Assalamualikum Wr. WbrSaya kirim ini semoga bermanfaat.WassalamualikumInaFrom: "Daniar, Mohamad" <daniar@gmail.com>
Reply-To: iqra-boston@yahoogroups.com
To: iqra-boston@yahoogroups.com
Subject: [iqra-boston] Peranan Orang Tua
Date: Sat, 11 Nov 2006 06:36:21 -0500
>Date: Thu, 9 Nov 2006 20:13:43 EST
>From: MSali95949@aol.com
>
>Assalamu'alaikum,
>
>Saya menuliskan email ini sekembali dari salah satu nursing home yang
>mewah di 72nd street/York AV di New York. Di sana ada seorang ibu asal
>Indonesia yang sedang sakarat malam ini. Beliau punya 3 putri, 1 di
>Virginia, 1 di Chicago, dan 1 lagi di LA. Ketiga putrinya sudah pada
>berkeluarga dan berhasil.
>
>Sekitar 6 minggu silam, ananknya yang di Virginia menelpon mencari
>seseorang yang bisa membantu mengurus jenazah ibunya jika meninggal.
>Menurutnya, ibunya itu Muslim dan sudah pernah haji. Ketika putrinya
>mengatakan demikian, selintas saya tanya: "so what's your religion?"
>Mungkin nggak membayangkan saya akan tanya seperti itu, dia terdiam lalu
>dengan gagap mengatakan: "I am sorry i don't feel incline to any
>religion".
>
>Menurutnya, dia menelpon ke Islamic Center karena mengingat pesan ibunya
>semata bahwa jika beliau meninggal dunia tolong diurus secara Islam.
>Sementara dia sendiri (anak tersebut) tidak tahu apa yang harus dilakukan.
>
>Siang ini anaknya menelpon saya dan mengatakan bahwa ibunya itu dalam
>keadaan sakarat. Anaknya hanya berbahasa Inggeris. Tidak tahu bahasa
>Indonesia lagi. Dia diberitahu oleh dokter bahwa ibunya will not stay till
>night. Maka dia menelpoin saya meminta untuk datang membacakan Al Qur'an.
>Ternyata ketika saya sampai ada sebuah buku "Yaasiin" di samping ibu
>tersebut. Ketika saya minta anaknya membacakan "buku yaasin" itu putri itu
>juga masih ragu bagaimana membacanya.
>
>Saqya bacakan beliau yaasin sendiri. Sedikit dengan suara keras. Entah
>dengar atau gimana, seolah ibu itu membuka matanya kembali. Saya
>meninggalkan beliau dengan tenang. Doa saya ketika itu, ya Allah jika
>Engkau ambil ibu ini maka ambillah beliau dalam keadaan tenang. Ampunilah,
>dan terpenting juga semoga anaknya yang mendengarkan yaasin itu dapat
>Engkau bukakan hatinya.
>
>Ibu ini dari Padang. Maka saya telpon beberapa rekan dari yang berasl
>Padang. Alhamdulillah, sudah ramai yang berdatangan; bu Des, bu Mimi, bu
>Yasmin, bu Lies, dll.
>
>This is America, and that's the sad thing happens in many Muslims' life.
>Saya tuliskan ini untuk menjadi pelajaran bahwa who knows besok-besok
>kitya meninggal dunia, apakah anak kita bisa mendoakan? Ataukah akankah
>mereka merasa bahwa mereka sebenarnya berhutang budi dengan ayah ibunya?
>
>Berikut saya copy paste catatan lama:
>
>Jurang Antar Generasi
>
>Imigran Muslim di Amerika Serikat masih dikategorikan pada fase generasi
>pertama, walau bukti-bukti cukup kuat bahwa kaum Muslimin telah datang ke
>new world (benua baru) ini jauh sebelum Columbus menginjakkan kakinya.
>Muslim datang di negeri ini bersamaan dengan perbudakan kaum putih atas
>kaum hitam. Namun eksistensi Muslim di AS masih dianggap generasi pertama.
>
>Jika kita pelajari sejarah imigran-imigran lain – pada hakekatnya semua
>orang Amerika adalah kaum imigran -- seperti Yahudi, Irlandia, Italia, dan
>lain-lain, maka didapati bahwa generasi pertama mereka mengalami tantangan
>yang sangat luar biasa. Seorang peserta Retiree Program di salah satu
>pusat Union pernah mengatakan, yang namanya makanan Itali di New Yor City
>di tahun 1960-1970-an dianggap makanan menjijikkan bagi kebanyakan orang.
>Sekarang, salah satu makanan mewah di NYC adalah makanan Itali. Itulah
>salah satu contoh perputaran kehidupan.
