Salam dari Makassar ! Hari Sabtu, adalah harinya ortu maba FISIP UI diundang oleh pimpinan Fakultas untuk "negosiasi" uang pangkal (admission fee). Sementara itu anak saya sudah dua malam menginap di asrama UI, tidak ada keluhan, tetap "enjoy aja", tuh......... alhamdulillah. Awal yang baik, Insya Allah. Kali ini saya tidak pinjam kendaraan, karena mau "menguji-coba" jalur transportasi umum yang harus diambil oleh anak saya kalo' mau "melarikan diri" dari kesibukan kuliah ke rumah kakeknya di Bogor. Dari rumah saya harus naik ojek sampai pinggir jalan poros, lalu naik angkab (angkutan kabupaten) ke terminal "hub" di Bubulak. Dari situ naik angkot jalur 03 sampai setasiun Bogor. Beli karcis KRL ke Pasar Minggu (2000 perak) yang berenti di halte UI. Setiap setengah jam ada KRL berangkat dari Bogor, hari Sabtu tidak terlalu berdesakan seperti hari kerja lainnya. tapi tetap ndak kebagian tempat duduk.....! KRL berangkat, berenti di setasiun Cilebut-Bojong Gede-Citayam-Depok-Depok Baru- Pondok Cina...... sampailah di UI. Tadi berangkat dari rumah jam 6:30, sekitar jam 8:00 sudah sampai di UI. Dari WARTEL di setasion UI saya hubungi HP-nya anak saya, ternyata dia ada di Balairung UI untuk latihan nyanyi katanya. Karena pertemuan negosiasi baru akan mulai jam 09:00, saya cari anak saya ke Balairung UI (naik bus kuning gratis dari setasiun UI),....untung masih bisa ketemu, padahal banyak sekali orang, seluruh maba angkatan 2004 kaya'nya sedang dikumpul. Dari Balairung UI saya jalan ke FISIP, ada beberapa mahasiswa berjaket kuning yang menunjukkan gedung tempat pertemuan berlangsung. Menarik sekali karena keseluruhan acara pertemuan dengan ortu ini dikoordinir oleh Wakil Dekan III/manajer Kemahasiswaan dan dibantu sepenuhnya oleh mahasiswa FISIP berjaket kuning. Padahal menurut berita di koran katanya mahasiswa UI berdemo menolak uang pangkal. Mungkin sebagian mahasiswa UI memang demo menolak pemberlakuan uang pangkal, dan sebagian lainnya membantu Fakultas ber-negosiasi dangan ortu maba untuk meringankan uang pangkal tersebut. Mahasiswa memang macam- macam 'kan yah ....................... Ternyata ruangan yang dipake' berkumpul ada di lantai 5. Untung lift-nya jalan, sehingga ndak usah "olahraga" menaiki tangga sampai lantai 5. Di luar ruangan para ortu berdesak-desakan antri untuk mengambil nomer urut giliran wawancara dan menyerahkan berkas untuk melengkapi permohonan keringanan uang pangkal. Saya saja dapat nomer urut 171, jadi saya perhitungkan kira-kira ada sekitar 300-an ortu mahasiswwa yang akan minta keringanan. Antri di pengambilan nomer urut menyebabkan acara ngaret mulainya. Jam 10:00 lewat acara pertemuan pimpinan Fakultas dengan ortu maba FISIP 2004 itu baru dimulai. Mulai dengan presentasi Dekan, DR. Gumelar, yang masih muda dan energik. Pertama beliau mengucapkan selamat kepada para ortu, bisa beliau bayangkan kegembiraan para ortu yang putera-puterinya diterima di FISIP UI. Sedangkan beliau saja yang putera pertamanya baru diterima di SMP Negeri I Bogor (tidak lupa beliau bilang bahwa "admission fee"-nya untuk masuk SMP, 5 juta rupiah!), rasanya senang sekali.....! Setelah itu beliau menerangkan berbagai kemajuan yang dicapai oleh FISIP UI, misalnya dari segi ketertiban, seluruh ruangan di FISIP UI sudah bebas asap rokok, puntung rokok pun tidak lagi berserakan. Tidak ada lagi mahasiswa yang mengisi waktu luang sambil main gaple, yang dulunya kadang-kadang bahkan pake' uang alias berjudi..... Administrasi akademik sudah dibuat seperti bank, on-line, bisa di-akses via Internet (di salah satu gedung saya lihat ada fasilitas-nya M-Web). Honor dosen luar-biasa sudah dinaikkan, sehingga lebih semangat mengajarnya. Walau jika dibandingkan dengan universitas-universitas di Malaysia masih belom apa-apa, tapi sudah lumayan-lah dibandingkan beberapa tahun lalu sebelum dicanangkannya "paradigma baru" pendidikan tinggi dan UI menjadi BHMN. Setelah itu dilanjutkan dengan uraian dari Wakil Dekan I dan II tentang untuk apa kiranya "admission fee" tahun ini dikenakan pada maba angkatan 2004. Pak Dekan dengan gaya seorang salesman ahli marketing, berusaha "menjual" Fakultasnya. Bahwa uang 10 juta itu untuk sebagian ortu yang hadir sebetulnya "pelecehan", karena beliau yakin bahwa sebenarnya sebagian besar ortu mampu membayar bahkan berlipat-lipat dari itu........ dari mobil-mobil ortu yang diparkir di luar saja sudah bisa kelihatan (memang saya lihat cukup banyak Mercy, BMW dan mobil-mobil mewah lainnya yang saya tidak tahu apa mereknya......). Secara refleks saya merogoh kantong mencari karcis KRL yang saya tumpangi........ untung masih ada! Pak Dekan juga tahu bahwa sebagian dari ortu maba 2004 yang diterima di FISIP ini sebelumnya sudah diterima di beberapa PTS, dan menaruh sejumlah uang yang jauh lebih besar dari 10 juta di sana. Saya teringat seorang kemenakan saya, yang mendaftar di Binus (Univ. Bina Nusantara), menaruh uang 15 juta yang hanya bisa diambil kembali asalkan diterima di Program Studi Informatika ITB. Untungnya kemenakan saya tersebut memang diterima di Informatika ITB, sehingga uangnya bisa diambil kembali dari Binus.... Jadi bagai sebagian ortu itu, 10 juta sebenarnya tidak masalah ...... Pada akhirnya. setelah cerita ke sana ke mari mengenai FISIP UI yang dipimpinnya, pak Dekan memohon agar ortu yang memang sebenarnya mampu membayar 10 juta atau lebih, langsung kontan atau pun mencicil, agar segera menghubungi bagian keuangan di lantai satu. Sedangkan yang tetap ingin mengajukan permohonan keringanan tetap tinggal untuk di-wawancara. Eh, ternyata lebih dari setengahnya terpengaruh oleh presentasi pak Dekan, langsung menuju ke lantai satu, tidak jadi mohon keringanan! Saya dengan sekitar 100-an ortu yang tidak terpengaruh oleh "rayuan" pak Dekan karena memang tidak punya uang sebanyak yang diminta, tetap tinggal menunggu giliran di-wawancara. Setelah kira-kira setengah jam lebih menunggu, tibalah giliran saya. Ada sekitar 20-an dosen FISIP yang dikerahkan untuk me-wawancara para ortu yang akan minta keringanan uang pangkal. masing-masing dosen FISIP didampingi oleh mahasiswa berjaket kuning. Keseluruhan acara dipandu oleh para mahasiswa ini .....Mereka terkesan cukup dewasa meng-handle para ortu yang diresahkan oleh masalah uang pangkal. Pewawancara saya seorang dosen muda. Dari berkas-berkas dokumen yang saya lampirkan beliau tahu bahwa saya seorang dosen juga, PNS dari daerah. Cuma beliau salah menebak pangkat saya, disangkanya saya sudah PNS golongan IV, ........ padahal....hehehe. Jadi saya terangkan sesuai dengan data yang saya ajukan, agar saya diperkenankan membayar 20% saja dari yang diminta FISIP UI. Pewawancara tanya, kalo' seandainya FISIP UI minta lebih dari itu, bagaimana... Saya bilang saya akan tetap akan bayar segitu dulu, selanjutnya saya akan mencari utangan atau jual asset untuk membayar selebihnya dengan mencicil. Samalah dengan yang dilakukan oleh republik ini, 'kan? Pewawancara tertawa, lalu menyodorkan kuesioner untuk saya isi. Ada isian yang memperinci pengeluaran dan pemasukan atau penghasilan. Secara detail harus diisi, misalnya