Berita Terbaru

UNIVERSITAS HASANUDDIN

Presiden Membuka Pertemuan Forum Rektor Indonesia 2018

Mengangkat tema "Memperkuat Karakter Bangsa Dalam Menghadapi Disrupsi Peradaban," Forum Rektor Indonesia (FRI) menggelar Konvensi Kampus XIV dan Temu Tahunan XX FRI 2018 di Gedung Baruga Andi Pangeran Pettarani Universitas Hasanuddin, Kamis-Jumat (15-16/2/2018).

Dalam acara Konferensi antar Rektor se-Indonesia ini, Universitas Hasanuddin ditunjuk sebagai panitia penyelenggara untuk menyukseskan kegiatan tersebut di Makassar. Dalam acara pembukaan FRI 2018 ini, Presiden Joko Widodo hadir untuk membuka secara resmi pertemuan para pimpinan perguruan tinggi tersebut.

Kegiatan forum rektor diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh UKM Paduan Suara Mahasisa. Agenda acara dilanjutkan dengan pidato sambutan dari Rektor Unhas Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu MA, Ketua FRI 2017 Prof Dr H Suyatno Mpd, dan Presiden RI Ir H Joko Widodo. Acara pembukaan forum diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin KH Dr (Hc) Sanusi Baco Lc.

Dalam kata sambutannya Prof. Dwia mengucapkan selamat datang di kembali di Universitas Hasanuddin, dimana sebelumnya pada Oktober 2013 silam, saat Jokowi masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pernah mengunjungi Unhas untuk memberikan kuliah umum kepada mahasiswa. Yang menarik ketika itu, Jokowi mengajak para peserta di dekat danau yang terbuka untuk mengikuti kuliah umumnya.  “Hari ini Bapak datang lagi di kampus tak pernah jemu, kampus Tamalanrea, kampus Unhas, sebagai presiden. Namun yang terlihat adalah kesederhanaan Bapak masih tetap tidak berubah, masih berkemeja putih, yang membedakannya adalah pengawalnya lebih baik,“ kata Rektor Dwia.

Dwia mengatakan bahwa di tengah revolusi industri dan globalisasi saat ini, perguruan tinggi memiliki tantangan bagaimana melahirkan keluaran yang mempunyai kecerdasan dan kepedulian sosial. Karena itulah, belum lama ini Unhas mengirimkan sejumlah mahasiswa residen (kedokteran) ke Asmat yang dipimpin langsung oleh Prof Idrus Paturusi untuk memberikan pelayanan kesehatan di sana. Unhas juga telah mengirim mahasiswa KKN ke wilayah Poso, perbatasan Miangas, dan Sebatik. Program-program ini sejalan dengan tema forum rektor untuk memperkuat karakter bangsa. “Kami ingin menjadikan keluaran-keluaran kami punya rasa kepedulian,” kata Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu.

Rektor Dwia menambahkan, berkaitan dengan pesan Presiden agar bisa lebih inovatif melakukan hal yang konkret di tengah masyarakat, Unhas telah membangun pusat Micro Finance bekerja sama dengan BRI yang menjadi tempat untuk meningkatkan skill dan kualitas para pengelola UKM  di negara ini. Unhas juga  membuka program S2 bidang Keuangan Micro yang bertujuan untuk menghasilkan sumber daya yang terlibat dalam langsung dalam aktivitas usaha bisnis kecil dan menengah.  “Kami ingin berbuat yang terbaik, ingin menghasilkan keluaran yang berkualitas dan berdaya saing, dan yang paling penting kami ingin berkontribusi untuk kemaslahatan bangsa dan negara. Bersama pemerintah kami ingin mewujudkan bangsa ini sejahtera, berkeadilan, berdaulat, dan bermartabat, “ tutup Dwia di akhir pidatonya.

Sementara itu, dalam pidatonya, Prof Suyatno selaku Ketua FRI 2017 mengatakan bahwa Forum Rektor Indonesia ini merupakan gerakan moral dan intelektual yang selalu hadir dan mengawal proses perubahan bangsa kearah yang lebih baik. FRI adalah lembaga independen sekaligus mitra pemerintah yang berkomitmen untuk ikut menyelesaikan persoalan bangsa dan negara.

Pada tahun 2017 lalu, FRI telah melakukan sejumlah kajian terhadap program Nawacita pemerintah dalam membangun bangsa, yaitu kajian revitalisasi dan pembangunan maritim dan sumber daya laut, revitalisasi ekonomi Pancasila, haluan dan perencanaan pembangunan nasional, penguatan karakter dan nilai-nilai budaya  bangsa, ekonomi syariah, sistem demokrasi dan politik Indonesia, dan teknologi informasi dan inovasi.

Dari hasil kajian tersebut, kata Prof. Suyatno, Forum Rektor Indonesia merekomendasikan beberapa hal, antara lain;

1) Dalam kajian maritim dan kelautan, pemerintah perlu melakukan langka-langkah konkret dalam meningkatkan kemampuan nelayan dan industri yang berbasis rumah tangga di daerah pesisir, sesuai dengan tujuan Jokowi yang akan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

2) Pada kajian ekonomi Pancasila, FRI memberikan rekomendasi pemerintah untuk mengatasi ketimpangan dan kesenjangan ekonomi dengan kebijakan ekonomi yang berkeadilan.

3) Kajian FRI di bidang politik, pemerintah mengimplementasikan sistem desentralisasi dan sentralisasi dengan menjadikan Pancasila sebagai tujuan dan landasan berbangsa dan bernegara.

