MATERI TARBIYAH
TAQWA


From      : Chip Challenger
Subject   : Taqwa


"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan
sebenar-benar taqwa; dan janganlah kamu mati melainkan dalam
keadaan muslim." (QS. 3:102)

Taqwa adalah salah satu istilah kunci dalam Al-Qur`an. Namun tidak
terlalu mudah untuk memaparkan arti taqwa. Umumnya taqwa didefinisikan
sebagai "takut pada Allah" (atau "God-fearing") yang ditandai dengan
menjauhi segala larangan-Nya dan menjalankan semua perintah-Nya.
Namun dalam Al-Qur`an, kata takut telah memiliki padanan, yaitu
"khasyiya" dan "khawf".

"Dan hendaklah orang-orang takut (khasyyah) seandainya meninggalkan
di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap
(kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa
kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar."
(QS. 4:9)

Nampak bahwa ada nuansa perbedaan antara takut dan taqwa. Taqwa lebih
cenderung kepada suatu sikap etika. Orang-orang yang beriman dan
mengikuti petunjuk Allah justru akan dijauhkan dari ketakutan atau
suasana ketakutan.

"... Sesungguhnya akan datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa
yang mengikuti petunjuk-Ku, akan lenyap segala ketakutan (khawf), dan
ada pula kesusahan." (QS. 2:38)

"Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami ialah Allah,
kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita." (QS. 46:13)

Kurang tepat jika taqwa diterjemahkan dengan sesuatu yang mengandung
kata "fearing". Hamka justru menyatakan bahwa kata taqwa justru
mengandung kesan berani dan melawan takut. Maka akan lebih tepat untuk
menafsirkan taqwa sebagai "lurus". Mutaqqi, orang yang bertaqwa, orang
yang lurus (righteous) pada jalan Allah. Orang yang tidak menyimpang
dari jalan Allah.

Di dalamnya, kita akan mendapati sikap menghindari kerusakan, menangkal
kejahatan, dan kehati-hatian. Orang yang bertaqwa adalah orang yang
memiliki mekanisme datau daya penangkal terhadap penyimpangan yang
merusak diri sendiri dan orang lain. Sikap taqwa dibentuk dengan
mensucikan diri dan pikiran, seperti yang ditegaskan dalam QS. 91
(As-Syams) berikut :

"(1) Demi matahari dan kilaunya, 
 (2) dan bulan apabila mengiringinya, 
 (3) dan siang apabila menampakkannya, 
 (4) dan malam apabila menutupinya, 
 (5) dan langit serta pembinaannya, 
 (6) dan bumi serta penghamparannya, 
 (7) dan jiwa serta Ia (Allah) yang menyempurnakannya, 
 (8) dan mengilhamkan padanya kefasikan dan ketaqwaan, 
 (9) sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 
 (10) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. "

Sedangkan petunjuk yang diberikan, yang menjadi pegangan menuju
ketaqwaan, yang membebaskan dari ketakutan, adalah Al-Qur`an
QS 2 (Al-Baqarah) menjelaskan :

"(1) Alif laam miim. 
 (2) Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka
     yang bertaqwa, 
 (3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan
     shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan
     kepada mereka, 
 (4) dan mereka yang beriman kepada Kitab yang telah diturunkan
     kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta
     mereka yakin akan adanya akhirat. 
 (5) Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan
     merekalah orang-orang yang beruntung. "

Maka Prof Usman Muhammady mendefinisikan orang yang bertaqwa sebagai
manusia berilmu dan beriman, mampu memelihara diri dari kejahatan,
dan memakai Al-Qur`an sebagai pemimpin.

Seperti juga iman, taqwa lebih difokuskan pada hubungan manusia dengan
Allah. Ketaqwaan didasarkan atas pengakuan diri sebagai hamba Allah,
ketaqwaan dijalankan dengan mengacu pada petunjuk Allah. Dan ketaqwaan
adalah nilai atau harga manusia dalam pandangan Allah.

"... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi
Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. 49:13)

Namun kenyataan bahwa taqwa lebih terfokus pada hubungan manusia dengan
Allah tidak menjadikan taqwa terpisah dari kehidupan kemanusiaan.
Sebaliknya, penerapan taqwa akan sangat terasa dalam sisi kemanusiaan.
Misalnya ketaqwaan mendorong untuk bersikap adil, dan menjaga
silaturrahim, dan saling berbagi dengan sesama.

"... Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa." (QS. 5:8)

"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan
kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya;
dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan
perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan
nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan hubungan
silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi
kamu." (QS. 4:1)

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu
kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada
Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan
memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta-minta;
dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan
zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji,
dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar; dan mereka itulah
orang-orang yang bertaqwa." (QS. 2:177)


Chip Challenger :)
---------------



Rancangan KTPDI Hak cipta © dicadangkan.