pengeluaran untuk makan. Berapa orang tinggal di rumah, berapa biaya makannya perhari, kali 30 hari ..... berapa total biaya untuk makan per bulan. Wah, mestinya saya mengajak mama-nya anak-anak yang tahu lebih detail pengeluaran dari catatan buku kas-nya. Saya cuma mampu kira-kira saja. Berapa untuk beli bensin setiap bulan, untuk biaya sekolah anak-anak, untuk cicilan rumah, listrik, air, telepon .... semua dirinci. Akhirnya total pengeluaran melewati jumlah penghasilan bulanan yang tertera di slip gaji. Ditanya, apakah mama-nya bekerja? Ya, sebagai ibu rumah- tangga saja. Ada penghasilan tambahan? tentu saja, kalo' tidak 'kan berutang setiap bulannya...... tapi tidak tetap, misalnya honor mengajar yang dibayar satu semester sekali, bimbingan skripsi, ... yah, tahu sendirilah sebagai sesama dosen. Nah, jelas harus diberi margin penghasilan, karena nyatanya setiap bulan ya pas-pasan, tidak berhutang, tidak juga punya tabungan... OK, taruhlah, diberikan margin Rp. 200.000-an.... maka pewawancara saya pun memekai kalkulatornya untuk mereka-reka uang pangkal yang dianggap "pantas" untuk saya. OK, akhirnya beliau berkesimpulan bahwa 20% yang saya ajukan terlalu sedikit, mestinya ya 50%-lah baru cocok. Saya tidak berminat untuk nego lebih lanjut, akhirnya saya setujui saja, hanya saya minta dibolehkan mencicil 4 kali sampai akhir tahun. September 20%, selanjutnya 10% setiap bulan sampai Desember 2004. OK, deal! Tandatangan perjanjian di atas meterai.... selesailah proses wawancara ini. Lewat sedikit waktu Dzuhur! Saya ke WARTEL lagi menghubungi HP-nya anak saya. Kita janjian ketemu di mesjid sesudah salat. Tadinya saya ajak dia pulang ke Bogor, tapi rupanya acaranya masih padat sampai malam. OK-lah, saya pun pulang sendiri naik KRL lagi. Sebelum meninggalkan kampus FISIP UI, saya sempat minum es doger dan makan mie kocok di kantin-nya ....... menikmati kehidupan kampus UI di siang hari. Saya dengar kalo' malam malahan lebih rame....., betulkah? Dari WARTEL di setasiun UI, saya kontak ke Makassar, melaporkan ke rumah hasil negosiasi uang pangkal yang sudah selesai..... Discount 50%, dicicil 4 kali. Lumayan-lah .....! Keesokan harinya saya sudah kembali ke Makassar dengan tenang. Sepertinya anak saya sudah happy dan enjoy aja dengan kehidupan barunya di asrama. Kuliahnya baru mulai tanggal 6 September, tapi kaya'nya setiap hari banyak aja acaranya. Mungkin dia ikut OPSPEK juga, entahlah, saya tidak tanya-tanya, biarkan saja dia bebas menentukan sendiri "nasib"-nya selanjutnya....... Sesampainya di Makassar, saya dengar dari seorang kolega, puteranya pingsan di hari pertama pendaftaran masuk UNHAS "dikerjai" oleh senior-nya. Beberapa maba yang ikut OPSPEK sempat dirawat di rumah sakit. Beberapa ortu maba sempat ikut ter-OPSPEK juga, demi membantu putera-puteri mereka mengerjakan tugas-tugas yang diberikan senior mereka......Acara di Baruga berantakan karena kesalahan koordinasi antara PR III dengan mahasiswa....... Begitu pun, salah seorang Dekan masih bisa mengatakan bahwa OPSPEK di UNHAS tahun ini yang paling "aman" dibandingkan sebelum-belumnya. Bahkan pak Dekan menganggapnya sebagai OPSPEK yang paling "hebat" karena (hampir saja???) berhasil menurunkan salah seorang Pembantu Rektor, setidak-tidaknya memaksanya mengajukan permohonan pengunduran diri (yang kaya'nya sih tidak akan dikabulkan oleh pak Rektor). By the way, saya termasuk yang bersyukur sekali, anak saya tidak masuk UNHAS! Alhamdulillah, wa syukurillah........ Wassalam, Rhiza rhiza@unhas.ac.id http://www.unhas.ac.id/~rhiza/