[Warning! Mohon maaf, e-mail ini puuannjang sekale, karena menceritakan "kronologis" dalam kurun waktu sekitar sebulan. Perlu "kesabaran" untuk membacanya.....] Salam dari Makassar! Pada mulanya adalah sebuah SMS dari teman saya Bastian Jabir yang sedang mengikuti pelatihan di Bandung. Katanya ITB membuka peluang untuk pencalonan Rektor baru karena Rektor lama diangkat jadi menteri. "Barangkali Bapak berminat mencalonkan diri.....?" SMS-nya langsung saya balas: wah, saya ndak merasa cukup kompeten untuk mencalonkan diri. Sebab beberapa hari sebelumnya saya juga pernah terima SMS dari teman lain di Jakarta, yang menawarkan lowongan staf ahli di salah satu kementerian, saya juga menolak dengan halus karena tidak merasa kompeten. Saya malah merekomendasikan teman-teman lain yang saya tahu jauh lebih kompeten dan profesional di bidangnya yang sesuai. Tapi pengumuman Panitia Pemilihan Rektor ITB ternyata di-posting dengan menarik di mailing-list IA-ITB. Sifatnya undangan untuk mengajukan lamaran, bukan untuk mencalonkan diri. Persyaratan formal untuk melamar cuma tiga: Warga Negara Indonesia, sehat jasmani dan rohani, dan menyelesaikan sekolah sampai S3 (Doktor). Tiba-tiba kok muncul perasaan "terundang". Saya coba kontak e-mail dulu, menanyakan apakah pelamaran bisa dilakukan via e-mail. E-mail saya ternyata dijawab dengan surat No. 01 (berarti surat pertama yang dikirim oleh Panitia) oleh Sekretaris Panitia Dr. Benno Rahardyan. Jawabannya boleh melamar via e-mail, tapi berkas aslinya yang ditandatangan harus dikirim via pos. OK. Saya pikir-pikir, Panitia pasti memerlukan lamaran yang datang dari luar ITB untuk menunjukkan bahwa proses pemilihan Rektor ini memang terbuka untuk siapa saja. Kemudian proses awal pemilihan akan dilaksanakan pada sekitar Lebaran, dan kami sekeluarga memang punya rencana berlibur panjang Lebaran di Bandung. Jadi daripada libur menganggur, setidak-tidaknya ada alasan kuat untuk "memperpanjang" liburan. Lagipula bisa jadi surprise untuk keluarga dan teman-teman lama yang mungkin sudah pada lupa sama saya ....... Diam-diam saya update CV saya, lalu dengan surat lamaran saya kirim via e-mail ke Panitia, sedangkan aslinya saya kirim via Pos Kilat Khusus. Beberapa hari kemudian, ketika saya pulang dari kantor, mamanya anak-anak tiba-tiba bilang, tadi ada telepon dari ITB, emangnya mencalonkan jadi Rektor, yah? Wah, terbuka nih "rahasia kecil"-ku .........hehehe, saya cuma kirim CV dan surat lamaran, kok ..... Ada pesan dari Panitia, disuruh men-down- load format CV dan surat pernyataan kesediaan dari http://www.itb.ac.id/ Besoknya saya check, ternyata memang sudah tersedia format CV dan surat pernyataan kesediaan (bukan surat lamaran). Tidak terlalu jauh beda dengan yang sudah saya kirim (jangan-jangan Panitia memang mendapat idea tentang format CV dan surat pernyataan itu setelah menerima berkas dari saya......hehehe). CV-nya harus diberi pasfoto, sedangkan surat pernyataannya harus ditandatangani di atas meterai, lalu berkas harus dilengkapi dengan fotocopy KTP dan fotocopy ijazah Doktor plus akreditasinya dari DIKTI. OK, no problem, saya kirim ulang via Pos Kilat Khusus. Setelah itu saya ber-konsentrasi menyelesaikan tugas-tugas pokok di kampus sebelum ditinggal lama untuk liburan Lebaran. H-2 kami sudah "ciao" dari Makassar. Lebaran