Assalamu 'Alaikum Wr. Wb. 1. jika seorang wanita dalam perjalanan melewati waktu sholat, apakah ia harus menutupi seluruh auratnya untuk melakukan sholat di kendaraan (termasuk telapak kaki)? Jawaban: Pertanyaan di atas ada kaitannya dengan pertanyaan ikhwan Munawar Rahman Zega. Menutup aurat tidak hanya diwajibkan pada saat melaksanakan salat, di luar salatpun aurat harus ditutup. Oleh sebab itu, jika seseorang mau salat, baik laik-laki maupun wanita, dimana dan kapan saja, dia wajib menutup aurat. Bahkan fiqh memasukan menurut aurat sebagai salah satu syarat sahnya salat. Artinya, jika aurat tidak ditutup, maka salatnya otomatis tidak sah. 2. saya ingin tanyakan juga akan keistimewaan nikah di kemudian hari ?! (umur saya 25th dan merasa ragu untuk menikah) Jawaban: Islam memperbolehkan umat yang sudah baligh untuk menikah kapan saja. Bahkan sebuah hadith sangat menganjurkan seseorang yang sudah siap mental, fisik dan material untuk secepatnya menikah. Perlu diperhatikan bahwa diperbolehkan atau dianjurkannya pernikahan harus difahami dalam norma fikir yang benar. Dalam Islam, pernikahan bukan suatu tindakan atau keputusan yang main-main. Pernikahan mengimplikasikan banyak hal, seperti tanggungjawab, tenggang rasa, dan lain sebagainya. Akibatnya, kesiapan dalam artian untuk menangggung segala akibat pernikahan harus selalu dijadikan dasar pengambilan keputusan untuk menikah atau menundanya untuk sementara waktu atau untuk jangka waktu yang cukup lama. Apakah kalau begitu Islam menganjurkan umatnya menikah jika sudah berumur? Jawabannya tentu tidak. Kenapa orang banyak menganjurkan agar jangan tergesa-gesa untuk menikah seperti kawin muda? Biasanya, menurut hukum sosial dan psikologis, kematangan kepribadian dalam artian bertanggungjawab tidak bisa dipisahkan dengan usia dalam arti rentang waktu untuk mengalami dan merasakan banyak hal. Fakta membuktikan bahwa semakin berumur seseorang, cenderung semakin matang kepribadian, karir, dan materialnya. Dalam alur fikir seperti inilah, kemudian banyak orang melihat ada baiknya menunda pernikahan sampai pada usia tertentu. Ingat Nabi sendiri menikah pada usia 25 tahun, sama dengan usia saudara. Apakah Nabi pada saat itu sudah siap segala-galanya? Mungkin ada yang meragukan kesiapan fanansial Nabi. Tetapi sejauh pernikahan adalah persatuan dua anak Adam yang berbeda jenis kelamin, maka tanggungjawab kemudian ditanggung bersama. Artinya, ketika siti Khadijah sebagai seorang jutawan, maka kesiapan Nabi tidak perlu diukur dari segi finansialnya. Oleh sebab itu, saran kami, tidak mesti pernikahan diusia tertentu akan lebih baik dibandingkan pada usia lainnya, jika semua keputusan untuk menikah tersebut tidak didasarkan pada kerangka fikir kesiapan dan pertanggungjawaban. Kalau nanti menikah, hari apa saja untuk menikah tidak ada masalah. Sebetulnya hari-hari yang ada dalam smeinggu tidak ada perbedaan maknanya; durasi waktunya sama saja; mungkin panjang siang dan malamnya yang akan berbeda, terutama antara hari-hari di musim panas dan musim dingin. Masyarakat ternyata memberikan makna sosial dan kultural yang berbeda-beda kepada hari. Orang jawa, kalau tidak salah, kurang appresiatif terhadap hari Rabu, akibatnya dianjurkan untuk tidak menikah pada hari Rabu. Bahkan ada seorang pelawak-penyiar radio di Yogyakarta dulu [beberapa tahun lalu], mungkin dipengaruhi oleh asumsi kutlural tersebut, kemudian mempelesetkan ayat Laa taqaru al-Zina [jangan berzina hari Rabu]. Tentunya pelesetan itu sangat tidak benar, dan menyesetkan. Bagi orang Banjarmasin, jangan menikah atau berpergian pada hari jum'at; bagi orang bule, hari senin merupakan hari yang menjengkelkan. Dibalik "larangan" tersebut, termuat alasan lain. Kenapa jum'at tidak baik untuk menikah/pesta, karena banyak waktu pada hari tersebut yang akan tersita untuk pelasaknaan salat jum'at, atau karena salat jum'at itu cuma sekali seminggu, maka sayang jika kita tinggal, hanya karena alasan musafir. Sementara hari senin bagi orang bule dinilai menjengkelkan, karena, pada saat week-ended, mereka cenderung pergi jalan-jalan bersama keluarga, atau kerja bakti membersihkan rumah [ingat orang bule jarang ada yang mempunyai pembantu], akibatnya mereka kemudian merasa cape setelah week-ended. Oleh sebab itu, hari senin menjadi seolah-olah beban. Walhasil, pada hari apa saja menikah dalam Islam, jawabannya sama saja. Wa Allah 'alam bi l-shawab wassalamu'alaikum wr.wb Noryamin Aini