HARI ini, tanggal 17 Agustus diperingati jadi Hari Kemerdekaan Ke-74 Indonesia semenjak diproklamirkan pada 1945. Riwayat panjang harus dilalui buat bangsa Indonesia untuk dapat mendapatkan kemerdekaan dari beberapa kolonial.

Pergi dari 6 Agustus 1945 saat bom atom melululantakan Kota Hiroshima, Jepang, yang membuat kepribadian tentara Jepang goncang di penjuru dunia. Selanjutnya, bom atom ke-2 dijatuhkan ke Nagasaki sampai akhir Jepang menyerah ke Amerika Serikat serta sekutunya.

Baca Juga : Media Komunikasi

Peluang itu tidak disia-siakan, Tubuh Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) bertukar nama jadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dibawah kepemimpinan Soekarno-Hatta.

Beberapa pejuang ingin memproklamirkan kemerdekaan RI, sebab menampik bentuk kemerdekaan yang diberi jadi hadiah dari Jepang. Mereka juga terus bergerak.

Beberapa detik pembacaan teks proklamasi, menukil dari Wikipedia, sudah sempat berlangsung perundingan di antara kelompok muda serta tua dalam pengaturan teks proklamasi. Perundingan itu berjalan pada jam 02.00-04.00 pagi hari.

Di ruangan makan Laksamana Tadashi Maeda, Jalan Imam Bonjol Nomer 1, teks proklamasi dicatat. Beberapa penyusunnya Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, serta Mr. Ahmad Soebarjo. Ide teks proklamasi dicatat oleh Ir. Soekarno sendiri. Ada juga B.M Diah, Sayuti Melik, Sukarni, serta Soediro di ruangan depan.

Artikel Terkait : Pengertian Media Komunikasi

Sukarni menyarankan supaya yang tanda-tangani teks proklamasi itu ialah Ir. Soekarno serta Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Selesai teks diatur, Sayuti Melik bekerja menulis teks proklamasi itu.

Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di tempat tinggal Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 sudah ada diantaranya Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani serta Trimurti. Soekarno direncanakan membacakan teks proklamasi kira-kira jam 10.00.

Bendera Merah Putih sudah dijahit Ibu Fatmawati, serta akan dikibarkan. Sudah sempat berlangsung penampikan oleh Trimurti yang awalannya disuruh untuk meningkatkan bendera dengan fakta pengerekan bendera semestinya dikerjakan prajurit.

Ditunjuklah Latief Hendraningrat, prajurit PETA, dibantu Soehoed. Seseorang pemudi ada dari belakang bawa nampan berisi bendera Merah Putih, yang dijahit Fatmawati beberapa waktu awalnya.

Bendera Merah Putih berkibar, mereka yang ada menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saat upacara usai, datanglah kira-kira 100 anggota Barisan Perintis yang di pimpin S.Brata. Mereka hadir tergesa-gesa sebab tidak paham terdapatnya pergantian tiba-tiba tempat pembacaan teks proklamasi dari Lapangan Ikada ke Pegangsaan.

Perpindahan tempat itu nyatanya dilatarbelakangi keamanan. Barisan Perintis juga tuntut Soekarno mengulang-ulang pembacaan proklamasi. Tetapi tidak diterima, serta Hatta memberi mandat pada mereka.

Artikel Terkait : Media Komunikasi Adalah

Pada 18 Agustus PPKI memutuskan untuk menetapkan serta memutuskan Undang-Undang Basic (UUD) jadi basic negara Republik Indonesia, serta sekarang diketahui UUD 45.

Soekarno serta M Hatta selanjutnya dipilih jadi presiden serta wapres Republik Indonesia pertama.

Tersebut teks proklamasi yang dibacakan Soekarno:

P R O K L A M A S I

Kami bangsa Indonesia dengan adanya ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Beberapa hal jang tentang perpindahan kekoeasaan d.l.l., diadakan

dengan tjara saksama serta dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta.

Indonesia sekarang di pimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi). Di kesempatan mendekati HUT ke-74 RI, Jokowi ajak semua rakyat Indonesia untuk mengucapkan syukur sebab ditengah-tengah beberapa rintangan hempasan riwayat, Indonesia masih berdiri kuat sampai ini hari.

“Semuanya sebab kita mempunyai dasar yang benar-benar kuat, Pancasila – basic negara, bintang pelosok, pemersatu kita. Di dalam rumah Pancasila ini, kita hidup rukun walau berlainan latar agama, asal mula suku, ras, atau kelompok,” tutur Jokowi.

Rumah besar Indonesia ialah tempat yang nyaman untuk semua, tempat semua anak bangsa dapat berkarya, bergerak, serta berusaha untuk wujudkan mimpi serta harapan kita.

Menurut dia, Persatuan Indonesia akan tetap sentosa. Seperti kiambang-kiambang yang bertaut kembali, sesudah biduk pembelah berlalu.

“Dengan semangat persatuan Indonesia, rumah besar kita tidak roboh, tidak ambruk, serta tidak punah, tapi malah berdiri tegak. Tidak cuma untuk 100 tahun, 500 tahun, tetapi untuk selamanya,” tuturnya.