MATERI TARBIYAH
TAFSIR AYAT KURSI


From      : Nadirsyah Hosen
Subject   : Tafsir Ayat Kursi

Ayat al-Kursi adalah ayat yang paling agung dalam al-Qur'an. Sekian 
banyak riwayat yang bersumber dari Rasul dan sahabat-sahabat beliau yang 
menginformasikan hakekat ini. Antara lain dari seorang sahabat Nabi yang 
bernama Ubaiy bin Ka'ab yang menceritakan bahwa Nabi saw pernah bertanya 
kepadanya:

"Ayat apakah dalam Al-Qur'an yang paling agung?"
"Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu" (ini diulang-ulang oleh Ubaiy), 
kemudian ia berkata ayat al-Kursi. Rasul saw, membenarkan Ubaiy
(Diriwayatkan oleh Muslim)

Ubaiy juga  menguraikan dalam kesempatan lain, bahwa ia pernah bertemu
dengan jin dan bertanya kepadanya, apakah bacaan yang dapat menjauhkan
manusia dari gangguan jin, sang jin menjawab, "Ayat al-Kursi". Ketika 
informasi ini dismapaikan Ubaiy kepada Rasul, beliau menjawab, "benar 
(informasi) si jahat itu". (Diriwayatkan oleh al-Hakim)

Kasus yang mirip dialamai oleh sahabat Nabi yang lain yaitu 
Abu Hurairah, ketika diperintahkan Nabi saw. menjaga kurma 
sedekah.

Ayat al-Kursi dinamai juga ayatul hifz (ayat pemelihara), 
karena pembaca yang menghayati maknanya dapat memperoleh 
perlindungan Allah swt......
Dalam konteks ini paling tidak ada dua hal yang dapat 
dikemukakan. 

Pertama, ayat ini berbicara tentang Allah swt. dan sifat-sifat-Nya. 
Kandungan uraiannya saja sudah  cukup menjadikan ayat ini ayat yang 
agung. Apalagi ayat al-Kursi merupakan  satu-satunya ayat yang 
dalam redaksinya ditemukan tujuh belas kali kata yang menunjuk 
kepada Allah swt. Enam belas diantaranya terbaca dengan jelas dan 
satu tersirat. Perhatikanlah terjemahan di bawah ini:

"Allah (1) Tidak ada Tuhan yang berhak disembah 
melainkan Dia (2) Yang Maha Hidup (3) Kekal, (Tuhan) 
Tuhan yang terus menerus mengurus (4) (makhluk-Nya). 
Dia (5) tidak mengantuk dan tidak tidur. 
Kepunyaan-Nya (6) apa yang ada di langit dan apa yang 
ada di bumi; Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi 
Allah (7) tanpa izin-Nya (8). Allah (9) mengetahui 
apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, 
dan mereka tidak mengetahui sesuatu dari ilmu Allah 
(10), melainkan apa yang dikehendaki-nya (11). 
Kursi (pengetahuan/kekuasaan)-Nya (12) meliputi 
langit dan bumi. Allah (13) tidak merasa berat 
memelihara keduanya dan Allah (14) Maha Tinggi (15) 
lagi Maha Besar (16)

Yang menunjuk kepada Allah tetapi tersirat adalah 
kalimat "hifzuhumaa, karena patron kata semacam ini 
menyiratkan kalimat "laa yauuduhu an yahfazahumaa huwa" 
(tidak lelah Dia memelihara keduanya), sehingga  
kata "Dia" yang nampak dalam terjemahan di atas, 
pada hakekatnya tersirat dalam redaksi "Hifzuhumaa".

Ayat al-Kursi--demikian pula al-Mu'awwizatain dipilih 
untuk dibaca-- baik dalam konteks tahlil, maupun bukan, 
karena ayat-ayat tersebut mengandung makna perlindungan, 
serta kewajaran Allah untuk dimohonkan kepada-Nya 
perlindungan, baik bagi yang masih hidup maupun yang telah
berpulang.

Hal kedua yang dapat dikemukakan dalam konteks pemahaman 
rasional adalah hal yang berkaitan dengan kandungan pesan 
ayat ini. Apabila yang membaca  ayat al-Kursi menghayati 
maknanya dan hadir dalam jiwa dan benaknya kebesaran Allah 
yang dilukiskan oleh kandungan ayat ini, 
maka pastilah jiwanya akan dipenuhi pula oleh ketenangan....

"Allahu laa ilaaha illa huwa (Allah tiada Tuhan selain Dia). 
Allah adalah Tuhan yang menguasai hidup mati makhluk, yang 
hanya kepada-Nyasaja tertuju segala pengabdian.....

