| Yoshiharu SEKINO : Dengan Sandeq ke Jepang |
|
|
|
| Tuesday, 07 April 2009 | |
|
Petualangan yang bakal dilakukan pria kelahiran Tokyo 20 Januari 1949 ini benar-benar unik dan langka. Kembali ke Jepang dengan menumpang sandeq, perahu tradisional Mandar. Bukan hanya itu, ABC perahunya dia pilih sendiri. Mulai dari masih berbentuk pohon kayu yang masih tumbuh di tengah belantara Provinsi Sulawesi Barat, sekitar 100 km di sebelah utara Kota Mamuju, dia yang cari sendiri. Pohon pun ditebang sendiri, dibantu rakyat yang dia upah. Hingga batang kayu sepanjang 54 km itu berhasil disunglap jadi sandeq.
Sosok Yoshiharu SEKINO sendiri sangat variatif. Ia tamat pada pendidikan hukum di Hitotsubashi University (1975) kemudian menyeberang ke Fakultas Kedokteran Yokohama City University (1982). Setelah menamatkan pendidikan pada dua lembaga yang berbeda itu, sebagai tenaga dokter pada Musashino Red Cross Hospital (1985-1987). Lalu pindah ke Tamagawa Hospital sebagai tenaga dokter pada tahun 1990 hingga 1993. Dia juga tidak betah di situ. Sejak 2002 hingga kini dia tercatat sebagai salah seorang profesor di Musashino Art University. Petualangan laut ini merupakan sebuah Pelayaran Antropologi Budaya yang mengusung Kebudayaan Bahari Mandar sebagai wahana penggerak. Pelayaran ini bertajuk The Black Current Route Towards Japanese Archipelago by the Early Humankind Dispersion (Penyebaran awal manusia melalui rute arus hitam menuju kepulauan Jepang), merupakan napak tilas penyebaran manusia purba dari Paparan Sunda menuju Kepulauan Jepang kira-kira 3.000 s.d. 10.000 tahun silam.
Ratusan Tahun
SEKINO tiba di Indonesia dari Jepang untuk memulai melengkapi perlengkapan petualangannya Agustus 2008. Pekerjaan pertama yang dia lakukan adalah merambah hutan di dekat Karosa, Mamuju, untuk menemukan kayu yang cocok bagi pembuatan sandeq idamannya. Perjalanannya membuahkan hasil. Dia menemukan dua batang pohon besar yang dianggap pas untuk membuat perahu. Binuang, nama jenis kayu itu. Dari dua batang kayu yang masih hidup itu, sudah ada pemiliknya. Namu, hanya satu pemilik yang bersedia menjualnya. Apa boleh buat, SEKINO membeli sebatang pohon setinggi 54 m dengan harga Rp 4 juta. Ia memperoleh informasi dari masyarakat lokal perihal kayu Binuang raksasa itu. Kayu itu berusia sudah ratusan tahun. Batangnya penuh lilitan pohon merambat. Dia memilih sebatang pohon besar, karena tidak mau membuat sandeq dari susunan lembaran papan. Ia menganggap sandeq dari lembaran papan kurang aman. Yang aman, harus terbuat dari kayu utuh satu pohon. Konsep ini digunakan dengan mengambil alam dan manfaatnya. ’’Itulah cara hidup orang Jepang ketika era Jomon. Mereka membuat sendiri peralatan pembuatan perahu,’’ kata SEKINO melalui Agnes Rampisela yang menerjemahkan komentarnya dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Ia bertamu ke Rektor Unhas Idrus A Paturusi yang didampingi Pembantu Rektor I D.A.Suriamiharja dan Purek IV Dwia Aries Tina NK di Kampus Tamalanrea, Selasa (7/4). Pekerjaan berat yang harus dia selesaikan setelah menemukan sebatang pohon yang cocok, adalah memotongnya. Memotong pun tidak menggunakan senso atau gergaji, tetapi memanfaatkan kapak. Kapak pun dibuat sendiri. Bahan baku kapak dipilih dari biji besi yang ditempa sendiri di perapian. Guci tempat pembakaran dan penempaan besi kampak di bara api pun diproduksi sendiri. Meniru gaya leluhurnya membuat pedang samurai. SEKINO dibantu sekitar 10 orang penduduk lokal yang diupah Rp 50 ribu per hari, memerlukan waktu 3-4 jam nonstop untuk merubuhkan pohon dengan garis lingkar 5,3 m tersebut. Bergantian para pekerja menyelesaikan urusan memotong kayu Binuang yang keras itu hingga tuntas. Empat bulan perahu baru rampung dibuat dengan melibatkan banyak tukang. Soalnya, dari model kayu bulat, ada pekerja khusus yang mendesain menjadi bentuk sandeq. Ada pembagian kerja di antara mereka. Dari bentuk yang kasar, hingga menjadi sandeq yang panjangnya 12 m dengan lebar 110 cm