pertama kami di Bogor, baru H+1 malam hari sampai di Bandung. Koran lokal Pikiran Rakyat di Bandung baru terbit H+3. Setelah itu hampir setiap hari selalu ada berita tentang proses Pemilihan Rektor ITB di koran. Tapi Prof. Gede Raka - Ketua Panitia - tidak menyebut nama, karena masih terus menunggu nama-nama yang dicalonkan oleh MWA (Majelis Wali Amanah) dan Senat ITB. Waktu lebaran itu saya sempat ketemu dengan cewek-cewek EL'75: Tola (Tolangowati Olii), Lolly (Amalia Abdullah) dan Amy (plus misuanya si Mas Bob yang setia, Setiadi, EL'73). Ngobrol-ngobrol sedikit tentang pemilihan Rektor ITB, tapi jelas mereka belum tahu bahwa saya juga melamar ...... hehehe. Saya nggak mau "rahasia" ini terbongkar di antara teman-teman sebelum waktunya. Namanya juga mau bikin "kejutan", 'kan, yah? ..... Tapi malamnya datang SMS dari Tola, eh, mudah-mudahan aplikasinya ke pemilihan Rektor diterima...., kata Tola. Hehehe, kaya'nya mas Donny-nya Tola anggota MWA atau Senat ITB, atau malah Panitia (???) makanya Tola dapat info tentang lamaranku (Tola memang selalu dapat info mutakhir tentang apa saja....., calon Menkominfo kita!). Untung Tola tahunya baru malamnya, kalo' dari sore harinya dia sudah tahu tentu saya sudah "diadili abis" oleh teman-teman ....hehehe....syukur...syukur....! Anyway, sampai hari Selasa malam tanggal 23 November 2004 kami meninggalkan Bandung, Pikiran Rakyat belom memuat nama-nama calon nominee. Sudah H+7, "kejutan" yang diharapkan muncul waktu Lebaran tidak terjadi, demikian juga tidak ada alasan untuk memperpanjang liburan di Bandung. Tapi, pagi-pagi hari Rabu tanggal 24 November 2004, pas hari ulangtahun si sulung Rena, kami waktu itu ada di Bogor, kakak ipar dari Bandung kirim SMS,...... nama-nama calon nominee diumumkan di Pikiran Rakyat..... surprise! Kenapa nggak cerita-cerita sebelumnya? Hehehe, ada SMS dari mas Prof. Aatje (SI'79), dari teman-teman lain juga, surprise.... surprise...surprise! Saya kirim SMS ke teman saya Bastian Jabir yang waktu itu dalam perjalanan dari Makassar ke Bandung, supaya sesampainya di Bandung segera cari Pikiran Rakyat (PR) hari itu ...... bagaimana pun ini awalnya gagasan dari dia, tentu saja dia senang..... Hari Rabu siang itu saya memang ada rencana mau ke Jakarta naik KRL. Di setasiun Bogor saya cari koran PR nggak nemu. Pas di atas KRL, Tila (Yetty Rosila Hadi, PL'75) menderingkan HP-ku, langsung menyemprot: "Rhiz, kamu serius mau jadi Rektor???" Hehehe...... saya ndak bisa jawab karena bising sekali di atas KRL, ndak bisa komunikasi dengan HP. Di Jakarta saya sempat ketemu dengan beberapa aktivis PKS, tapi mereka pun - karena ndak baca koran PR - belom tahu bahwa saya melamar jadi calon nominee Rektor ITB. Sampai kembali ke Bogor, saya masih tetap menyimpan baik-baik "rahasia" ini dari teman-teman di Jakarta....... Besoknya hari Kamis, 25/11, kami jalan- jalan ke Depok, menengok anak kami Dhika di kampus-nya. Ketika jalan-jalan di kampus UI, tiba-tiba HP berdering, ada telepon dari Dr. Benno, sekretaris Panitia. Dia tanya apakah saya terlibat tuntutan Pidana atau Perdata...... saya bilang tidak. Saya minta maaf saya lagi di perjalanan, hari Sabtu paling cepat saya baru ke kantor lagi di Makassar. OK, no problem ....... Hari Jum'at siang keesokan harinya kami baru berangkat pulang ke Makassar. Di