Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menyikapi masih rendahnya jumlah publikasi internasional PTN di Indonesia akan mendorong para dosen, khususnya guru besar, menghasilkan karya publikasi internasional minimal satu publikasi setahun. Menteri Ristek dan Dikti Muhammad Nasir akan menagih para guru besar agar tiap tahun menghasilkan publikasi ilmiah. Jika tidak, tunjangan kehormatannya akan ditinjau kembali.
‘’Strateginya adalah dengan PTN BH. Rektor harus mendesak para dekan menghasilkan publikasi,’’ kata Muh.Nasir.
Dia menilai, capaian Unhas dengan 1.041 publikasi internasional merupakan suatu yang sangat luar biasa.
‘’Selamat kepada Unhas. Syarat publikasi bagi PTN itu 700 hingga 1.600 untuk publikasi internasional,’’ katanya.
Pada tahun 2014 publikasi internasional di Indonesia 4.550, tahun 2015 mencapai 5.450. Sekadar pembanding, Malaysia memiliki publikasi internasional 24.000, Singapura kini turun dari 18.000 menjadi 17.000. Taiwan 12.000. Target Indonesia adalah 6.220 publikasi.Namun akibat perbaikan regulasi, kata Menteri, pada tahun 2016 tercatat 9.889 dan sekarang naik menjadi 10.504 per Januari 2017.
Sebenarnya, dengan jumlah professor di Indonesia yang 6.000 orang dan lektor kepala 28.000 sampai 31.000 orang, kita bisa menghasilkan 34.000 publikasi jika setiap mereka menghasilkan satu publikasi per tahun,
‘’Jika kita meraih jumlah 30.00 publikasi akan jadi juara di Asia Tenggara,’’ kunci Muh.Nasir. (*).




