Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) melakukan sosialisasi Peraturan Menteri Ritekdikti Nomor 29 Tahun 2019 mengenai Pengukuran dan Penetapan Tingkat Kesiapan Inovasi (Katsinov). Kegiatan ini berlangsung pada pukul 09.00 WITA di Aula LPMPP Unhas, Kampus Tamalanrea Makassar, Jumat (02/08).
Turut hadir Rektor Universitas Hasanuddin (Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA), Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemristekdikti (Dr. Ir. Jumain Ape, M.Si), Direktur Sistem Inovasi Kemristekdikti (Dr. Ir. Ophirtus Sumule, DEA), serta jajaran pimpinan Universitas Hasanuddin.
Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan kepada Unhas untuk membantu proses sosialisasi Permenristekdikti ini. Beliau menjelaskan bahwa, Unhas sangat mendukung kegiatan-kegiatan di bidang inovasi. “Salah satu prestasi yang baik, kata Dwia, “adalah ketika kita bisa menghadirkan manfaat lebih dalam masyarakat. Inovasi menjadi salah satu sarana yang bisa dilakukan”.
Hal ini dilihat dari dukungan yang diberikan oleh Unhas kepada dosen yang memang memiliki ketertarikan dalam bidang penelitian guna menghasilkan inovasi. Semangat inovasi merupakan trend baru yang harus ada pada diri setiap akademisi.
“Kita punya banyak center of excelent. Dosen yang punya ketertarikan kami berikan dukungan penuh, kami berikan kemudahan untuk melakukan penelitian. Jumlah beban SKS dalam pengajaran kami kurangi agar mereka tidak harus bolak balik dari dari Makassar ke lokasi center of excellent yang jauh,” jelas kata Dwia.
Sementara itu, Direktur Sistem Inovasi Kemristekdikti, Ophirtus Sumule menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu sarana untuk memberikan pemahaman dan informasi terkait Katsinov. Ophirtus mengakui bahwa salah satu pendorong kegiatan ini adalah presentasi yang diberikan oleh Rektor Unhas beberapa lalu di Jakarta tentang kebijakan inovasi Unhas, yaitu tentang tantangan membangun suatu sistem inovasi yang dapat terukur dan memberi dampak untuk masyarakat.
Dalam kegiatan ini, berbagai institusi yang dihadirkan berasal dari Sulawesi Selatan yang memiliki ekosistem inovasi yang cukup signifikan. Nantinya, setelah kegiatan ini akan ada proses tindak lanjut terkait Katsinov dan audit bagi peserta yang memiliki ketertarikan dalam bidang tersebut.
“Ada dua kegiatan yang kami lakukan sekarang, yakni pengukuran Tingkat Kesiapan Inovasi, dimana fungsinya untuk mengevaluasi hasil penelitian dan mendorong inovasi yang potensial untuk masuk ke industri. Selain itu, audit teknologi juga diharapkan bisa menghasilkan auditor yang mampu menjadi problem solving. Sekarang kita lakukan sosialisasi, diikuti oleh 29 institusi di Sulawesi Selatan yang menurut kami memiliki ekosistem inovasi yang cukup signifikan,” kata Ophirtus.
Kegiatan ini dibuka oleh Direktur Jendral Penguatan Inovasi Kemristekdikti, Dr. Ir. Jumaen Ape, M.Si. Dalam sambutannya, Jumain menyampaikan sosialisasi ini penting untuk dilakukan, agar akademisi lebih memahami mengenai inovasi itu sendiri.
“Dalam pidato presiden bulan Juni lalu, beliau sangat menekankan pentingnya inovasi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dalam negara. Beliau menyatakan bahwa perubahan yang terus menerus harus diadaptasi dan kita mencari solusi suatu permasalahan. Maka itulah yang disebut Inovasi,” kata Jumain.
Kegiatan sosialisasi yang berlangsung sehari ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta.(*)
Editor : Ishaq Rahman