terminal bus DAMRI Bogor sebelum berangkat ke bandara, saya nemu koran PR hari Rabu yang memuat nama-nama calon nominees. Di situ baru saya tahu nama-nama ke-17 orang calon nominees. Wah, ternyata semuanya alumni dan semuanya laki-laki......! (Saya pikir, seandainya ada cewek yang mencalonkan atau dicalonkan jadi nominee, misalnya mBak Tati Mengko, Dekan FTI, EL'72, pasti beliau yang akan terpilih, yang lain sih silakan "menyerah" saja. Hehehe, di ITB sejak dulu - entah sekarang - cewek sangat dihormati, sehingga kalo' ikut pemilihan apa saja, hampir dipastikan pasti menang). Koran PR menyebut ada 5 orang dari "luar" ITB, karena Satryo yang notabene Gurubesar ITB dimasukkan sebagai orang "luar". Orang "luar" lain selain saya adalah Hans (TM'74, yang dulunya peneliti di BPPT, tapi mungkin sekarang ikut mertua di Maryland, AS), Dadan (TI'74, Ketua LP-nya Usakti) dan satu lagi Dirut-nya SCTV (???). Tapi Prof. Raka menyatakan puas kok dengan ke-17 calon nominees tersebut.....! Dalam perjalanan ke Makassar (waktu itu, alhamdulillah, belom musimnya pesawat- pesawat yang tergelincir, ..... kami kebetulan juga naik Lion Air, lho......!!!) saya pikir-pikir dan hitung-hitungan tentang "peluang" yang mungkin saya punya dalam "race" ini ..... hehehe, ternyata NOL besar. Semua jalur yang saya bisa akses sudah tertutup oleh nominee lain ...... Jalur pimpinan formal ITB, misalnya, sudah pasti dibagi abis oleh para Wakil Rektor dan Ketua Senat. Jalur "pinisepuh" sudah diambil oleh Prof. Harsono (dosen Kontek-ku waktu TPB) dan pak Iftikar (kalo' nggak salah inget, beliau pernah ngajar Manajemen Industri dan/atau Ekonomi Teknuik di Elektro, yah??? Maklum dulu aku termasuk tukang "bolos"......, hehehe, jadi sorry kalo' inget-inget lupa). Jalur angkatan '75 sudah tertutup oleh Satryo (saya juga mendukung Satryo jadi Rektor, sebab saya rasa dia perlu menunjukkan contoh aktual bagaimana konsep-konsep yang selama jadi Dirjen dia susun bisa di-realisasi-kan..........). Jalur aktivis '78 ditutup oleh Hans (Falatehan Siregar) dan Dadan. Jalur alumni UW-Madison dan Permias juga ditutup oleh Hans. Jalur departemen EL, ditutup oleh Isnuwardianto yang (mantan? atau masih?) Ketua Departemen. Jalur mantan Isnetters ditutup oleh akhi Taufikurahman yang dulu di Isnet populer dengan sebutan akhi "Taura" ......... Dr. Nganro, Ketua LAPI ITB, kalo' lihat namanya kaya'nya sih orang Sulsel, yah....? Berarti jalur provinsi juga tertutup abis. No chance! Tapi 'kan tujuan saya memang cuma mau bikin "surprise" untuk keluarga dan teman-teman lama, serta membantu Panitia menunjukkan bahwa proses penjaringan nominees sudah dilakukan secara terbuka. Ikut berpartisipasi meramaikan, begitulah niatan awalnya, supaya latar-belakang para nominees bisa cukup bervariasi. Saya sudah senang kok diterima jadi nominee. Kalo' beneran jadi Calon Rektor sih bisa-bisa malah jadi "musibah" untuk saya pribadi, apalagi kalo' jadi Rektor beneran ......! Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ......! Hari Jum'at malam kami tiba di rumah di Makassar, yang telah ditinggal kosong selama dua minggu lebih. Tentu saja berantakan abis..... Jadi hari Sabtu-nya saya ndak sempat ke kantor, ndak sempat akses Internet lihat e-mail yang pasti pating-sliweran memberi komentar tentang ke-17 nominees ........Sudah kebayang pasti ada komentar di mailing-list ITB'75 dan UNHAS......! Sedangkan via SMS aja sudah banyak komentar masuk. Yang paling "pas" di antara komentar via SMS datang dari teman saya dokter Mahmud yang di-forward ke saya oleh Bastian. Kata beliau, bahwa sepertinya saya cuma mau "get the feeling", sama sekali bukan mau "get the job"! You're absolutely right, pak Mahmud! Hari sabtu sore, menjelang maghrib, lagi enak-enak istirohat setelah seharian beres-beres rumah, tiba-tiba ada telepon dari Panitia. Seorang ibu-ibu bilang bahwa pengumuman nominees yang sedianya akan dilakukan paling lambat jam 16:00 hari itu terpaksa diundur karena menunggu masuknya surat pernyataan tidak dalam tuntutan Hukum Pidana/Perdata, tinggal dari saya saja yang belom masuk...... walah, walah,.... sorry, saya kira tadinya cukup dengan pernyataan lisan saja. Gimana dong, hari Sabtu sore begitu tidak ada kantor pos buka - kecuali barangkali Kantor Pos Besar Makassar, tapi harus ke kota....! OK-lah kalo' gitu ndak usah pake meterai dulu, langsung di-fax sekarang juga surat pernyataannya, ditulis tangan dan ditandatangan tanpa meterai. Konsepnya di-dikte-kan ibu itu via telepon, harus mencantumkan nomer KTP dan nomer SIM segala, hehehe..... aneh-aneh aja yah. Saya ikuti aja sesuai instruksi, terus abis salat maghrib, saya pergi ke Wartel, nge-fax-in itu surat pernyataan supaya Panitia bisa segera mengumumkan daftar nominee sore itu juga, sesuai jadwal. Aduuuh, hampir saja ter-eliminasi gara-gara satu surat pernyataan yang simple begitu.... Hari Senin-nya Surat Pernyataan yang "resmi", pake' meterai dan diketik rapi, saya susulkan via Pos Kilat Khusus. Hari Senin itu juga saya baru sempat nge-browse lagi di Internet - setelah "puasa" ndak ng-Internet sama sekali selama dua minggu lebih -, dan baca komentar-komentar di mailing-list...... baru saya tahu (dari chatting di mailing-list itb75, seperti yang ditulis oleh Udji dan teman-teman lain) bahwa sejak semula Satryo juga bersedia dicalonkan (kalo' saya tahu sejak awal mungkin saya tidak akan mengirim CV segala........sorry ya Sat!). Lalu ada SMS dari Ibu Mega Santoso - salah seorang anggota panitia kaya'nya, nanyain apa kalo' saya diundang oleh Panitia ke Bandung hari Senin tanggal 6 Desember kira-kiranya ada waktu nggak? Saya bilang Insya Allah bisa diusahakan, kalo' memang diperlukan oleh Panitia. Tapi, eh, cuaca di selueuh Indonesia mulai Senin sore itu terus memburuk, Lion Air selip tergelincir di Solo. Di Makassar, Bouraq dan F-16-nya AURI juga tergelincir...... untung nggak ada korban. Wah, jadi pikir-pikir juga kalo' harus terbang ke Bandung nih.... Saya tanya via e-mail ke Panitia mengenai urgensi-nya pertemuan hari Senin, 6 Desember .... Dibalas oleh Panitia dengan mengirim undangan resmi, pertemuan 1 jam dengan Panitia, untuk "berkenalan lebih jauh" .......wah, kalo' sekedar ketemu satu jam, untuk berkenalan lebih jauh (bukannya lebih dekat) sih, mendingan ta'telepon aja deh. Menurut pra-kiraan cuaca, tanggal 6 Desember itu bakalan lebih buruk dari sebelumnya...., ooh, seraaam! Landasan di Bandara Hasanuddin memang rencananya mau di-up-grade, tapi masih sekedar wacana..... Kalo' tergelincirnya ke arah timur sih nggak apa-apa (seperti yang dialami sang Bouraq dan F-16 itu), karena sebelah sananya landasan cuma lapangan