Punten lagi Pak Rhiza, ini tolong disampaikan sama Ibu Erna. Terimaksih.
Maaf Ibu Erna baru dibalasin lagi E_mailnya. Maklumlah BU....sebagai buruh kadang ada waktu, kadang tidak. Alhamdulillah sekarang lagi ada waktu.
DjazakumuLlah Khair ibu Erna atas kiriman suratnya, Masya Allah Ibu Erna telah banyak meluangkan waktu utnuk menulisnya. Saaya senang sekali membacanya, landong rindu.
Semoga Allah memberkati Ibu dan Keluarga dengan kesehatan dan kekuatan lahir bathin, Insya Allah.
Artikel itu saya dapat dari millis imsis, bagus juga sih kalau ibu Erna mau memperbanyak, lebih banyak orang tau, lebih baik, semoga bermanfaat. Insya Allah.
Di imsis saya angota tidak aktif, bisanya cuman menyimak atau pendengar yang setia....sebetulnya banyak sekali kegiatan di
imsis, dari menghafal Qur'an, usroh, diskusi masalah anak,, masak memasak, ceramah dari ustad di tanah air atau di Amerik, macam-macam lomba dari anak-anak, ibu-ibu dan bapa-bapak, masalah kesehatan dll. Sekarang lagi rame masalah poligami gara-gara AA Gym salah satu ustad yang tiap minggu mengisi acara langsung di imsis ini, kawin lagi. Umumnya sisters pada kecewa dan sedih susah menerima alasan yang dikemukakannya. Hususnya bagi yang lagi nulis ini......hehehe. Alhamdulillah banyak sekali manfaat yang saya peroleh. Alhamdulillah kita punya sisters yang jago-jago di bidangnya (computer, dokter, phsycolog, masak, dawah dll), mereka semua dengan suka rela memberikan ilmunya.
Wah bu Erna engga bisa saya bayangin kalau anak-anak dididik agama setelah besar.....ini saya rasakan setelah anak-anak pada besar, mungkin beda dengan ibu Erna, anak perempuan katanya lebih mudah diatur /di
ajak bicara. Saya ini seperti main layang-layang, kalau ditarik dia ngebetot, kalau diulur akan terbang jauh. Syukur Alhamdulillah karena dari kecil sudah ditanamkan aqidah, jadi engga terlalu sulit untuk mengingatkannya. Tidak sedikit anak-anak indonesia di Amerika pada ninggalin orang tuanya. Wallahu alam Bu.....mengepa begitu yang saya lihat hanya kesedihan dan kekecewaan ibunya. Mereka bertanya bagaimana saya mendidiknya.....Wooooomereka tidak tau betapa beratnya usaha , sabar dan do'a 24 jam untuk mereka. Semoga kita di karunia anak-anak yang amanah yah Bu.
Ini artikel dari kompas masalah poligami saya dapat dari imsis. sudah berhari-hari kami membahas masalah poligami, Saya bukannya tidak setuju poligami, tapi syarat yang berat itu harus dipenuhi dulu, konkritnya sangat-sangat darurat. Setuju Bu..... Sekian dulu yah, maaf suratnya kepanjangan .....Wallahu Alam apa yang akan terjadi.
Titip salam buat Rena, Dhika dan adak Muti, dan salam rindu teramat rindu buat sisters Jabar, ustazah Wardah dan sisters pengajian tamalanrea. maaf pake sisters supaya terasa mereka adalah .saudara saya. Insya Allah.....
http://www.kompas. com/kesehatan/ news/0305/
> > 13/061353. htm
> >
> > Benarkah Poligami Sunah..?
> >
> > * UNGKAPAN "poligami itu sunah" sering digunakan
> > sebagai pembenaran poligami.
> >
> > Namun, berlindung pada pernyataan itu, sebenarnya
> > bentuk lain dari pengalihan tanggung jawab atas
> > tuntutan untuk berlaku adil karena pada
> > kenyataannya,
> > sebagaimana ditegaskan Al Quran, berlaku adil sangat
> > sulit dilakukan (An-Nisa: 129).
> >
> > DALIL "poligami adalah sunah"
biasanya diajukan
> > karena
> > sandaran kepada teks ayat Al Quran (QS An-Nisa, 4:
> > 2-3) lebih mudah dipatahkan. Satu-satunya ayat yang
> > berbicara tentang poligami sebenarnya tidak
> > mengungkapkan hal itu pada konteks memotivasi,
> > apalagi
> > mengapresiasi poligami. Ayat ini meletakkan poligami
> > pada konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan
> > janda korban perang.
