MATERI TARBIYAH
KEPEDULIAN SOSIAL DALAM ISLAM (2/2)


From      : Nadirsyah Hosen
Subject   : Kepedulian Sosial dalam Islam (2/2)


2. Surat al-Ma'arij [70] ayat 19-25

       "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi
       KIKIR, Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan
   apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang
  yang mengerjakan SHALAT, yang mereka itu tetap mengerjakan
      shalatnya, dan orang-orang yang dalam HARTAnya tersedia
     bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang
       yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)" 

Secara tegas Allah menyebutkan bahwa keluh kesah dan kikir itu
telah menjadi sifat bawaan manusia sejak ia diciptakan. Allah
melukiskan sifat manusia dengan sangat baik. Bagi saya pribadi,
ayat di atas telah menelanjangi sifat kita. Bukankah kalau kita tidak
memiliki harta kita sering berkeluh kesah, sebaliknya, kalau
memiliki banyak harta kita cenderung untuk kikir. Lalu bagaimana
caranya agar sifat bawaan (keluh kesah & kikir) kita tersebut tidak
menjelma atau dapat kita padamkan.

Allah menyebutkan, paling tidak, dua jalan. Pertama, mengerjakan
sembahyang secara kontinu. Kedua, menyadari bahwa dalam
harta yang kita miliki terkandung bagian tertentu untuk fakir miskin.
Dua resep ini insya Allah akan mampu memadamkan sifat keluh
kesah dan sifat kikir yang kita miliki. 

Sekali lagi, bukalah cermin hati kita. Tahanlah nafas kita untuk
sejenak. Tidakkah kita rasakan bagaimana Allah menyinggung
perilaku buruk kita dalam ayat-ayat-Nya yang suci. Subhanallah....

3. Surat al-Qalam [68] ayat 17-33

   "Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekkah)
    sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika
       mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan
 memetik (hasil) nya di pagi hari, dan mereka tidak mengucapkan :
       insya Allah

    Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu
   ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti
   malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil memanggil di pagi                                                               hari

         "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak                                                 memetik buahnya."

        Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan. "Pada hari ini
    janganlah ada seorang MISKINpun masuk ke dalam kebunmu."
   Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi
   (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (meonolongnya),

                 Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata:
 "Sesungguhnya kita benar-benar oarng-orang yang sesat (jalan),
                 bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)" 

 Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka:
    "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu                                     bertasbih (kepada Tuhanmu)?"

   Mereka mengucapkan: "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya
  kami adalah orang-orang yang zalim." 

    Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya
              cela mencela Mereka berkata: "Aduhai celakalah kita;
        sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui
 batas.Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita
   dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita
                          mengharapkan ampunan dari Tuhan kita"

 Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih                                     besar jika mereka mengetahui"

 

Sekelompok ayat di atas menceritakan sebuah kisah nyata yang
terjadi sebelum masa Rasulullah. Kisah pemilik kebun di atas
melukiskan dengan sangat baik betapa harta manusia itu tak ada
artinya dibandingkekuasaan Allah. Kebun yang sudah sekian lama
diurus dan tinggal sekejap mata saja untuk dipetik hasilnya
menjadi musnah terbakar. Apa kesalahan pemilik kebun tersebut
sehingga mendapat azab sedemikian rupa? 

Pertama, mereka lupa bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu.
Ini dilukiskan dalamayat di atas ketika mereka tidak menyebut
insya Allah; mereka merasa pasti akan meraih hasil yang luar
biasa. Mereka lupa bahwa sedetik kedepan kita tak tahu apa yang
terjadi dengan hidup kita. Kita tak tahu "skenario" Allah terhadap
diri kita. 

Kedua, mereka bersifat kikir. Mereka sudah bersiap-siap agar
orang miskin tak bisa masuk ke kebun mereka saat panen tiba.
Allah murka pada mereka. Allah turunkan azab-Nya pada mereka.
Di akhir ayat Allah mengingatkan bahwa azab yang Allah timpakan
pada pemilik kebun hanyalah azab dunia; sedangkan azab akherat
jauh lebih besar lagi!

Cermin hati kita mengatakan bahwa agar tidak tertimpa azab Allah
di dunia, manakala kita memiliki kelebihan rezeki maka janganlah
sungkan untuk memberi sebagian pada orang miskin. Cermin hati
telah berkata, mampukah kita melaksanakan kata-hati kita? 

Kalau Allah mampu memusnahkan dengan amat mudah kebun
yang siap dipanen, jangan-jangan Allah pun akan memusnahkan
sumber penghasilan kita, bila kita berlaku kikir! Na'udzu billah...

Demikianlah sekedar pengantar untuk pengajian kita; sekedar
saling ingat mengingatkan bahwa di cermin hati kita telah
tergambar sejumlah orang yang membutuhkan kepedulian kita.
Persoalannya, maukah kita melihat ke dalam cermin tersebut? 

(*)

Catatan : Naskah di atas saya sampaikan untuk pengajian
al-Hikmah, Armidale-Australia (1997). Tentu saja karena sifatnya
pengajian, maka sejumlah buku rujukan yang semestinya tertera
tidak dituliskan, semata karena alasan praktis saja.

Semoga bermanfaat 



Rancangan KTPDI Hak cipta © dicadangkan.