>
>Kaum Yahudi, yang diyakini memegang kunci kekuasaan di negeri ini, pada
>awalnya sangat direndahkan. Mereka mengalami pelecehan dari komunitas lain
>dengan sangat menghinakan. Tapi dunia terus berputar, dan kini mereka
>menjadi anak-anak kunci kebijakan kekuasaan AS.
>
>Prof. Sulaiman Nyang, gurubesar sejarah di George Town University dan
>Director of Muslim in Public Square, pernah mengatakan bahwa umat Islam
>saat ini masih dianggap sebagai generasi pertama. Tapi kenyataannya, kita
>lebih beruntung dan bahkan jauh bernasib lebih baik ketimbang
>komunitas-komunitas pada awal generasi mereka. Beliau kemudian menyebutkan
>beberapa fakta, antara lain, 61% kaum Muslim berumur 40 tahun ke bawah.
>Dan, 67% anak-anak Muslim minimal berijazah sarjana S-1, serta rata-rata
>penghasilan (average income) mereka lebih besar jika dibandingkan average
>income masyarakat Amerika secara umum.
>
>In other words, Muslim Amerika adalah kaum muda-mudi, terdidik, dan cuku
>kaya. Dan mereka baru pada tataran generasi pertama.
>
>Mungkin secara sederhana kita bisa ukur dengan Muslim NYC. Ada sekitar
>800.000 orang Muslim di NYC dengan 100-an masjidnya. Banyak bisnis-bisnis
>menengah ke bawah yang dikuasai oleh kaum Muslim. Pengusaha Yellow Cab
>(perusahaan taksi) terbesar adalah Muslim keturunan Pakistan-Bangladesh,
>tentu termasuk Indonesia – saya kupa dua/tiga orang di antaranya?. Jika
>Anda menyekolahkan anak Anda di sekolah umum (Public School), bukan hal
>aneh lagi kalau banyak ibu-ibu berkerudung yang antar jemput anak.
>Demikian seterusnya.
>
>Lucky enough bukan? Yes... itulah dunia!
>
>Tapi bagaimana aspek yang lain? Cukupkah bagi umat Islam, jika anaknya
>telah menjadi insinyur, lawyer, dokter, etc.? Apakah itu misi dan visi
>kehidupan umat di AS? Jawabannya memang tergantung pribadi masing-masing.
>Ada memang yang datang ke AS untuk balas dendam. Di negeri gue, makan pun
>nggak cukup, kata mereka. Di sini, yang penting makan enak, tidur nyenyak,
>dan mobil bagus ... tercapailah tujuan hidup.
>
>Muslim American Magazine, sebuah majalah tahunan organisasi MAS terbitan
>Virginia, pernah melaporkan bahwa 9 dari setiap 10 anak yang lahir dari
>keluarga Muslim, ketika menginjakkan kaki di akademi atau universitas
>merasa "disconected" (terputus) dengan agamanya. Mereka secara acak
>diwawancarai, bagaimana kehidupan keislamannya. Jawabannya mengejutkan,
>agama bagi mereka tidak penting. Agama hanya sebuah tradisi orangtua yang
>perlu dihormati.
>
>Hah??? Mungkin masih baguslah. Tradisi orangtua yang perlu dihormati!
>Tapi, ada yang keterlaluan juga, menghormatinya juga tidak sama sekali.
>Tragis sekali, apabila agama hanya sebuah beban masa lalu yang diwarisi
>dari orangtua. Ada anak-anak yang ketika shalat Idul Fitri juga tidak
>muncul-muncul ... minimal ikut merayakan Idul Firt atau Adha! Padahal,
>tidak jarang orangtuanya masih kental agamanya.
>
>Inikah yang disebut gap (jurang) antar generasi? Ternyata bukan jurang
>kepeminpinan yang selalu menimbulkan krisis seperti di negeri tercinta
>kita, ketika penguasa Orde Baru lengser tanpa sebuah proses alamiah, maka
>goncanglah sendi-sendi bernegara itu. Jurang antar generasi malah jauh
>lebih berbahaya, karena sendi-sendi kehidupan manusia Muslim terancam di
>masa depan!
>
>Mengapa hal itu harus terjadi? Langkah apa yang perlu dilakukan untuk
>menjembatani jurang tersebut?
>
>"Semua anak lahir dalam keadaan fitrah. Tapi kedua orangtuanyalah yang
>menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi" (Al Hadits).
>
>"Semua hamba-Ku telah Kuciptakan secara 'hunafa'. Tapi setan-setanlah yang
>menjadikan mereka membelok dari agama yang hanif".