terbuka......Nah, kalo' tergelincirnya ke arah barat, ada kabel transmisi tegangan tinggi dan jalan raya poros Trans Sulawesi melintang di depannya. Nggak kebayang apa yang terjadi..... Sedangkan di Solo yang "hanya" menghantam kuburan aja bisa kaya' gitu.... Hari Senin tanggal 6 Desember tepat pada jam yang ditentukan, saya rencanakan akan telepon aja ke Hotel Bumi Sawunggaling, mudah-mudahan Panitia mau ber-"tele- conference" dengan saya untuk berkenalan lebih jauh dari "jarak jauh"...... Ah, seandainya bisa pake' VOIP aja tentu bisa lebih murah yah ........ Oh, ya, seandainya dipersiapkan lebih baik, bisa pake' fasilitas-nya proyek Jepang SOI, pake' "video-conference", ...... asyik juga yah ...... sayang sekali nggak kepikir dari awal. O, ya, selain surat pernyataan bebas tuntutan PIDANA/PERDATA, para nominees juga diminta menulis satu halaman ukuran A4 (1 spasi, font size 10 pt.) suatu pemikiran tentang ITB. Tulisan ini harus dikirim via e-mail dan diterima Panitia paling lambat tanggal 4 Desember 2004. Cepet-cepetan saya nulis tulisan yang ta'kasih judul agak "provokatif": "ITB: DARI TH KE BH MILIK SIAPA?" lalu saya kirim soft-copy-nya ke Panitia. Katanya tulisan ini akan di-"kept secret" sampai tiba saatnya nanti dibaca oleh MWA. Nah, karena saat ini MWA mestinya sudah/sedang rapat pleno membicarakan nominees mana yang akan di-eliminasi (mamanya anak-anak bilang, kok kaya' kontes AFI aja yah?), dan kemungkinan besar saya juga sudah diputuskan termasuk yang ter-eliminasi, maka copy tulisan itu saya tayangkan di bagian akhir "kronologis" ini, untuk kita nikmati bersama. Hari Senin pagi itu ndilalah kersaning Allah kok ya cuaca di Makassar cerah, sama sekali tidak buruk sebagaimana yang dipra-kira-kan. Jadi ketika tepat jam 10:00 WIB (11:00 WITA) menelepon HP-nya ibu Mega (kedengarannya waktu itu sessi interograsi salah-seorang nominee sedang berlangsung), saya harus mencari alasan yang lain untuk menjelaskan ketidak- hadiran saya di Bandung pagfi itu sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Alasan lainnya adalah karena saat ini di UNHAS lagi menjelang wisuda, sehingga banyak mahasiswa bimbingan yang mengejar sidang sarjana akhir tahun ini. Tapi saya buru-buru tambahkan - seolah-olah alasan ketidak-hadiran itu tidak penting - yang penting, walau pun saya tidak hadir, tapi saya tetap standby setidaknya dalam waktu sejam itu, siap ditelepon oleh siapa saja yang mau mengenal saya lebih jauh ...... Saya menunggu, beberapa menit kemudian Dr. Benno menelepon, tapi hanya memastikan bahwa saya memang masih di Makassar dengan alasan seperti itu tadi yang saya katakan kepada ibu Mega. Sampai sejam kemudian saya menunggu, tetap tidak ada telepon dari Bandung. Alhamdulillah, berarti dengan begitu saya sudah ter-eliminasi untuk mengikuti babak selanjutnya dari proses pemilihan ini.......... rasanya lega! Senin malamnya ada acara halal-bi-halal IA-ITB Sulsel. Kebetulan lagi ada Tim Kemitraan Nusantara dari ITB yang dipimpin oleh mas Budi Dharma (AR'74), mantan atlit PON jaman dulu..... Dalam tim itu ada juga mas Muslinang Moestopo, mantan "KaBULOG"-nya ITB yang baru saja resigned. Kami dulu sama- sama di UW-Madison. Teman-teman cukup "meramai-ramaikan" saya jadi calon Rektor ITB, hehehe, padahal cuma jadi salah-seorang nominee saja ....... Hehehe, saya sih