Berita Terbaru

UNIVERSITAS HASANUDDIN

Dari Geo-AI hingga Kedokteran Gigi Modern, Empat Guru Besar Unhas Paparkan Gagasan Strategis bagi Masa Depan

Sebelum dikukuhkan secara resmi sebagai anggota baru Dewan Guru Besar, empat guru besar Unhas menyampaikan pidato penerimaan di hadapan Rapat Paripurna Senat Akademik terbatas, Senin (11/05). Masing-masing guru besar memaparkan pidato penerimaan sesuai bidang keilmuan.

Prof. Dr. Samsu Arif, M.Si

Mengawali pidato pengukuhan, Prof Samsu Arif menguraikan pidato berjudul “Dari Filsafat Ruang ke Geo-AI: Evolusi Pemikiran Spasial dalam Pembangunan Berkelanjutan”. Prof Samsu menjelaskan, pembangunan berkelanjutan tidak dapat dilepaskan dari dimensi ruang. Kebijakan tanpa basis spasial cenderung abai terhadap ekspresi geo-kultural dan distribusi yang berkeadilan. Maka, GIS adalah alat keadilan, dan model spasial adalah juru bicara kebenaran data.

GIS (Geographic Information System) adalah bahasa modern ruang. Di tangan ilmuwan, GIS tidak sekedar memvisualisasi, tetapi membangun narasi spasial yang kritis dan prognostic, menghadirkan kemungkinan alternatif dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

Saat ini kita telah masuk pada era spatial intelligence atau lebih popular dengan istilah Geo-AI dimana stan Openshaw sebagai pionir utama. GIS berpadu dengan machine learning, cloud computing, real time modelling dan WebGIS untuk demokratisasi visualisasi dan partisipasi publik.

“Tantangan etis Geo-AI membawa risiko bias algoritmik, privasi data spasial dan potensi marginalisasi komunitas lokal jika tidak dikelola dengan bijak. Oleh karena itu, setiap inovasi harus disertai dengan prinsip keadilan, transparansi dan partisipasi masyarakat,” jelas Prof Samsu.

Prof. Dr. A. Masniawati, S.Si., M.Si

Prof. Masniawati menyampaikan pidato berjudul “Bioteknologi Padi Lokal Sulawesi Selatan dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional: Dari Plasma Nutfah ke Biofactory”

Padi lokal merupakan plasma nutfah yang potensial sebagai sumber gen pengendali sifat penting pada tanaman padi. Keragaman genetik yang tinggi pada padi lokal dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan padi. Untuk mengurangi risiko kehilangan sumber daya genetik pada aroma lokal, Prof. Masniawati menyebutkan perlunya dilakukan inventarisasi.

Pengembangan padi aromatik di Indonesia telah berorientasi pasar, awalnya hanya pada skala pemuliaan uji coba. Potensi padi lokal aromatik penting sebagai bagian dari kekayaan budaya dan warisan agrikultur masyarakat, setiap varietas memiliki cerita dan sejarah lokal. Umumnya, padi aromatik dimasukkan ke dalam golongan padi khusus sesuai indikasi geografis karena karakteristik kualitas dan aromanya tergantung wilayah.

“Melalui berbagai penelitian yang kami lakukan, padi lokal organik Sulawesi Selatan menunjukkan keragaman morfologi, sifat fisikokimia, serta stabilitas genetik yang mencerminkan potensi adaptasi yang kuat. Dalam sistem biologis yang utuh, tanaman termasuk padi selalu berinteraksi dengan lingkungannya, terutama dengan mikroorganisme yang hidup disekitarnya,” jelas Prof Masniawati

Keunggulan padi lokal tidak hanya terletak pada genetik tanamannya, tetapi juga pada jejaring biologis yang menopangnya. Tanah, mikroorganisme, dan tanaman membentuk satu kesatuan sistem yang bekerja secara dinamis. Ketika sistem ini dipahami dan dikelola dengan pendekatan bioteknologi yang tepat, plasma nutfah lokal dapat dioptimalkan tanpa harus mengorbankan keberlanjutan lingkungan.

“Dari kebutuhan inilah, muncul gagasan tentang biofactory, yang saya maknai sebagai pendekatan biokonversi terpadu yang mengintegrasikan plasma nutfah padi lokal, mikroorganisme fungsional, dan proses fisiologi tanaman dalam satu sistem biologis. Dengan pendekatan ini, pangan tidak lagi dimaknai sebagai hasil akhir, tetapi proses panjang yang melibatkan biokonversi biologis,” tambah Prof Masniawati.