Boleh jadi ketika itu, terlintas di dalam benak si pembaca, 
bisikan Iblis yang berkata bahwa yang dimohonkan  pertolongan 
dan perlindungannya itu, dahulu pernah ada, tetapi kini telah 
"mati", maka penggalan ayat berikutnya, meyakinkannya tentang 
kekeliruan dugaan tersebut, yakni dengan sifat "al-Hayyu" 
(yang Maha Hidup dengan kehidupan yang kekal).

Boleh jadi Iblis datang lagi dengan membawa keraguan 
dengan berkata:"Memang Dia hidup kekal, tetapi Dia tidak 
pusing dengan urusan manusia, apalagi si "pemohon".
Kali ini penggalan ayat berikut menampik kebohongan 
ini dengan firman-Nya "al-Qayyum" (yang terus menerus 
mengurus mahkluk-Nya), dan untuk lebih meyakinkan  
dilanjutkannya uraian sifat Allah itu dengan
menyatakan: "laa ta'khuzuhu sinatun wa laa nauwm" 
(Dia tidak disentuh oleh kantuk atau tidur) sehingga 
Dia terus menerus dalam keadaan jaga dan siaga. 
Dengan penjelasan ini hilang keraguan yang dilemparkan iblis itu.

Setelah itu boleh jadi iblis datang lagi dengan 
membisikkan bahwa: "Dia tidak kuasa menjangkau tempat 
di mana si pemohon berada, atau kalaupun Dia sanggup, 
jangan sampai Dia "disogok" oleh yang bermaksud membinasakan 
si pemohon, maka untuk menampik bisikan jahat ini, penggalan 
ayat berikut tampil dengan gamblang menyatakan 
"lahuu maa fis-samawati wa maa fil ardhi (Milik-Nya apa 
yang ada di langit dan di bumi serta keduanya berada di
bawah kekuasaan-Nya).

Tidak hanya itu, tetapi ini berlanjut dengan firman-Nya: 
"man zallazi yasyfa'u 'indahu illa biiznihii" (Tiada yang 
dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali seizin-Nya) 
dalam arti tidak ada lagi yang dapat melakukan sesuatu 
tanpa izin-Nya. Dia demikian perkasa sehingga berbicara 
dihadapan-Nya pun harus setelah memperoleh restu-Nya, 
bahkan apa yang disampaikan harus  sesuatu yang hak dan
benar. Karena itu jangan menduga akan ada permintaan yang 
bertentangan dengan keadilan dan kebenaran. 

Kini boleh jadi iblis belum putus asa meragukan pembaca ayat ini. 
Ia berkata lagi: "Musuh anda mempunyai rencana yang demikian rinci 
sehingga tidak diketahui Tuhan." Lanjutan ayat al-Kursi menampik 
bisikan ini : "Ya'lamu maa baina aidiihim wa maaa khalfahum" 
(Dia mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan di belakang 
mereka). Yakni Allah mengetahui apa yang mereka lakukan dan 
rencanakan baik yang berkaitan dengan  masa kini dan datang 
maupun masa lampau, dan juga "wa laa yuhbithuuna bisya'i-in 
min 'ilmihi illa bimaasyaa-a". (Mereka tidak  mengetahui 
sedikitpun dari ilmu Tuhan melainkan  apa yang dikehendaki
Tuhan untuk mereka ketahui) 

Ini berarti bahwa apa yang direncanakan Tuhan tidak dapat mereka
ketahui kecuali apa yang disampaikan Tuhan kepada mereka....
Untuk lebih menyakinkan lagi dinyatakan-Nya: "wasi'a kursiyuhus 
samawati wal ardhi (kekuasaan dan ilmu-Nya mencakup langit dan
bumi) bahkan alam raya seluruhnya.

Kini sekali lagi, boleh jadi iblis datang dengan godaan barunya.
"Kalau demikian terlalu luas kekuasaan Tuhan dan terlalu banyak 
jangkauan urusan-Nya, Dia pasti letih dan bosan mengurus semua itu".
Penggalan ayat berikut sekaligus penutupnya menampik  keraguan ini, 
dengan firman-Nya "Laa yauuduhuu hifzuhuma wa huwal 'aliyyul 'azhim" 
(Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi 
lagi Maha Agung).

Demikian ayat al-Kursi menanamkan dalam jiwa pembacanya kebesaran
dan kekuasaan, serta kemampuan Allah swt. memelihara dan melindungi 
siapa yang tulus bermohon kepada-Nya.

(Disarikan oleh Nadirsyah Hosen dari M. Quraish Shihab, "Hidangan Ilahi:
Ayat-ayat Tahlil", Lentera Hati, Jakarta, 1996, h. 110-118)



Rancangan KTPDI Hak cipta © dicadangkan.