tenang-tenang saja karena sudah tahu akan ter-eliminasi dalam Pleno MWA hari ini.... Demikianlah, kronologi "kejutan lebaran" yang telah saya buat. Saya berharap kita semua cukup terhibur dengan "kejutan" ini, yang jelas saya sendiri sangat senang bisa mendapat kesempatan yang langka seperti ini. Mudah-mudahan tidak ada yang jadi tidak senang atau sakit hati....... saya sama-sekali tidak bermaksud untuk menyakiti siapa pun, sebaliknya, saya hanya mencoba membuat semacam "hiburan" pelipur lara, entertainment, amusement... Tetapi, just in case, mumpung juga masih bulan Syawal...... saya mohon maaf lahir dan bathin, yah....., pada semua teman- temin yang membaca e-mail ini ..... Terimakasih pada teman Bastian Jabir yang pertama kali punya idea-nya, pada teman-temin yang telah serius memberikan support dan semangat..... kepada Panitia Pemilihan yang telah sangat baik melayani, pada semua nominees baik yang sama-sama ter-eliminasi mau pun yang terus menjadi bakal Calon, saya ucapkan selamat berjuang. Terutama untuk Satryo yang jadi favorit saya, good luck, and have a nice job, hehehe......take good care of ITB, ya, Sat, supaya terus bisa dinikmati oleh anak-cucu kita...... Sekian, ...... terimakasih. Wassalam, Rhiza rhiza@unhas.ac.id http://www.unhas.ac.id/~rhiza/ Lampiran: Tulisan satu halaman tentang ITB ITB: DARI TH KE BH MILIK SIAPA? oleh: Rhiza S. Sadjad e-mail: rhiza@unhas.ac.id URL: http://www.unhas.ac.id/~rhiza/ Ketika berdiri sebagai TH sekitar 85 (delapan puluh lima) tahun yang lalu, lembaga pendidikan tinggi ini punya misi yang jelas, yaitu melayani kepentingan pemerintah kolonial untuk menyediakan tenaga ahli dan trampil dalam bidang keteknikan, khususnya teknik bangunan. Pendirian TH di Bandung adalah juga merupakan bagian dari politik balas budi Belanda, satu "paket" dengan pendirian sekolah tinggi kedokteran di Batavia, pamong-praja di Surabaya, pertanian dan kedokteran-hewan di Buitenzorg, kemudian menyusul sekolah-sekolah keguruan di Bandung, Salatiga dan Manado. Bahwa kemudian dari TH ini muncul seorang Ir. Soekarno, yang menjadi proklamator Indonesia Merdeka, tentu sama sekali di luar perhitungan politik Belanda. Era tahun 1950-an ditandai dengan tergabungnya lembaga pendidikan tinggi ini ke Universitas Indonesia, maka terjadilah "nasionalisasi" besar-besaran yang ditandai oleh dipulangkannya dosen-dosen berkebangsaan Belanda kembali ke negerinya. Pada awal tahun 1960, barulah lembaga ini resmi berdiri sebagai ITB dengan cita-cita "terselubung" ingin menjadikannya se-kaliber MIT di Amerika Serikat, atau TH Delft di Negeri Belanda atau TU Berlin, dan sebagainya. Ketika rezim berganti dari Orde Lama ke Orde Baru, semboyan "politik jadi panglima" berganti jadi "pembangunan (ekonomi) jadi panglima". Peran ITB sebagai lembaga pendidikan tinggi sebenarnya agak "termarjinalisasi" pada era Orde Baru (dibandingkan UI misalnya, yang pakar-pakar ekonominya sempat "menguasai negara"), bahkan seperti semua lembaga pendidikan tinggi di negeri ini waktu itu, ITB pun pelan-pelan terpaksa di-"bonsai" untuk sekedar menjadi bagian dari mesin birokrasi pemerintahan belaka. Lebih-lebih setelah terjadi peristiwa menjelang Sidang Umum MPR 1978, ketika kampus ITB sempat diduduki oleh tentara selama sekitar 3 bulan, buntut-nya muncul kebijakan "Normalisasi Kehidupan