Salam dari Malassar ! Kemarin saya ditelepon oleh mas Sidik Pramono, wartawan KOMPAS yang mengaku dituduh oleh "Satria Kepencet" sebagai menerima santunan rutin dari seorang staf KPU supaya menulis reportase tentang KPU di harian KOMPAS sesuai dengan kehendak yang memberi santunan (beritanya ada saya baca di Harian FAJAR, Rabu, 4 Mei yang lalu). Mas Sidik menelepon untuk menegaskan bahwa beliau tidak pernah menerima uang seperti itu. Saya bilang bahwa saya juga ndak 100 % percaya dengan isi tulisan "Satria Kepencet". Terus kami ngobrol agak panjang juga di telepon, saya sangat appreciate mas Sidik yang telah jauh-jauh menelepon saya dari Jakarta dan mendiskusikan masalah e-mail "Satria Kepencet". Mas Sidik juga berusaha meyakinkan saya bahwa dimas Basuki Suhardiman telah berniat tidak baik terhadap Mas Sidik dan Harian KOMPAS dengan mem-forward tulisan "Satria Kepencet" ke mailing-list ITB dan ITB75. Wah, saya terus-terang tidak tahu apa niat dimas Basuki dalam hatinya ketika mem-forward e-mail-e-mail itu, tapi perbuatan dimas Basuki menerima e-mail kemudian mem-forward-nya ke mailing-list itu sama-sekali tidak ada salahnya (karena saya melakukan hal yang sama juga, ke mailing-list lainnya). Biasanya sih seseorang mem-forward e-mail ke mailing-list tujuannya untuk dibahas dan didiskusikan, supaya "rame" mailing-list- nya, gitu, lho! Tapi, 'kan dengan begitu, jadinya "fitnah" terhadap mas Sidik tersebar kemana-mana? Nama baiknya mas Sidik jadi tercemar gara-gara pem-forward-an e-mail Satria Kepencet itu. Lho, lho, ...... saya baru tahu bahwa wartawan Kompas itu bernama Sidik Pramono 'kan dari membaca FAJAR, dimas Basuki tidak pernah memberi-tahu, walau pun pernah saya tanyakan juga ..... Jadi kalo' yang disebut fitnah itu jadi tersebar ke mana-mana so pasti itu bukan perbuatan dimas Basuki. Silakan saja cari siapa yang menyebarkannya.... Tapi 'kan e-mail itu bisa di-down-load dari arsip-nya? Lha, iya, memang, tapi siapa yang men-down-load dan kemudian menyebarkannya, sampai dimuat di koran-koran, bahkan sampai akan berurusan dengan polisi segala? 'Kan bukan saya atau dimas Basuki? Orang itulah yang harus disebut sebagai "penyebar fitnah", lebih-lebih kalo' ybs. tahu bahwa isinya tidak 100 % benar, ya, tokh? Misalnya begini. Saya menemukan secarik kertas di pinggir jalan berisi tulisan yang menurut saya menarik. Tulisan itu saya fotocopy 10 lembar, saya bagikan pada keluarga dekat dan teman-teman untuk "dinikmati" bersama (karena menarik, ya, 'kan?). Kertas aslinya saya taro' di atas pohon, sehingga kalo' ada yang mau baca, ya silakan memanjat pohon..... Kemudian ada salah-seorang yang memanjat pohon itu, membaca tulisan itu, dan tahu persis bahwa tulisan itu berisi fitnah kepada seseorang. Kertas itu dia bawa turun lalu difoto-copy banyak-banyak, panggil press-release, perlihatkan pada semua orang, ini lho, ada fitnah di sini, mari kita sebarkan ke-mana-mana ...... Nah, kalo' mas Sidik yang terkena fitnah itu, siapa yang layak mas Sidik tuntut, saya yang naro' kertas itu di atas pohon, atau orang yang menurunkannya lalu teriak-teriak ke sana kemari itu??? Jadi, dimas Basuki (dan juga saya), sebetulnya hanya mem-fotocopy secarik kertas itu dalam jumlah terbatas, lalu "menyelamatkan" aslinya di atas pohon ...., di mana salahnya? Dari mana dimas Basuki atau saya tahu bahwa e-mail yang ditulis oleh Satria Kepencet itu berisi fitnah terhadap mas Sidik ??? 