> >
> >
> > Dari kedua ayat itu, beberapa ulama kontemporer,
> > seperti Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rashid Ridha,
> > dan
> > Syekh Muhammad al-Madan-ketiganya ulama terkemuka
> > Azhar Mesir-lebih memilih memperketat.
> >
> > Lebih jauh Abduh menyatakan, poligami adalah
> > penyimpangan dari relasi perkawinan yang wajar dan
> > hanya dibenarkan secara syar'i dalam keadaan darurat
> > sosial, seperti
perang, dengan syarat tidak
> > menimbulkan kerusakan dan kezaliman (Tafsir
> > al-Manar,
> > 4/287).
> >
> > Anehnya, ayat tersebut bagi kalangan yang
> > propoligami
> > dipelintir menjadi "hak penuh" laki-laki untuk
> > berpoligami. Dalih mereka, perbuatan itu untuk
> > mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. Menjadi
> > menggelikan
> > ketika praktik poligami bahkan dipakai sebagai tolok
> > ukur keislaman seseorang: semakin aktif berpoligami
> > dianggap semakin baik poisisi keagamaannya. Atau,
> > semakin bersabar seorang istri menerima permaduan,
> > semakin baik kualitas imannya. Slogan-slogan yang
> > sering dimunculkan misalnya, "poligami membawa
> > berkah", atau "poligami itu indah", dan yang lebih
> > populer adalah "poligami itu sunah".
> >
> > Dalam definisi fikih, sunah berarti
tindakan yang
> > baik
> > untuk dilakukan. Umumnya mengacu kepada perilaku
> > Nabi.
> > Namun, amalan poligami, yang dinisbatkan kepada
> > Nabi,
> > ini jelas sangat distorsif. Alasannya, jika memang
> > dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya
> > sejak
> > pertama kali berumah tangga?
> >
> > Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama
> > bermonogami daripada berpoligami. Bayangkan,
> > monogami
> > dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap
> > poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW
> > bersama
> > istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA,
> > berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua
> > tahun
> > sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun
> > dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup
> > beliau. Dari kalkulasi ini,
sebenarnya tidak
> > beralasan
> > pernyataan "poligami itu sunah".
> >
> > Sunah, seperti yang didefinisikan Imam Syafi'i (w.
> > 204
> > H), adalah penerapan Nabi SAW terhadap wahyu yang
> > diturunkan. Pada kasus poligami Nabi sedang
> > mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai
> > perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak
> > yatim.
> > Dengan menelusuri kitab Jami' al-Ushul (kompilasi
> > dari
> > enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibn al-Atsir
> > (544-606H), kita dapat menemukan bukti bahwa
> > poligami
> > Nabi adalah media untuk menyelesaikan persoalan
> > sosial
> > saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup
> > kukuh untuk solusi.
> >
> > Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian
> > problem
> > sosial bisa dilihat pada teks-teks hadis
yang
> > membicarakan perkawinan-perkawin an Nabi. Kebanyakan
> > dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti
> > Abu Bakr RA.
> >
> > Selain itu, sebagai rekaman sejarah jurisprudensi
> > Islam, ungkapan "poligami itu sunah" juga merupakan
> > reduksi yang sangat besar. Nikah saja, menurut
> > fikih,
> > memiliki berbagai predikat hukum, tergantung kondisi
> > calon suami, calon istri, atau kondisi
> > masyarakatnya.
> > Nikah bisa wajib, sunah, mubah (boleh), atau sekadar
> > diizinkan. Bahkan, Imam al-Alusi dalam tafsirnya,
> > Rûh
> > al-Ma'âni, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika
> > calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi
> > hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan
> > mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami.
> > Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat
kondisi
> > Mesir saat itu, lebih memilih mengharamkan poligami.
> >
> > Nabi dan larangan poligami
> >
> > Dalam kitab Ibn al-Atsir, poligami yang dilakukan
> > Nabi
> > adalah upaya transformasi sosial (lihat pada Jâmi'
> > al-Ushûl, juz XII, 108-179). Mekanisme poligami yang
> > diterapkan Nabi merupakan strategi untuk
> > meningkatkan
> > kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada
> > abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang
> > perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga
> > seorang
> > laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka.
