel akan bertanggung jawab untuk bagian reservacy kamar, sedangkan Ashar di bagian restoran. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke PPLH Puntondo. Kami berempat dan sopir selalu menggunakan bahasa Indonesia, Rolf mungkin agak mengerti, tetapi Damian. Sampai-sampai Damian bilang jangan-jangan kalian membicarakan saya. Maaf, untuk adilnya dia dan Rolf berbicara dalam bahasa Jerman, kamipun tercengang mendengarkannya. Sungguh lucu. Tentang PPLH Puntondo Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Puntondo merupakan lembaga non pemerintahan yang bergerak di bidang pendidikan lingkungan hidup. PPLH Puntondo adalah sebuah tempat wisata bahari yang terletak di Dusun Puntondo, Desa Laikang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar. Untuk mencapai kawasan ini dapat ditempuh dengan kendaraan umum ataupun pribadi yang berjarak +75 km dari titik nol kota Makassar. PPLH Puntondo bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin dan ZHAW yang melibatkan seorang mahasiswa dari bidang environmental Engineering, Fakultas Kehutanan, dan Ilmu Kelautan dan Perikanan. Kami digabung dalam sebuah tim yang bernama IKE Team (International Knowledge Edutainment) yang bertugas menelusuri potensi-potensi wisata yang dapat dikembangkan menjadi sebuah paket ekowisata. Selain itu, ada tim lain yang beranggotakan dua orang mahasiswa Akademi Pariwisata (Akpar) Makassar yang bertugas untuk mengontrol dan memberikan masukan dalam bidang restoran dan pelayanan kamar selama kegiatan ini berlangsung. Perjalanan Berlanjut Selama perjalanan kami hanya bercanda ringan, membahas hal yang umum dan kami mengajarkan sedikit bahasa Makassar kepada Damian, yaitu “cipuru”, “bambang”, “sallo”, dst, tetapi dia tidak terlalu serius untuk mengetahui dan menghafalnya. Katanya terlalu banyak yang harus dihafal, cukup untuk mengetahui bahasa Indonesia saja. Damian sama sekali tidak pernah mengikuti kurus bahasa Indonesia sebelumnya. Berbeda dengan Rolf yang pernah mengikuti kurus bahasa Indonesia selama 3 bulan. Sebelum kegiatan ini, Rolf telah melakukan penelitian di Puntondo untuk menyelesaikan studi S1-nya. Di tengah perjalanan, Rolf menawarkan kepada kami untuk makan siang, ya inilah yang kami tunggu dari tadi. Makan siang. Hahahaaa.
Kami singgah di sebuah rumah makan. Kami turun dari mobil dan beranjak ke rumah makan tersebut. Menu yang ditawarkan tidak begitu istimewa, seperti biasa, sekitar ikan, ayam, udang dan cumi-cumi. Kami men-translate menu satu persatu untuk Damian. Terang saja, dia tidak tahu sama sekali bahasa Indonesia. Sepertinya kami punya tambahan pekerjaan yaitu menjadi translator untuk Damian. Waduh, wani piro? Pilihannya jatuh pada cumi-cumi goreng. Begitu pula untuk Daniel dan Ashar, saya dan Foltra memesan udang goreng sedangkan Rolf memesan ikan bakar. Um, sepertinya lidah Rolf sudah terbiasa dengan ikan, makanan andalan orang Makassar. Sebelum pesanan datang, Damian berbicara kepada Rolf dalam bahasa Jerman sambil melihat ke arah tissue gulung yang ada di atas meja. Jyaah, mungkin dia mengatakan kenapa tissue toilet dipakai untuk makan. Ditengah perjalanan, Damian kebelet mau ke kamar kecil. Aih, harus diturunkan ke mana anak orang ini. Akhirnya kami pun memantau setiap rumah yang dilalui, pilihan tentu saja akan jatuh pada rumah yang terlihat agak elit, atau paling tidak rumah batu. Sopir menunjuk satu rumah yang dia sendiri pun tak tahu siapa empunya. Damian dan Daniel pun turun untuk masuk ke kamar kecil. Di atas mobil si sopir mengatakan kepada kami, di sini orang-orang biasanya tidak memiliki toilet, karena biasanya mereka buang hajat langsung ke laut. Wow, sontak kami pun kaget, untung Rolf tak berada di dalam mobil. Jadi bagaimana dengan nasib Damian? Semoga saja rumah itu memiliki toiletnya. Bersambung ….. |