'Kan dari pemberitaan di detik.com dan suratkabar ??? Lantas, siapa yang membocorkannya ke sana ??? Itulah yang harus di-somasi abis-abisan dong, ta'iya? Lalu saya ceritakan juga kasus saya dengan Komisi Disiplin di UNHAs tentang "fitnah" kepada Rektor yang katanya saya sebarkan via mailing-list...... Memang mailing-list beda dengan media massa cetak. Di mailing- list tidak ada Pemred/Penjab-nya. Jadi tanggungjawab ya ada sama yang membaca. Mau dibaca kek, mau langsung di-delete, kek, mau di-forward, terserah ..... Percaya atau tidak percaya, mau cek and ricek, atau mau senyum-senyum saja, ya terserah..... Jadi kalo' gitu mailing-list bisa digunakan untuk menyebar fitnah dong......? Lha, iya, pisau dapur 'kan juga bisa dipake' membunuh orang? Baru saja ini, di mailing-list UNHAS ada seorang yang menamakan dirinya Ayu Budi menceritakan kejadian ada seorang dosen FISIP bernama DK telah mencoba memperkosa mahasiswi bimbingannya, lalu meninggalkannya begitu saja di hotel dalam keadaan kumat asmanya..... Tentu saja timbul komentar macam-macam, pak DK jelas telah tercemar nama-baiknya. Tapi untungnya cerita ini tidak sempat ada yang membocorkannya ke luar mailing-list. Kurang lebih sebulan kemudian, pak DK masuk ke mailing-list, lalu membuat klarifikasi yang cukup simpatik, sehingga akhirnya persoalan selesai. Para pelanggan mailing-list UNHAS dengan mudah bisa menilai, siapa yang bohong, Ayu Budi atau pak DK? Maka selesai-lah urusannya di situ. Jadi, kalo' urusan Satria Kepencet ini mau diselesaikan secara "elegan", saya sarankan pada mas Sidik begini. Tulis saja sebuah e-mail, mau pake' nama samaran juga seperti "Satria Kepincut" atau pake' nama sendiri, terserah...... terangkan dengan simpatik dan baik-baik, bahwa semua yang dibilang oleh Satria Kepencet mengena'i wartawan Kompas bernama "DIK" itu tidak benar alias bohong belaka. Kirimkan ke dimas Basuki, dan minta tolong baik-baik supaya di-forward ke mailing-list ITB dan ITB75 seperti yang dilakukan oleh dimas Basuki sebelumnya terhadap e-mail "Satria Kepencet"....... biarkan roda berputar terbalik sekarang. Itu namanya menggunakan "hak jawab" dalam mailing-list. Yakinlah bahwa nama baik mas Sidik akan pulih dengan sendirinya, tidak usah pake' urusan dengan polisi segala, somasi-somasian, ngabis- ngabisin energi yang tidak perlu.... padahal masih banyak persoalan yang jauuuuh lebih besar daripada sekedar nama baik mas Sidik saja sih, yah, 'kan? Prinsipnya: Apa yang terjadi di mailing-list, ya selesaikan di mailing-list, dong...... begitu saja (Banyak yang melupakan prinsip ini, sehingga bertindak "ngawur", kontra- produktif dan akhirnya merugikan diri sendiri). Tentu saja, yang pertama-tama musti dibongkar adalah assumsi dasar bahwa para pelanggan mailing-list itu orang yang picik dan bodoh semua sehingga bisa "ditipu" mentah-mentah oleh seorang Satria Kepencet yang tidak jelas juntrungannya....... 'Kan begitu, tokh? Mas Sidik akan menjadi tenang kembali kalo' ber-assumsi bahwa peserta mailing-list itu orang yang pintar-pintar semua, tahu membedakan mana yang sampah dan mana yang baik-baik.... Kapan jalan-jalan ke Makassar, mas Sidik? Dulu katanya bertugas di Makassar, yah! Wassalam, Rhiza rhiza@unhas.ac.id http://www.unhas.ac.id/~rhiza/