Beberapa 20. 868 halaman dari 88 naskah kuno di Surau Simaung, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat sukses didigitalisasi oleh klub Digital Repository of Endanger and Affected Manuscript in Southeast Asia (DREAMSEA) .

Digitalisasi serta uraian naskah itu dilaksanakan saat hampir 1 bulan, sejak mulai 22 Maret 2019 sampai 19 April 2019, oleh enam filolog yg datang dari tiga perguruan tinggi di Sumatera Barat yg terdiri dalam Pramono, M. Yusuf, serta Yerri Satria Putra (Kampus Andalas) , Ahmad Taufik Hidayat serta Chairullah (UIN Imam Bonjol) , serta Yusri Akhimuddin (IAIN Batusangkar) .

Mereka dibantu dua orang dokumenter, ialah Surya Selfika serta Harry Sofyan. Ke delapan orang ini pun bergabung dalam organisasi karier Penduduk Pernaskahan Nusantara (Manassa) cabang Sumatera Barat.

Baca Juga : teks deskripsi
M. Nida Fadlan, Data Eksekutif DREAMSEA, mengatakan kalau aktivitas di Surau Simaung sebagai misi ke-12 dari misi-misi awal mulanya di berapa tempat di Asia Tenggara sejak mulai dikeluarkan pada 24 Januari 2018 waktu lalu.

” Program ini memiliki tujuan buat melestarikan naskah Asia Tenggara yg ada dalam situasi terancam rusak lantaran argumen apa pun (endangered) juga sekaligus punyai arti penting (affected) dalam skema penduduk Nusantara Asia Tenggara, ” ujarnya terhadap NU Online, Ahad (20/4) .

Surau Simaung, terangnya, punyai koleksi 88 naskah (20. 868 halaman naskah) dengan dari 200 teks (kandungan isi naskah) di dalamnya. Sayangnya, kata Nida, kebanyakan naskah yg tersimpan di surau yg terdapat di Jorong Tapian Diaro Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat itu udah rusak serta dekati kehancuran.

Oleh sebab itu, bukan hanya pengamanan teks dengan melaksanakan pelestarian lewat ubah media digital, DREAMSEA pun, jelas Nida, berikan pendampingan terhadap pemilik naskah perihal tata trik perawatan fisiknya.
Seterusnya, pengamat di Pusat Pengkajian Islam serta Penduduk (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu pun memperjelas kalau naskah-naskah yg udah didigitalkan bakal diproses serta diangkat dalam suatu perpustakaan digital (repository) yang bisa dibuka lebih luas buat keperluan umum termasuk juga keperluan akademik.

” Lewat cara itu, DREAMSEA buka kesempatan seluas-luasnya untuk penduduk buat mempelajari kekayaan khazanah penduduk Asia Tenggara di saat lampau tiada menyingkirkan jejak miliknya. Mengenai fisik naskah terus disimpan oleh pemiliknya semasing, ” jelas alumnus Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat itu.

Simak Juga : teks eksemplum

Program yg dilakukan oleh PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta Centre for the Study of Manuscript Cultures (CSMC) , University of Hamburg, Jerman ini dikehendaki bisa selamatkan naskah, baik kandungan isi ataupun fisik naskahnya.

Program ini dapat dukungan oleh Arcadia Fund, instansi filantropi asal London, Inggris, yg beri dukungan pelestarian warisan budaya, lingkungan, serta peradaban dunia. (