Penghujung tahun 2019, Universitas Hasanuddin mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Monitoring dan Evaluasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat 2019 dan Rencana Kerja 2020. FGD yang dihadiri oleh para Wakil Rektor, Ketua Lembaga, Dekan, dan Dewan Riset lingkup Unhas ini berlangsung di Hotel Four Points, pada Jumat (29/11) dimulai pada pukul 14.00 WITA.
Wakil Rektor bidang Inovasi dan Kemitraan, Prof. dr. Muh. Nasrum Massi, PhD bertindak selaku moderator. Adapun topik yang dibahas dalam FGD ini adalah Hasil Monev Riset 2019 Dana Internal Unhas, Rencana Induk Penelitian Unhas 2015-2020, dan Proposal 2020-2025, dan Rencana Riset Internal 2020 Unhas.
Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Dr. Ir. Abd. Rasyid J., M.Si memaparkan capaian LP2M tahun 2019. Dalam paparannya, beliau menunjukkan 6 skema penelitian internal Unhas, yaitu:
– Penelitian Dosen Penasehat Akademik (PDPA),
– Penelitian Dosen Pemula Unhas (PDPU),
– Penelitian Dasar Unhas (PDU),
– Penelitian Inovasi dan Pengembangan Unhas (PIPU),
– Penelitian Terapan Unhas (PTU), dan
– Riset Unggulan Unhas (RUNHAS).
Sementara untuk pengabdian masyarakat terdapat 3 skema, yaitu:
– Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM),
– Program Kemitraan Unhas (PK-UH), dan
– Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK).

Pada tahun 2019, capaian LP2M dengan dua gelombang usulan proposal, secara keseluruhan menyentuh angka 852 proposal, sedang jumlah yang diterima sebanyak 373 proposal.
Selain proposal, Dr. Rasyid juga membahas tentang anggaran hibah untuk penelitian dan pengabdian masyarakat. Untuk kategori penelitian, ada 211 judul penelitian yang menjadi output. Adapun jenis outputnya adalah Jurnal, HaKI (Hak Kekayaan Intelektual), dan Luaran Tambahan. Sedang untuk kategori pengabdian, ada 113 output dengan jenis Luaran Wajib (Jurnal), Luaran Tambahan, dan Publikasi Ilmiah/Prosiding.
“Per hari ini, capaian kita di bidang penelitian dan pengabdian sudah 80%,” tutup Dr. Rasyid.
Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Herry Sonjaya DEA, DES melanjutkan FGD dengan topik pembahasan kedua. Dalam bahasan materinya, beliau menekankan bahwa road map dan Rencana Induk Penelitian (RIP) merupakan hal yang penting dalam menjalankan suatu institusi penelitian.
Prof. Herry mengemukakan bahwa Unhas perlu merevisi renstra karena ada beberapa poin yang kurang sesuai dengan perkembangan IPTEK. Juga, revisi Renstra Unhas akan memberikan banyak manfaat dalam mengembangkan citra dan koneksi Unhas.
"Penelitian kita harus spesifik berbasis Benua Maritim Indonesia, Revolusi Industri 4.0, dan Rencana Induk Riset Nasional 2017-2045 berbasis Prioritas Riset Nasional (PRN) flagship," ungkap Prof. Herry.
Setiap fakultas harus menentukan topik-topik unggulan penelitian yang nantinya akan dipilih setiap departemen untuk dikelola. Lebih lanjut lagi, Prof. Herry mengemukakan bahwa penelitian di Unhas tidak hanya berbasis monodisiplin, tetapi baiknya juga dibuat secara penelitian terpadu universitas dari beberapa disiplin ilmu.
Hasil FGD ini akan disosialisasikan ke semua fakultas agar bisa menjadi acuan dan pedoman dalam penyusunan Rencana Strategi dan Rencana Induk Penelitian. FGD ini dijadwalkan berlangsung hingga Sabtu (30/11) ini.(*)
Editor : Ishaq Rahman, AMIPR