>
>Dua pernyataan Rasulullah di atas memberikan gambaran jelas, betapa
>orangtua dan lingkungan saling berkolaborasi dalam membentuk wajah
>generasi kita. Hadits pertama lebih menitik beratkan pada peranan
>orangtua. Sementara hadits Qudsy (kedua) menitikberatkan pada setan-setan
>yang oleh ulama ditafsirkan dengan lingkungan hidup.
>
>Hati manusia awalnya adalah suci (fitri), innocent, tak berdosa
>sebagaimana orang lain meyakininya. Tapi lambat laun, hati yang putih ini
>menjadi kelam dan hitam pekat oleh pengaruh luar, baik itu karena pengaruh
>keturunan yang memang kurang bertanggungjawab, maupun lingkungan hidup
>yang memang bobrok. Sehingga karakter anak-anak tersebut kemudian tumbuh
>berdasarkan "pengisian" di kemudian hari.
>
>Bagi Muslim yang hidup di AS, sebenarnya istilah Amerika ini bukan lagi
>bersifat geografis tapi lebih mengarah "life style" (gaya hidup),
>mengingat ada orang yang hidup di Jakarta namun gayanya even more
>Americanized than the Americans. Muslim yang hidup dengan pengaruh global
>Amerika seharusnya sadar bahwa persaingan dan kompetisi ini begitu sengit.
>Ketertinggalan satu langkah berarti ketertinggalan seribu tahun.
>
>Yang pertama sekali perlu dibenahi adalah "cara pandang hidup" itu
>sendiri. Ini yang biasanya dikatakan, hiduplah dengan visi yang jelas. Apa
>visi kita dalam hidup ini? Hanya dengan visi yang jelas, kita akan tahu
>dengan jelas pula "misi" kita. Dengan misi yang jelas itu, kita bisa
>membuat perencanaan-perencanaan hidup, termasuk perencanaan yang paling
>strategis berkaitan langsung dengan eksistensi masa depan generasi kita.
>
>Berbicara mengenai visi hidup, ada Ibrahim dan anaknya Ismail sebagai
>teladan kita. Mereka berdua, segera setelah meninggikan fondasi Ka'bah
>berdoa kepada Allah: "Ya Allah terimalah dari kami, sungguh Engkau Maha
>Mendengar lagi Maha Melihat". "Ya Allah jadikanlah kami berdua sebagai
>Muslim, dan anak-anak keturunan kami sebagai umat Muslim, tunjukkan cara
>peribadatan kami, dan ampunilah kami, sungguh Engkau Maha Pengampun". "Ya
>Allah utuslah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan
>membacakan kepada mereka ayat-ayat kami, mensucikan mereka, serta
>mengajarkan al Kitab dan al Hikmah".
>
>Doa Ibrahim di atas dapat dilihat pada akhir Juz dua dalam surat Al
>Baqarah. Pada ayat-ayat itu terlihat sebuah visi besar, menatap masa depan
>anak-anak keturunan dengan pandangan yang tajam. Apalah makna membangun
>Ka'bah, jika kemudian anak keturunan sendiri tidak lagi meyakini agamanya?
>Maka, doa pertama Ibrahim setelah membangun Ka'bah adalah: "Jadikanlah
>kami Muslim dan juga anak-anak keturunan kami". Bahkan lebih jauh:
>"Utuslah seorang Rasul kepada mereka...".
>
>Sikap Ibrahim di atas mungkin pantas disebut "Abrahamic Vision". Sebuah
>visi yang melihat masa depan akan lahirnya generasi dengan penuh "concern"
>dan "tanggung-jawab". Untuk itu, beberapa ayat selanjutnya menyebutkan:
>"Dan ingat ketika Tuhan mengatakan kepada Ibrahim, 'Jadilah kamu
>Muslim'. Ibrahim berkata: ' Saya sudah menjadi Muslim kepada Tuhan
>seru sekalian alam'". Allah melanjutkan kisah ini: "Dan Ibrahim
>meninggalkan wasiat, demikian juga Ya'kub, "Wahai anak-anakku, sungguh
>Allah telah memilih bagimu agama ini, maka janganlah kamu mati kecuali
>dalam keadaan Muslim".
>
>Maka, menumbuhkan rasa kekhawatiran yang didasarkan kepada realita dengan
>ukuran visi tadi, Muslim AS bisa melakukan perencanaan, apa yang
>seharusnya dilakukan untuk menjaga generasi ke depan. Pembentukan
>komunitas Muslim, tujuan utamanya adalah agar ada tempat untuk
>perlindungan (gua bagi Ashabul Kahfi) bagi generasi nanti dari derasnya
>arus lingkungan hidup. Sudah pasti visi dari sebuah komunitas itu pula
>banyak ditentukan oleh kapabilitas kapten-kapten (pemimpin) yang
>menjalankannya.