> >
> > Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi
> > praktik poligami, mengkritik perilaku
> > sewenang-wenang,
> > dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam
> > berpoligami.
> >
> > Ketika Nabi melihat
sebagian sahabat telah mengawini
> > delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta
> > menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang
> > dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi
> > RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan,
> > inilah
> > pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap
> > kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama
> > sekali.
> >
> > Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak
> > menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam
> > sebuah
> > ungkapan dinyatakan: "Barang siapa yang mengawini
> > dua
> > perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil
> > kepada
> > keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya
> > akan lepas dan terputus" (Jâmi' al-Ushûl, juz XII,
> > 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai
> > kesempatan, Nabi SAW
menekankan pentingnya bersikap
> > sabar dan menjaga perasaan istri.
> >
> > Teks-teks hadis poligami sebenarnya mengarah kepada
> > kritik, pelurusan, dan pengembalian pada prinsip
> > keadilan. Dari sudut ini, pernyataan "poligami itu
> > sunah" sangat bertentangan dengan apa yang
> > disampaikan
> > Nabi. Apalagi dengan melihat pernyataan dan sikap
> > Nabi
> > yang sangat tegas menolak poligami Ali bin Abi
> > Thalib
> > RA. Anehnya, teks hadis ini jarang dimunculkan
> > kalangan propoligami. Padahal, teks ini diriwayatkan
> > para ulama hadis terkemuka: Bukhari, Muslim,
> > Turmudzi,
> > dan Ibn Majah.
> >
> > Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau,
> > Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin
> > Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi
> >
pun
> >
> === message truncated ===
>
>To:
ifp-2005@yahoogroups.comFrom: "Moch. Firdaus" <
rmd1999@post.com>
Date: Mon, 04 Dec 2006 14:12:04 -0500
Subject: [ifp-2005]
Surat dr pemerhati HAM ibu rumah tangga pd AA Gym
Mohon tidak dibahas.
Surat Terbuka Untuk Aa Gym
Aa Gym yang terhormat,
Saya memang tidak secara pribadi mengenal Aa. Tapi
terus terang banyak nasehat nasehat Aa yang saya ambil
sebagai nasihat seorang yang benar benar Islam.
Sedikit latar belakang, saya cukup lama tinggal di
Swiss. Seperti kebanyakan negara di Eropa, ini negara
yang memiliki satu persepsi yang salah terhadap Islam.
Negara yang melihat Islam dari orang-orang Islam
kebanyakan, bukan dari Al Quran dan As-Sunah. Dan
bidang yang saya tekuni pun sungguh sangat jauh dari
Islam. Relatif sangat hedon sangat duniawi.
Tapi nasehat-nasehat Aa selalu saya gunakan
sebagai
sumber menjelaskan Islam kepada kaum hedonis. Nasehat
Aa universal, menyejukkan dan dapat diterima siapapun.
Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan
mulai saat ini adalah jargon yang Masya Allah, sangat
kuat pengaruhnya. Kepada semua yang bertanya pada saya
tentang Islam, saya ceritakan tentang Aa dan
nasehat-nasehat Aa. Saya ceritakan tentang Daarut
Tauhid dan bersihnya pesantren Aa. Ya, saya ceritakan
apa dan bagaimana Islam, lewat persepsi saya tentang
Aa dan keluarga besar Aa.
Yang paling saya ingat dari kata kata Aa adalah ketika
Aa megatakan bahwa Aa sangat tidak setuju dengan
istilah Islam Sunni dan Islam Syiah. Menurut Aa, Islam
itu satu. Islam itu, ya Islam saja. Selama berpijak
pada Al Quran dan Sunnah, itulah Islam.
Surat ini adalah ucapan terimakasih saya pada Aa yang
selama ini telah menginspirasi saya untuk menerangkan,
apa dan bagaimana Islam sebenarnya. Sungguh Aa banyak
berperan dalam pemahaman banyak teman-teman Eropa saya
tentang Islam yang selama ini salah kaprah.
Mmm, ngomong ngomong, katanya Aa menikah lagi ya ?
Maksudnya, untuk yang kedua kalinya, begitu. Dengan
mantan foto model ya A’? Wah, kalau begitu melalui
kesempatan ini saya ucapkan selamat ya A’. Mudah
mudahan Allah mengkaruniai Aa dan istri kedua Aa’ anak
anak yang shalih dan shalihah, mampu menjadi penerus
perjuangan Islam kelak.
