Universitas Hasanuddin melalui Fakultas Pertanian terus memperkuat langkahnya dalam mendukung ketahanan pangan dan pengembangan komoditas hortikultura unggulan. Setelah sukses memproduksi 3,2 juta bibit pisang Cavendish pada tahun 2023, Unhas kini melanjutkan program pengembangan skala besar dengan target 20 juta bibit pada tahun 2024 melalui teknologi kultur jaringan.
Program ini menjadi bagian dari kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Unhas dalam gerakan Gemar Menanam Pisang (G2MP). Inisiatif ini diharapkan mampu menjadikan Sulawesi Selatan sebagai salah satu pusat produksi pisang Cavendish nasional yang berdaya saing ekspor.
Di bawah koordinasi Prof. Dr. Agr.Sc. Ir. Baharuddin bersama tim peneliti multidisiplin Fakultas Pertanian Unhas, proses pengembangan dilakukan secara terpadu mulai dari laboratorium hingga tahap uji lapangan. Melalui pendekatan bioteknologi, tim berhasil menghasilkan bibit unggul, seragam, dan bebas penyakit dengan metode kultur jaringan. Bibit tersebut juga telah divaksinasi menggunakan mikroba endofit dan pupuk hayati yang telah dipatenkan oleh Unhas.
Selain produksi di laboratorium, Unhas juga menyiapkan pilot project budidaya di lahan seluas 0,5 hektare dengan kapasitas 1.000 pohon pisang Cavendish. Sistem budidaya dirancang sesuai standar ekspor, mencakup irigasi tetes, pembungkusan buah menggunakan polyethylene (PPE), serta perlindungan tanah dengan formula Triba yang mengandung Trichoderma sp. dan Bacillus subtilis untuk menekan patogen tular tanah.
Pengembangan pisang Cavendish ini merupakan wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah dan nasional. Teknologi yang dikembangkan Unhas menjadi bentuk implementasi ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan masyarakat melalui paten dan inovasi yang diterapkan pada skala produksi dan pemberdayaan petani.
Kerja sama strategis juga dilakukan dengan PT Inhutani untuk penguatan infrastruktur lahan dan distribusi, serta dukungan dari pemerintah Jepang dan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang menunjukkan meningkatnya minat internasional terhadap pengembangan Cavendish di Indonesia Timur.
Setiap bulan, laboratorium pembibitan Unhas mampu menghasilkan sekitar 5.000 bibit sehat atau sekitar 60.000 bibit per tahun. Produksi ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan program G2MP, tetapi juga untuk mendukung petani lokal dan masyarakat sekitar hutan.
Program yang berlangsung sepanjang tahun 2024 ini juga menjadi wahana pembelajaran bagi mahasiswa pertanian dalam kegiatan magang, riset, dan praktik budidaya modern. Pendekatan ini menanamkan keterampilan teknis sekaligus jiwa kewirausahaan kepada generasi muda pertanian.
Melalui inovasi bioteknologi dan sinergi lintas sektor, Unhas menargetkan pengembangan pisang Cavendish berbasis kultur jaringan tidak hanya sebagai kegiatan akademik, tetapi juga sebagai model pertanian tropis berkelanjutan yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani, menjaga ekosistem, dan memperkuat posisi Sulawesi Selatan dalam rantai pasok hortikultura nasional.
Inisiatif ini juga mencerminkan komitmen Unhas terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 15: Menjaga Ekosistem Darat) melalui penerapan bioteknologi yang ramah lingkungan. Pengembangan bibit pisang unggul berbasis kultur jaringan mendukung pelestarian sumber daya hayati, perbaikan kualitas tanah, serta pengelolaan lahan berkelanjutan yang berkontribusi pada keseimbangan ekologi dan ketahanan pangan nasional.




