To: itb75-res@yahoogroups.com Subject: Dari Masa ke Masa.............. Cc: iatel-unhas@yahoogroups.com, unhas-ml@yahoogroups.com Bcc: Dhika Sadjad , Renata Sadjad , ina mab Salam dari Makassar ! Tadinya saya mau "diam-diam" saja ............, tapi lama-lama kok kepingin juga menulis sedikit tentang berbagai kehebohan yang terjadi belakangan ini. Akhirnya jadi juga tulisan yang - maaf - agak "asal-asalan" - sekedar ungkapan isi hati - seperti di bawah ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya .........., sorry kalo' seandainya ada yang tidak berkenan, yah.... Wassalam, Rhiza rhiza@unhas.ac.id http://www.unhas.ac.id/~rhiza/ DARI MASA KE MASA ................ Salam dari Makassar ! Ada suatu masa, ketika orang yang salat berjamaah di Aula Barat ITB (waktu itu belom ada Masjid Salman, tentu saja) mendapat ejekan dan cemoohan dari teman-teman mereka sendiri, yang menganggap agama (dan segala amal perbuatan yang bernilai ibadah) sebagai ke-kuno-an yang kampungan .......... Ada suatu masa, ketika para wanita yang menutup aurat mereka dengan jilabab, memakai kerudung menutupi rambut, diejek sebagai "ke-Arab-Arab-an", karena menurut para pengejek, berpakaian adalah bagian dari "budaya", ..... bukan amal perbuatan yang bernilai ibadah, bukan perintah Tuhan....... Bagi mereka, kaum pengejek ini, menyuruh wanita menutup aurat adalah pelanggaran HAM, sedangkan membiarkan mereka membuka aurat-nya adalah mempertahankan martabat kewanitaan, karena dengan mempertontonkan auratnya kepada laki-laki, merupakan hak kaum wanita sendiri, bukan urusan orang lain, bukan pula urusan agama .... Sebab ada "fashion", "mode", yang mengurusi pakaian, katanya begitu, bukan urusan agama. Agama kok ngurusin pakaian sih? Karena itulah di Perancis, misalnya, kaum wanita yang memakai pakaian berdasarkan agama, harus ke luar dari sekolah umum, sebab di sekolah umum pakaiannya diurus oleh "fashion", oleh "mode" ..... (Eh, kok jauh-jauh ke Perancis, bukankah di negeri ini juga pernah ada masanya dilarang berjilbab di sekolah? Tapi itu 'kan duluuu..). Bukan hanya wanita yang mendapat masalah dengan penampilannya. Ada juga masa ketika berjenggot saja jadi masalah, jadi bahan ejekan dan cemoohan, ........ bahkan jadi kecurigaan. Padahal orang hanya mau cari pahala dengan berteladan pada Rasul-Nya ........... (di samping ada unsur "kemalasan" dan kekurangan waktu kalo' harus shaving setiap hari). Sekarang tibalah masanya, ketika para pengejek mendapat obyek ejekan baru. Masalah poligamy! Begitulah kalo' agama dibawa-bawa ke masalah ranjang, kata kaum pengejek ini. Harusnya dibuat undang-undang yang keras sehingga tidak ada lagi teh Rini dan teh Ninih yang jadi "korban" Aa' Gym lain..... Lho, bagaimana dengan Maria Eva, apakah tidak perlu dilindungi dari orang-orang seperti Yahya Zainy (yang kata Permadi banyak di Senayan yang seperti itu.....)? Terus terang saya jadi curiga kepada "hidden agenda" para pengejek ini, yang meributkan kasus Aa' Gym tapi mendiamkan kasus Yahya Zainy..... Jangan-jangan para pengejek dan pencemooh itu memang menginginkan agar agama tersingkir dari kehidupan ...........................Apakah mereka akan mencegah anak-anak perempuan kita untuk masuk surga, dan menjerumuskan mereka ke neraka? Na'udzu billahi min dzalik! Atas nama HAM dan perlindungan perempuan mereka mengejek calon-calon penghuni surga seperti Teh Ninih dan Teh Rini seolah-olah mereka telah jadi "korban" Aa' Gym.......... Sementara Maria Eva yang jelas-jelas menjadi korban Yahya Zainy malah ditayangkan seperti pahlawan ..... Saya menunggu-nunggu (sudah pasti kaya'nya penantian saya akan sia-sia) ada stasiun TV yang mewawancarai Ustadz Ja'far Umar Thalib, mantan panglima Laskar