Kampus" (NKK), maka lengkaplah sudah keterpurukan lembaga pendidikan tinggi seperti ITB dalam bayang-bayang birokrasi dari rezim yang berkuasa. Padahal di belahan bumi lain, sekolah-sekolah yang "mirip" dengan ITB, seperti Indian Institute of Technology (IIT), Tokyo Institute of Technology (TIT), Royal Melbourne Institut of Technology (RMIT), Asian Institute of Technology (AIT), dan sekolah-sekolah serupa di Cina dan Korea, bahkan juga di Taiwan dan Thailand, terus berpacu dengan peningkatan kualitas dalam rangka menghadapi era peradaban baru: era informasi global. ITB semakin tidak "berbunyi" di dunia akademik internasional, sementara di dalam negeri ia masih jadi "panutan", contoh-teladan dan rujukan sebagian perguruan tinggi di negeri ini. Jadi bisa dibayangkan, kalau ITB saja terpuruk, apatah lagi yang lain. Sistem pendidikan tinggi nasional pelan-pelan - tapi pasti - memasuki era keterpurukan yang dalam...... ] Bersamaan dengan sandhyakala ning Orde Baru, muncullah kesadaran di kalangan akademika di negeri ini bahwa keterpurukan itu harus dilawan, kalau tidak ingin sistem pendidikan tinggi di negeri ini berangsur-angsur collapse total. Kalau tidak bisa semua diselamatkan sekaligus, minimal beberapa di antaranya bisa diselamatkan terlebih dahulu. ITB, bersama-sama dengan UI, IPB dan UGM, diperlakukan berbeda dengan perguruan tinggi lainnya di negeri ini. Pada mulanya keempatnya dicoba dijadikan Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Sasaran pertamanya untuk meningkatkan akuntabilitas. Perguruan tinggi adalah lembaga sosial yang menggunakan dana masyarakat yang dikumpul melalui SPP mahasiswa dan cara-cara lain. Maka pertanggung- jawaban pengelolaan suatu perguruan tinggi selayaknya harus dilakukan langsung kepada masyarakat. Selama ini, sebagai bagian dari birokrasi, perguruan tinggi negeri mempertanggung- jawabkan pengelolaannya ke pemerintah, sedangkan perguruan tinggi swasta ke yayasan yang "memiliki"-nya. Sungguh tidak fair bagi masyarakat yang membiayai pengelolaan pendidikan tinggi ini, baik yang membiayai langsung (menjadi stakeholders) mau pun yang melalui pembayaran pajak. De-birokratisasi perguruan tinggi juga diperlukan untuk membangun otonomi perguruan tinggi yang bersangkutan. Sebab tanpa otonomi, mustahil akan terbangun dan berkembang tradisi-tradisi akademik yang sehat, yang pada akhirnya kelak akan meng-kristal menjadi kultur akademik yang universal. Tinggal satu tanda-tanya. Ketika kelak ITB benar-benar jadi beroperasi secara otonom sebagai suatu Badan Hukum (BH), lantas kepada siapa akan dinisbatkan kepemilikan BH ini? Kepada pemerintah menjadi BHMP? Atau kepada Negara menjadi BHMN? Atau kepada masyarakat menjadi BHMM? Yang paling mengkhawatirkan adalah jika pada prakteknya ternyata ITB ini menjadi BH milik sekelompok kecil orang, apakah itu berlabel "elite" tertentu, atau "kelas" tertentu, atau "korporasi" dan "pemilik modal" tertentu, atau bahkan "kasta", "ethnis" atau "ras" tertentu. Seharusnya, dengan beroperasi sebagai lembaga pendidikan tinggi yang otonom dan independen, ITB - sebagaimana layaknya suatu sistem pendidikan tinggi "standar" - bisa menjadi BH milik peradaban di muka bumi ini, melayani kemanusiaan yang universal, demi kemashlahatan kehidupan ummat manusia. Dan menjadi rahmat bagi sekalian alam....!