Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) serta Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) , Said Iqbal mengatakan ada dua pabrik di Batam, Kepulauan Riau, yg bakal tutup. Ide penutupan pabrik ini beresiko pada bagian tenaga kerja.

Akan tetapi, di luar permasalahan itu, bagaimana sesungguhnya situasi iklim manufaktur di Batam?

Said Iqbal menilainya permasalahan Pemutusan Interaksi Kerja (PHK) yg dilaksanakan perusahaan-perusahaan di Batam bisa terurai apabila ada investasi baru yg masuk ke Batam.

Simak Juga : perusahaan manufaktur

Akan tetapi, apa yg berlangsung di Batam, menurut dia yaitu udah jalan pada tempat. Investasi baru yg masuk kurang banyak menyerap tenaga kerja yg terserang PHK.
” Di Batam, sebagian besar perusahaan elektronik serta turunannya. Otomotif di Batam, sangat sedikit. Awal mulanya satu tahun yang kemarin, di Daerah Ekonomi Privat (KEK) Bintan, ada industri tekstil tutup. Namun di Bintan pun yg semakin bertambah, industri pariwisata. Namun Batam stuck, ” kata Iqbal terhadap CNBC Indonesia, Senin (12/8/2019) .

Menurut Iqbal, walaupun pemerintah sekarang ini tengah focus pada peningkatan Industri 4. 0, bagian manufaktur yg pertumbuhannya melambat pun butuh jadi perhatian.

” Kita mau usulkan ke Pak Jokowi, tidak cuman menyediakan industri 4. 0, digitalisasi, atau robotik, selayaknya bagian manufaktur jadi perhatian lantaran masih ada sela buat menarik investor bangun pabrik di Indonesia, ” ujarnya.

Artikel Terkait : pencemaran udara

Berkenaan permasalahan PHK di Batam, Said Iqbal melihat permasalahan ini berlangsung berkat peraturan pemeran upaya buat kurangi banyaknya produksi barang mereka. Langkah efisiensi lantas ditempuh.

Pengurangan produksi, kata Iqbal, berlangsung gara-gara perkembangan ekonomi yg belum baik serta sejumlah kebijakan kepabeanan serta pajak yg dikira berubah menjadi kendala banyak pebisnis di Batam. Dalam pengakuan awal mulanya, menurut Said Iqbal kemampuan PHK di bagian elektronik di Batam menimpa lebih kurang 2. 000 tenaga kerja.

Catatan BPS perkembangan industri manufaktur di Kepulauan Riau, dalam mode melambat 1 tahun paling akhir. Produksi Industri Manufaktur Besar serta Tengah (IBS) Propinsi Kepulauan Riau Triwulan III-2018 pernah tumbuh positif 5, 64% ketimbang Triwulan II-2018.

Akan tetapi, pada triwulan IV-2018 melambat berubah menjadi 3, 79 prosen ketimbang Triwulan III-2018. Lalu pada triwulan I-2019 alami kontraksi perlambatan hingga 2, 64% ketimbang Triwulan IV-2018. Titik nadir berlangsung, pada triwulan II-2019, bagian ini cuma tumbuh positif sebesar 2, 55% ketimbang Triwulan I-2019. Propinsi Kepulauan Riau, peran industri manufaktur capai 36, 86%