4) Kajian haluan dan perencanaan pembangunan nasional, FRI menyarankan untuk menggulirkan dan merumuskan gagasan reformulasi GBHN sebagai arah perencanaan pembangunan nasional.

5) Dalam konteks penguatan karakter dan nilai-nilai budaya, FRI merekomendasikan untuk mengembalikan nilai kehidupan Pancasila, khususnya melalui perguruan tinggi.

6) Di bidang ekonomi Syariah, pemerintah perlu melakukan kerja sama dengan OJK dalam rangka mengembangkan ekonomi mikro.

7) Dalam bidang teknologi informasi dan inovasi, KRI merekomendasikan agar perguruan tinggi harus menghasilkan riset dan  inovasi untuk mendukung sektor ekonomi dan daya saing bangsa. 

“Harapan kami hasil-hasil Pokja  FRI 2017 ini dapat menjadi bahan kajian dan masukan bagi pemerintah dalam rangka meneruskan pembangunan dan program Nawacita Bapak Presiden Jokowi-Jusuf Kalla,“ kata Suyatno.

Untuk tahun 2018, menurut Suyatno, konvensi kampus ke XIV ini FRI akan memfokuskan pada 4 kajian pokok;

Pertama, pembangunan ekonomi nasional yang berdaulat, berkeadilan, dan mensejahterakan;

Kedua, penguatan demokrasi Pancasila untuk memperkokoh nasionalisme;

Ketiga, pendidikan tinggi yang mampu meningkatkan daya saing bangsa;

Keempat, kepemimpinan nasional yang cerdas dan berkarakter.

Hal ini sesuai dengan dinamika perkembangan dan perubahan di era revolusi industri 4.01. Sehingga perguruan tinggi harus mampu berkontribusi terhadap permbangunan bangsa dan nasional.

“Pada kesempatan ini kami haturkan penghargaan dan ucapan terima kasih setulus-tulusnya dan setinggi-tingginya, karena Bapak Presiden di tengah kesibukan selalu hadir di tengah keluarga besar Forum Rektor Indonesia. Ini merupakan salah satu bukti komitmen Bapak Presiden sangat memperhatikan pengembangan pendidikan, khususnya pendidikan tinggi,” ujar Suyatno.

Setelah Ketua FRI tersebut memberikan pidato laporannya, Presiden Jokowi maju ke podium untuk membawakan pidato sekaligus membuka secara resmi acara konferensi FRI 2018. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi mengatakan bahwa tahun 2018 dan 2019 merupakan tahun prioritas dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Menurut  Jokowi, pengembangan sumber daya manusia tidak pernah tidak prioritas dalam kebijakan pemerintah. “Akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan, pendidikan vokasional, training vokasional harus terus kita tingkatkan, “ kata Jokowi.

Presiden menambahkan, mulai tahun ini, terutama tahun depan terobosan besar harus dilakukan di bidang pengembangan sumber daya manusia, khususnya di sektor pendidikan. Teroboson di bidang pendidikan harus lebih signifikan dibanding terobosan infrastruktur. “Sekali lagi terobosan besar dalam pengembangan sumber daya manusia, terobosan besar dalam pengembangan pendidikan tinggi harus kita lakukan secara serius. Artinya Bapak Ibu Rektor harus bekerja lebih keras lagi,“ tegas Jokowi.

Dalam pidatonya, Jokowi  mengatakan secara langsung pada Menristekdikti untuk melakukan deregulasi dan debirokratisasi di kementerian pendidikan tinggi. Jokowi juga meminta pada Menristekdikti mengembangkan sistem informasi yang andal dan membuat aplikasi informasi sederhana yang memudahkan pekerjaan administasi. Hal itu akan menjadi contoh bagi kementerian yang lain. “Karena biasanya yang cepat merubah dan berubah itu memang perguruan tinggi, dan harus dimulai dari kementerian Ristekdikti lebih dahulu,“ kata Jokowi dalam pidatonya yang cukup panjang tersebut.

Jokowi juga mengatakan bahwa tidak semua perguruan tinggi harus menjadi World Class University. Namun semua universitas harus menjadi relevan dan berkontribusi bagi lingkungan dan masyarakat. Ada perguruan tinggi yang berkontribusi di level lokal, tingkat nasional, dan ranah global.

“Misalnya sebuah universitas yang berdiri di daerah pesisir atau kepulauan bisa memberikan nilai lebih atas keberadaan pantai atau  laut di daerahnya, melalui inovasi pembudidayaan ikan, pengolahan hasil-hasil laut, pelestarian budaya bahari, dan lain-lainnya. Begitu juga universitas yang berada di daerah pertanian, inovasi dan pengelolaan lahan  yang efektif dan efisien, teknologi peningkatan hasil peternakan dan industri pengolahan, penyediaan air dan energi  yang efisien dan inovatif, dan masih banyak lagi,“ kata Presiden. Bagi perguruan tinggi besar, tambahk Jokowi, harus mampu bersaing di level global,dan mengembangkan program studi atau fakultas baru yang inovatif yang dapat berperan menyelesaikan persoalan ekonomi global.

Usai berpidato, Jokowi yang didamping Menristekdikti, Gubernur Sulsel, Rektor Unhas dan Ketua FRI 2017, melakukan pemukulan gendang sebagai tanda diresmikannya acara pembukaan   FRI 2018 tersebut. Acara lalu ditutup dengan pembacaan doa yang dibawakan oleh KH Dr. (HC) Sanusia Baco.(*)

Berita terkait :

Share berita :

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email

This post is also available in: Indonesia