>
>Dari sini jelas, diperlukan kolaborasi positif antara orangtua (rumah
>tangga) dan lingkungan (komunitas). Kalau di rumah, anak tidak mendapatkan
>arahan yang benar, dan komunitas juga tidak memiliki program yang kuat ke
>arah itu, maka tunggulah masanya untuk anak-anak ini tenggelam dalam arus
>lingkungan sekitarnya.
>
>Menumbuhkan visi yang benar, seperti Ibrahim, menjadi fondasi bagi semua
>keluarga dalam membentengi anak-anaknya. Kesadaran keluarga per keluarga
>ini kemudian dirajut dalam sebuah bentukan komunitas yang tangguh dengan
>program-programnya yang jelas. Keharmonisan relasi antara
>keluarga-keluarga dan komunitas inilah yang menjadi perisai kokoh bagi
>generasi datang menghadapi derasnya arus pengaruh lingkungan hidup.
>
>Kegagalan dalam menyatukan visi keluarga-keluarga dan komunitas akan
>melahirkan jurang komuniksi dan program. Komunitas terkadang punya program
>dan kegiatan, tapi keluarga-keluarga juga punya sendiri-sendiri. Di
>sinilah tampak jurang tersebut.
>
>Hal lain yang perlu diperhatikan para keluarga adalah "involvement"
>(keterlibatan) dalam kegiatan-kegiatan keislaman, dan dorongan kepada
>generasi muda untuk selalu terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial yang
>ada di manapun. Ketika anak menginjakkan kakinya di akademi, maka
>sesungguhnya mereka telah mulai membentuk kedewasaan yang sempurna.
>Ketergantungan kepada orangtua tidak lebih dari ketergantungan dana
>semata. Tapi mereka merasa sudah berdiri sendiri dan tidak perlu lagi
>diarahkan atau mengikuti telunjuk perintah orangtuanya.
>
>Pada saat seperti itu, orangtua tidak lagi bisa menjadi "mandor" bagi
>anak-anaknya. Yang terbaik adalah mengarahkan anak-anak tersebut untuk
>terlibat dalam kegiatan-kegiatan Islam dimana dia belajar, seperti MSA
>(Muslim Student Association). Namun hal ini menjadi sulit, jika sejak dini
>anak-anak tidak pernah terlibat dalam kegiatan antar komunitas. Jika
>selama ini anak-anak bergaul hanya dengan mereka, dibatasi oleh lingkungan
>sesama ras, suku atau bangsa, maka ketika berhadapan dengan orang lain
>akan bersikap kaku.
>
>Sekarang ini hampir di semua universitas ada MSA. Bahkan, di beberapa High
>School seperti Styvesent High School di down town New York juga ada MSA.
>Tapi masalahnya, semua ini kembali kepada pembentukan opini anak sejak
>dini.
>
>Komunikasi yang harmonis antara anak-anak dan orangtua perlu dibangun
>secara terus menerus. Orangtua harus mampu menempatkan diri pada posisi
>yang beragam, terkadang sebagai teman, kakak, mitra, tapi sekali-sekali
>perlu menjadi orangtua dan guru. Fleksibilitas, tidak harus mengiyakan
>semua keinginan anak, dan tidak juga harus menolak semuanya.
>
>Komunikasi hanya akan terjalin dengan baik, jika memang dibangun sejak
>awal, ketika anak masih kecil. Bila komunikasi di usia dini sudah tidak
>lancar, maka jangan harap ada komunikasi di saat anak-anak mencapai umur
>remaja. Ditambah dengan language barrier, masalah bahasa, karena anak
>lemah dengan bahasa ibunya, maka semakin parahlah komunikasi itu
>terbangun.
>
>Kegagalan komunikasi bisa menjadikan anak memerlukan "someone" untuk
>membangun relasi baru, dan terkadang sebagai tempat untuk menyalurkan
>"uneg-uneg"nya. Jika anak sudah mendapatkan orang lain, trust kepada
>orangtua akan lambat-laun melorot, sehingga suatu ketika
>keputusan-keputusan penting, seperti dalam masalah perkawinan, maka
>orangtua tidak perlu lagi nasehatnya. Bahkan yang menyedihkan, pilihan
>agama juga banyak ditentukan oleh "mentor"-nya tadi. Untung kalau mentor
>itu seorang Muslim (yang lurus). Kalau ternyata tidak, di situlah akan
>terjadi "lakum diinukum waliya diin" (dad, your religion is yours and my
>religion is mine). Dengan kata lain, don't intervene in my business dad,
>mom!***
>
>Salam,
>
>Syamsi Ali
>
>
>
Sponsored Link
Mortgage rates near 39yr lows. $510,000 Mortgage for $1,698/mo -
Calculate new house payment