Jihad yang pernah memutuskan merajam mati (atas permintaan dan kerelaan yang bersangkutan sendiri) anggota laskarnya yang mengaku berzinah. Padahal dengan mudah sebetulnya anggota laskar ini menghindar karena diperlukan minimal 4 (empat) orang saksi yang melihat dengan mata kepala sendiri (seperti melihat "timba naik-turun di sumur", kata Rasulullah SAW). Tapi karena yang bersangkutan mengaku dan sangat takutnya pada hukuman di akhirat kelak, maka ia memaksa-maksa agar dirinya dirajam dengan dibenamkan tubuhnya di tanah, lalu kepalanya dilempari batu sampai wafat ..... Walau pun tidak ada saksi mata yang pernah menyaksikannya berzinah ...... Perzinahan-(Maria Eva mengaku tidak pernah menikah dengan Yahya Zainy seperti menikahnya Teh Rini dengan Aa' Gym) itu telah direkam menjadi video-clip yang kemudian disaksikan orang banyak. Walau pun barangkali belom seperti "timba yang naik turun sumur", tapi jelas sudah lebih 4 (empat) orang yang menyaksikan video itu. Ditambah "bonus" kesalahan lain yang mungkin ada dan melanggar undang-undang dan etika, seperti menggugurkan janin dalam kandungan, membuat dan menyebarkan material pornografi, pemerasan ......dan berbagai dosa dan pelanggaran lain yang mungkin terus berlanjut..... Kami punya tiga anak, perempuan semua! Semoga Allah SWT melindungi mereka dari orang-orang macam Yahya Zainy, amit-amit, na'udzu billahi min dzalik.....! Saya pikir, supaya ada efek "jera", agar anak-anak kita semua terlindungi dari kenistaan sebagaimana yang dialami Maria Eva, maka sesuai perintah agama yang dianutnya, Yahya Zainy (yang Ketua DPP Golkar Bidang Kerohanian dan mantan Ketua PB HMI), tidak cuma disuruh mundur dari segala jabatannya, tapi juga diminta untuk merelakan dirinya dirajam sampai mati .... Sementara itu, tidak perlu kita risaukan Aa' Gym. Mungkin beliau sedang menyiapkan dirinya (jika terbukti mampu berlaku adil), keluarganya, isteri-isteri dan anak-anaknya, untuk menjadi ahli surga di akhirat kelak. Syukur-syukur kalo' kita semua (bersama keluarga) bisa mengikuti jejak beliau dan keluarga, jejak-jejak shirathal mustaqim lurus dan langsung ke surga! Tentu saja tidak harus dengan ber-poligamy, yang hanya SALAH SATU CARA yang sah menurut syari'ah untuk membuktikan seseorang bisa berlaku adil (cara lain misalnya: "jangan sampai kebencianmu kepada suatu kaum menghalangimu dari berlalu adil"). Isteri yang tidak dimadu juga punya banyak jalan lain ke surga, walau pun keikhlasan dimadu merupakan jalan yang paling "straight forward"....... Yang jelas tidak ada jalan ke surga yang mudah, semua susah dan perlu pengorbanan besar. Semakin besar pengorbanannya, semakin straight forward jalan ke surgaNya. Begitulah sunnatullah-Nya. Amal perbuatan yang bernilai ibadah dalam syari'at adalah berdasarkan kebutuhan dan kemampuan. Orang salat karena kebutuhan spiritualnya untuk memenuhi kewajiban-nya. Salatnya berdiri kalo' mampu, kalo' tidak mampu ya boleh duduk saja. Orang menunaikan zakatnya karena kebutuhan untuk membersihkan hartanya dan dirinya (zakatul-fithr), kalo' tidak mampu ya silakan jadi penerima zakat. Demikian juga orang ber-poligamy adalah karena kebutuhan dan kemampuan orang itu sendiri, yang jelas tidak bisa diukur dengan kebutuhan dan kemampuan kita. Kita butuh tapi tidak mampu, atau sebaliknya kita mampu tapi tidak butuh, ya tidak usah ber-poligamy. Tapi kalo' kita butuh dan merasa mampu, kenapa tidak? Daripada terjerumus dan celaka seperti Yahya Zainy dan Maria Eva, serta bapak-bapak dan nona-nona lainnya yang kebetulan tidak punya HP yang ada kamera-nya...... atau masih tersimpan file-nya entah di mana..... Pulang dari pengajian ibu-ibu kompleks, mamanya anak-anak melapor. Tadi ada seorang ibu yang sangat kecewa sekali dengan Aa' Gym. Bagi si ibu Aa' Gym sudah tidak bisa dijadikan panutan lagi (dulunya mungkin beliau nge-fans banget dengan Aa' Gym). Mamanya anak-anak berusaha menghibur kekecewaan si ibu dengan mengatakan, bahwa memang hanya Rasulullah SAW yang patut kita jadikan panutan ................ si ibu terdiam....... Lalu mamanya anak-anak melanjutkan: "Dan ingat, Rasulullah SAW 'kan berpoligamy, lho ......". Nah, ketika kita kelak di akhirat mempertanggung- jawabkan segala perilaku dan tindak-tanduk, amal perbuatan dan ibadah kita di dunia di hadapan Allah SWT, maka kita percaya bahwa kebutuhan dan kemampuan kita akan menjadi pertimbangan. Menurut hemat saya, UU Perkawinan harus di-revisi sehingga lebih mendudukkan poligamy pada kedudukan yang sama dengan perceraian, sementara itu UU Anti Pornografi dan Pornoaksi harus diperketat. Dengan demikianlah kita justru melindungi hak azasi anak-anak perempuan kita untuk mendapatkan surga dan menghindarkan mereka dari neraka jahannam. Semoga Allah SWT melindungi anak-anak perempuan kita dari kenistaan seperti yang dialami oleh Maria Eva, dan mengkaruniai mereka ke-ikhlas-an sebagaimana ke-ikhlas-an Teh Ninih dan Teh Rini, menjadi wanita-wanita mulia ahli surga. Berikan mereka KEBEBASAN MEMILIH untuk meneladani ummul-mu'minin St. Khadijah, R.A. yang tidak dimadu sampai akhir hayatnya, atau meneladani ummul-mu'minin St. 'Aisyah, R.A. yang dimadu (dan luar biasa pencemburunya). Setiap kita, laki-laki dan perempuan memang dianjurkan untuk menikah, tapi juga tidak dilarang untuk bercerai, rujuk kembali dan berpoligami, juga tidak dilarang untuk tidak mau menikah. Seharusnya setiap orang diberi kebebasan yang bertanggungjawab sesuai kemampuan dan kebutuhannya masing-masing untuk menikah atau membujang, menjanda atau menduda, bercerai atau rujuk kembali, monogami atau poligami........... asal sesuai dengan prosedur sah yang telah ditetapkan untuk itu semua......... Nah, sebelum diberikan kebebasan memilih opsi yang dibolehkan sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing itu, terlebih dahulu LINDUNGI MEREKA dari kedurjanaan manusia seperti Yahya Zainy ...... Sebab kalo' mereka tidak dilindungi, maka bagaimana mereka mendapat kebebasan untuk memilih? Bagaimana mereka bisa memilih jalan-jalan ke surga, kalo' jalan yang terbentang di hadapan mereka adalah jalan ke neraka? Maaf, saya pikir kita musti menempatkan kedua kasus yang meghebohkan itu, yaitu kasus Aa' Gym dan kasus Yahya Zainy, dalam SATU PERSPEKTIF yang terpadu. Sebab saya pikir semua ini hanyalah bagian dari perjalanan panjang dari masa ke masa. Saya tidak anti polygami, sebagaimana juga saya tidak anti monogamy, saya tidak anti perceraian, juga kalo' ada yang memilih membujang, atau menjanda atau menduda, ya silakan........ semua itu hanya pilihan-pilihan yang disediakan untuk ditakar dan dipilih sesuai kebutuhan dan kamampuan masing-masing. Untuk pelaksanaannya semua itu sudah ada aturannya yang baku, tinggal diikuti saja prosedurnya. Tentu saja saya anti perzinahan, anti perselingkuhan, hubungan sex tanpa nikah, hubungan sex dengan sejenis, anti pornoaksi, anti pornografi................ sebab semua-semua itu terlarang oleh semua agama dan merusak tatanan kehidupan masyarakat. Barangkali dalam urusan-urusan yang jelas-jelas disepakati inilah perlu dibuatkan Undang-Undang yang keras. PNS misalnya, lebih baik dilarang selingkuh daripada dilarang poligamy, begitu juga para pejabat. Polygami tidak usah dilarang, karena juga tidak ada larangan untuk membujang, menduda, menjanda, cerai dan rujuk, 'kan? Wallahu 'alam bishawwab, wastaghfirullahu lii walakum Wassalam, Rhiza rhiza@unhas.ac.id http://www.unhas.ac.id/~rhiza/