Minimal tujuh masyarakat sipil meninggal karena serangan udara yang dilancarkan Rusia, sekutu rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, di daerah Aleppo, Suriah. Lima korban meninggal salah satunya masih beberapa anak.

782

Dikatakan barisan pemantau perselisihan, Syrian Observatory for Human Rights, seperti dikutip AFP, Selasa (21/1/2020), jika serangan udara itu masih dilancarkan walau Rusia mengatakan gencatan senjata dalam operasi militer di Suriah.

Gempuran militer Rusia itu tentang beberapa desa yang dikendalikan militan serta pemberontak Suriah di tepian Propinsi Aleppo pada Senin (20/1) waktu ditempat.

Baca Juga : Biaya Kuliah POLMAN

Laporan Syrian Observatory menyebutkan tiga anak wanita meninggal di desa Kfar Taal karena gempuran udara itu. Empat masyarakat sipil yang lain, terhitung dua beberapa anak yang lain, meninggal dalam gempuran udara terpisah di sejumlah desa yang lain di daerah yang sama.

Didapati jika daerah Idlib serta beberapa daerah Aleppo, Hama serta Latakia masih dikendalikan oleh militan ditempat, Hayat Tahir al-Sham, yang masih berkaitan sisa afiliasi Al-Qaeda di Suriah.

Daerah Suriah sisi barat laut terus digempur lewat udara oleh rezim Assad serta sekutunya dalam beberapa minggu paling akhir. Mengakibatkan, beberapa puluh ribu masyarakat kehilangan rumah.

Gencatan senjata paling baru yang ditata Rusia jadi sekutu Suriah serta Turki yang memberi dukungan pemberontak Suriah, pada bulan ini, mempunyai tujuan membuat perlindungan daerah itu dari gempuran udara selanjutnya. Tetapi minggu lantas, rezim Suriah menggerakkan serangan mematikan, serta sampai capaian tujuh km. dari kota penting di daerah Idlib sisi selatan, untuk tangkap beberapa militan ditempat.

Baca Juga : Politeknik Negeri Manufaktur

Menurut Syrian Observatory yang memperoleh info dari jaringan sumber di daerah Suriah, menyebutkan pesawat-pesawat tempur Rusia serta rezim Suriah terus mendobrak ruang itu serta tewaskan beberapa masyarakat sipil. Minggu lantas, Rusia menyanggah sudah lancarkan serangan udara ke daerah itu semenjak gencatan senjata diresmikan pada 9 Januari kemarin.

Pemerintah Suriah, yang sekarang kuasai lebih dari 70 % daerah di negara itu, sudah bersumpah untuk merampas kembali Idlib dari pemberontak serta militan ditempat. Perselisihan yang terus bersambung di Suriah sudah tewaskan lebih dari 380 ribu orang semenjak pecah tahun 2011.