Riuh tepuk tangan di panggung Festival Teater Mahasiswa Nasional (FESTAMASIO) XII di Universitas Negeri Malang menjadi saksi hadirnya sebuah kisah dari tanah Bugis yang dibawakan dengan kuat dan reflektif. Lewat pertunjukan Arajang, Teater Kampus Unhas tidak hanya tampil sebagai peserta, tetapi juga mencuri perhatian hingga meraih Penyaji Terbaik II dan Penata Artistik Terbaik.
Festival Teater Mahasiswa Nasional (FESTAMASIO) XII resmi digelar di Universitas Negeri Malang pada 19–25 April 2026. Festival ini menjadi ajang temu sekaligus ruang pertukaran gagasan bagi unit kegiatan mahasiswa (UKM) teater dari kampus non-seni di seluruh Indonesia. Pada edisi kali ini, FESTAMASIO mengusung tema “Ekologi Sosial”, yang mendorong eksplorasi karya-karya teater dalam merespons relasi manusia, lingkungan sosial, dan dinamika budaya.
Sebagai festival dua tahunan berskala nasional, FESTAMASIO juga menerapkan proses kurasi ketat bagi para peserta. Dari berbagai pendaftar, hanya 13 komunitas teater mahasiswa yang lolos dan berkesempatan tampil di panggung utama, termasuk Teater Kampus Unhas.
Ketua Umum UKM Teater Kampus Unhas, Muhammad Haikal Rama Putra, menjelaskan bahwa karya Arajang yang dibawakan merupakan naskah yang ditulis ulang oleh Melani Nas dan disutradarai oleh Fatihatul Fiqra.
Pertunjukan ini mengangkat nilai-nilai budaya Bugis, khususnya tentang Bissu, dengan mengaitkan berbagai isu sosial seperti relasi orang tua dan anak, gender, serta dinamika kebudayaan dalam kehidupan modern.
“Arajang kami hadirkan sebagai refleksi budaya sekaligus potret realitas sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Rama.
Di balik capaian tersebut, tersimpan proses panjang yang penuh dinamika. Persiapan produksi telah dimulai sejak Desember, diiringi dengan perubahan struktur tim, keterbatasan waktu dan ruang latihan, serta tantangan pendanaan. Meski demikian, konsistensi tim dalam menjaga kualitas karya menjadi kunci utama keberhasilan.
Pendekatan berbasis riset yang kuat serta eksplorasi artistik yang matang turut mengantarkan Teater Kampus Unhas meraih apresiasi dari dewan juri. Penyajian yang solid mampu merangkum kompleksitas budaya Bissu sekaligus menghadirkan pesan yang relevan dengan realitas kekinian, selaras dengan tema “Ekologi Sosial” yang diangkat dalam festival.
Penghargaan Penata Artistik Terbaik juga menjadi capaian individu yang diraih oleh Andika Rahmat (Ilmu Komunikasi 2024), yang dinilai berhasil menghadirkan tata artistik yang kuat, kreatif, dan berbasis riset dalam mendukung keseluruhan pertunjukan Arajang.
Adapun tim Teater Kampus Unhas yang terlibat dalam produksi Arajang terdiri dari:
- Muh Fathir Sagta Gemilang (FISIP/Antropologi)
- Fatihatul Fiqra (FISIP/Antropologi)
- Muhammad Haikal Rama Putra (FISIP/Ilmu Hubungan Internasional)
- Sulistyawati Kumala Dewi S. (FISIP/Antropologi)
- Jumansyah (FISIP/Antropologi)
- Hafiizhah Falisah Halik (FISIP/Antropologi)
- Nurqadri (FISIP/Antropologi)
- Andika Rahmat (FISIP/Ilmu Komunikasi)
- Kayla Fatimah Azzahra (FISIP/Ilmu Komunikasi)
- Julia Reski Amanda (FIB/Sastra Indonesia)
- Feranandayani (FIB/Sastra Indonesia)
- Nur Salsabillah Hardianti (FIB/Sastra Indonesia)
- Nurfaizah (FIB/Sastra Indonesia)
- Asdar (FIB/Sastra Jepang)
- Al-Anshory (Pertanian/Agribisnis)
Capaian ini menjadi lebih dari sekadar prestasi, tetapi juga penegasan bahwa karya seni mahasiswa mampu menjadi medium refleksi sosial sekaligus representasi budaya lokal di panggung nasional.
Ke depan, penghargaan ini diharapkan menjadi pijakan untuk terus melahirkan karya-karya berkualitas sekaligus memperkuat eksistensi UKM kesenian di lingkungan kampus.
“Semoga ini menjadi awal bagi kami untuk terus melangkah ke prestasi berikutnya dan menunjukkan bahwa UKM kesenian juga punya kontribusi besar,” tutup Rama.