itu yang siap dicoba dan tinggi sekitar 1,5 m. Perahu dengan bentuk dasar tersebut kemudian digiring melalui sungai selama tiga hari untuk sampai ke dekat jalan poros Trans Sulawesi bagian barat, tepatnya di Desa Muhajir. Sekurang-kurangnya 30 orang untuk menggotong perahu tradisional tersebut masuk ke sungai. Dari desa Muhajir, perahu menumpang truk ke Desa Luwawor, sekitar 7 km dari Kota Majene. Setelah pembuatan rampung, sandeq yang kemudian diberi nama Jomon itu dibawa ke Kampung Lambe Desa Karama di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), tempat perahu tradisional ini kelak akan memulai pelayaran napak tilasnya. Bagaimana Prof.SEKINO menemukan ide petualangan gilanya ini? Dia sudah 40 tahun melakukan penelitian dalam berbagai ekspedisi untuk memenuhi keinginannya mengetahui bagaimana kisah manusia itu menyebar ke berbagai tempat di bumi ini. Bagaimana proses orang beremigrasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Berbagai ekspedisi dipelajarnya. Ekspedisi yang dilakukan orang dari Amerika Selatan hingga Amerika Utara. Kemudian dia melakukan perjalanan darat mulai dari Siberia, Rusia, Sakarin hingga Hokkaido Jepang. Juga dari China, Korea hingga Jepang. Sekarang dia mau mencoba dari Indonesia, menyusuri Malaysia, Filipina, Taiwan, hingga Jepang melalui laut. Dalam muhibahnya kali ini, Prof.SEKINO akan bersama satu perahu lainnya yang diberi nama Pakur dengan layar segi empat, yang diambil dari nama tradisional Mandar. Perahu ini dibuat Agustus 2009. Sebuah perahu lainnya disewa dari dari nelayan Banggae Majene yang bertindak sebagai ’pengawal’ yang juga akan ditumpangi 2 orang kamerawan plus dua orang koordinator. SEKINO sendiri akan berada di sandeq Jomon yang dibuat Oktober 2008 dan berlayar segitiga. Layar terbuat dari daun lontar dan ditenun secara tradisional seperti yang dilakukan nelayan Mandar setengah abad silam. Jomon dan Pakur masing-masing akan memuat 5 penumpang. Bisa saja para penumpang akan melakukan rotasi, bertukar perahu selama pelayaran. Pelayaran ini akan dimulai 14 April 2009 dari Desa Karama menuju Kambunong yang diperkirakan ditempuh selama 4 hari. Pada tanggal 21 April, sesuai jadwal, mereka diharapkan tiba di Donggala Sulawesi Tengah. Tiga hari kemudian tiba di Bou, masih di Sulteng. Keesokan harinya (25 April) ‘armada’ sandeq ini akan memotong Selat Makassar, menyeberang ke Kalimantan Timur dan tiba di Semberang 28 April. Sesuai jadwal, antara 29 April hingga 4 Mei, pelayaran dimulai dari Kaltim menuju Nunukan. Keesokan harinya, menyeberang ke Tawao Malaysia dan terjadi pergantian kapal pengiring. Dari Tawao ini jadwal selengkapnya adalah: 4-11 Mei ; pelayaran dari Sandakan sepanjang pantai Sabah. 15 Mei :di Kudar (di Kalimantan Utara) 16 Mei : Menyeberangi Selat Balabac 17 Mei : di Pulau Balabac (Filipina) 21-27 Mei : Pelayaran mendekati pantai timur Pulau Palawan ke El Nido (Filipina). 28 Mei -8 Juni: Pelayaran dari El Nido ke Manila 9 Juni : Tiba di Manila 10-24 Juni : Pelayaran berputar ke utara dari Pulau Luzon, Claveria. 25 Juni- 4 Juli : Menyeberangi Selat Luzon menuju Hengchun (Taiwan).
Mulai 5 Juli, armada ini akan melewati Hualien (Taiwan) menuju pulau-pulau di Jepang, Yonaguni, Iriomote, Taketomi, Ishigaki, Pulau Miyako, dan tiba di tujuan, Naha City Okinawa, 20 Juli 2009 bertepatan dengan Hari Laut di Jepang. Selama pelayaran, SEKINO akan melakukan penelitian. Dia akan mengambil sampel DNA orang-orang yang ditemui di sepanjang rute pelayaran guna membuktikan secara gineologis tentang asal usul manusia Jepang dulu. Sementara Dr.Aziz Salam, alumni Teknik Perkapalan Unhas (1998) dan alumni doktor Ehime University Jepang dan kini dosen Jurusan Teknologi Perikanan Universitas Negeri Gorontalo akan meneliti perahu nelayan yang terbuat dari kayu pada rute yang dilalui. ***
|
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|







![]() | Hari ini | 246 |
![]() | Kemarin | 1986 |
![]() | Minggu ini | 9031 |
![]() | Semuanya | 492128 |