Dalam perspektif biofactory, kearifan local tidak diposisikan sebagai pengetahuan yang berseberangan dengan sains, melainkan sebagai bagian dari sistem biologis yang perlu dibaca dan dipahami secara ilmiah.

Prof. drg. Nurhayaty Natsir, Ph.D., Sp.KG-KR

Prof. Nurhayaty menyampaikan pidato tentang “KG-Paradigma Kedokteran Gigi Estetika dalam Perawatan Gigi Modern”.

Perkembangan teknologi digital telah mentransformasi praktik kedokteran gigi estetik, terutama dalam perencanaan melalui fotografi klinis terstandar, analisis senyum berbasis perangkat lunak, dan simulasi hasil yang lebih akurat serta komunikatif. Prof Nurhayaty menyebutkan, hal ini meningkatkan presisi diagnosis dan komunikasi antara dokter, teknisi dan pasien. Namun, ketergantungan berlebihan tanpa mempertimbangkan kondisi biologis dan fungsional dapat menimbulkan risiko jika tidak diimbangi evaluasi klinis komprehensif.

Tren estetika dapat melahirkan fenomena overtreatment, tindakan invasive pada gigi yang sebenarnya sehat, terutama pada pasien muda. Dalam perspektif kesehatan, overtreatment bukan hanya etika individual, tetapi juga persoalan beban kesehatan jangka panjang. Contoh risiko seperti preparasi agresif untuk veneer/mahkota pada kasus diskolorasi yang sebenarnya dapat ditangani dengan bleaching.

Dalam praktik kedokteran gigi modern, estetika terkait erat dengan kesehatan dan kualitas hidup, karena memengaruhi kepercayaan diri, interaksi sosial, dan kesejahteraan psikologis. Oleh karena itu, perawatan estetik harus dipandang sebagai bagian dari kesehatan yang utuh, selama dilakukan rasional tanpa mengorbankan integrasi biologis gigi dan jaringan pendukung.

“Di tengah pesatnya teknologi dan tuntutan estetika, etika profesi menjadi fondasi menjaga martabat dan kepercayaan publik. Estetika terbaik adalah estetika yang paling sedikit mengorbankan jaringan gigi, dan paling besar menjaga kesehatan jangka panjang,” jelas Prof. Nurhayaty.

Kurikulum kedokteran gigi perlu mengintegrasikan ilmu dasar, keterampilan klinis, etika dan riset untuk menghasilkan dokter yang kompeten, kritis dan berorientasi pada keselamatan pasien. Dalam pelayanannya, pendekatan estetik-biologis harus berpusat pada pasien dan berkelanjutan, guna mendukung kualitas hidup serta kesehatan gigi yang holistic.

Prof. Dr. drg. Marhamah, M.Kes., Sp.KGA

Prof, Marhamah memaparkan pidato berjudul: “Kelainan pada Rongga Mulut Anak yang Berhubungan dengan Penyakit Sistematik”.

Rongga mulut adalah bagian awal dari sistem pencernaan yang memiliki struktur yang kompleks. Agar dapat berfungsi normal, rongga mulut didukung oleh tiga sistem organ, yakni sistem peredaran darah, sistem saraf, dan sistem kekebalan. Ketiganya menghubungkan mulut dengan bagian tubuh lainnya, sehingga gangguan pada salah satunya dapat memengaruhi kesehatan rongga mulut.

“Beberapa penyakit rongga mulut tidak hanya disebabkan mikroorganisme semata, namun dapat dipicu dan diperparah oleh gangguan pada ketiga sistem organ ini. Misalnya saja gangguan pada sistem saraf dapat mengubah kerja organ bahkan kematian sel oleh karena terganggunya asupan nutrisi dan oksigen,” jelas Prof. Marhamah.

Adapun beberapa penyakit sistemik pada anak yang menimbulkan kelainan pada organ mulut antara lain lupus dan penyakit radang usus, diabetes tipe 1, AIDS, Leukimia, hingga epilepsi dan fibrosis kistik. (*/mir)

Editor : Ishaq Rahman

Penyerahan sertifikat pada upacara akademik resmi

Penyerahan dokumen pada upacara akademik resmi

Penyerahan piagam pada upacara akademik profesor

Penyerahan dokumen pada upacara akademik resmi

Berita terkait :

Share berita :

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email

This post is also available in: Indonesia