Saya mendengar berita tentang menikahnya Aa’ dari
email email yang saya terima. Wah, banyak sekali lo
yang membicarakan Aa’. Dan istri kedua Aa’, tentu
saja. Mereka kebanyakan membicarakan tentang
pernikahan kedua Aa’ ini. Banyak yang menyayangkan,
kenapa Aa’ harus
beristri lebih dari satu. Sama mantan
foto model pula. (Hihihi, pada iri tuh A’, sama Aa’.
Soalnya Aa’ bisa dapat istri cantik. Dua orang lagi
!). Saya sih jarang ikut ikutan sama obrolan itu.
Menurut saya sih nggak penting banget. Itu kan urusan
keluarga aa’.
Eh, tapi, beneran lo A’, kayaknya banyak fans Aa’ yang
energinya habis terkuras untuk memikirkan Aa’. Kakak
saya aja mukanya cemberut terus, waktu saya tanya
kenapa, dia bilang sedih karena Aa’ menikah lagi. Wah,
A’, kalau yang berpikir seperti itu ratusan orang,
berapa banyak energi yang terbuang dan berapa banyak
efektifitas dan produktifitas yang tertunda ya, A’?
Jauh sekali dari ajaran Aa’ yang selalu menekankan
produktifitas, dan hanya melakukan sesuatu yang
merupakan solusi.
Saya sih tidak mengerti apapun tentang poligami, A’.
Sama sekali. Tapi yang saya tahu betul, kalau orang
yang benar benar saya cintai harus membagi cintanya
dengan orang lain
ya saya pasti sulit untuk benar
benar rela. Tapi saya bukan teh ninih yang pemahaman
dan keikhlasannya menjalani agama sudah mencapai level
yang, wah, tidak terkira. Sudah terbuka matanya akan
akhirat, dan tidak tertarik beliau pada dunia lagi.
Saya juga tidak bisa rela jika ayah saya menikah dan
memasukkan perempuan lain, apalagi mantan foto model,
dalam kehidupan kami. Jangankan ayah saya sendiri.
Waktu kakak laki-laki saya menikah saja saya agak
sedih, rasanya seperti kehilangan seorang kakak karena
dia pasti akan membagi cintanya yang sebelumnya ia
berikan pada saya, menjadi pada istrinya. Tapi, ya,
saya bukan salah seorang anak Aa’ dari yang tujuh
orang itu. Anak anak Aa’ benar benar anak anak yang
mulia. Tabah sekali ya mereka.
Tapi yang saya sangat salut tentu saja kepada Aa’. Aa’
benar benar berani untuk memperpanjang waktu hisyab
aa’ di Padang Mahsyar, karena, ya, istri aa’ kan dua.
Jadi pertanggung jawabannya juga dua kali dong. Ya kan
? Logikanya kan begitu. Sama dengan orang miskin,
mungkin tidak akan lama waktu di pengadilan Allah
nanti. Karena, lha apa yang mau di lihat? Harta aja
hanya segitu segitunya. Kalau orang kaya pasti
ditanya, mobil dari mana, rumah dari mana, piano dari
mana.
Tapi InsyaAllah aa’ mah pasti bisa melewatinya.
Ah, sudah dulu ah A’. Saya menulis ini karena saya
sudah jenuh membaca postingan orang tentang Aa’. Gak
penting banget. Itu kan urusan keluarga Aa’. Saya
memilih langsung mengucapkan selamat pada Aa’, karena
seperti kata aa’, seandainya itu menjadi sebuah
solusi, ya silakan saja. Tapi kalau tidak, malah buang
buang energi, malah membudidayakan ghibah,
malah
memperuncing perbedaan dalam Islam, malah membuat
produktifitas pembuat berita berkurang, ya buat apa
saya ikut ikutan. Ya kan, A’?
Rina Komaria
Pemerhati Hak Asasi Manusia dan Ibu Rumah Tangga
Tinggal di Jakarta
>
>
> test'; ">
>
> >
>
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
- Dengarkan Mutiara Qalbu Live tiap Minggu sore 6:00 - 7:00 PM EST di Radio Imsa
atau via Telebridge dial-in Number:
(605) 772-3200, access code: 1045291#
- Perlu dukungan Imsa