Berita Terbaru

UNIVERSITAS HASANUDDIN

Mesin Pulper: Inovasi Sederhana yang Mengubah Masa Depan Kopi Lokal

BULUKUMBA – Dalam industri kopi, perhatian publik sering tertuju pada teknik sangrai, metode seduh, atau cita rasa di dalam cangkir. Padahal, kualitas kopi sesungguhnya mulai ditentukan beberapa jam setelah buah dipetik. Pada fase inilah proses pemisahan kulit buah (pulp) dari biji menjadi penentu utama mutu kopi. Sedikit keterlambatan saja dapat memicu fermentasi yang tidak terkendali dan menurunkan kualitas hasil panen.

Di sinilah inovasi teknologi sederhana memainkan peran besar. Mesin pulper memang bukan teknologi baru, tetapi bagi banyak usaha kopi rakyat di Indonesia, alat ini mampu mengubah cara kerja, meningkatkan efisiensi, sekaligus menjaga kualitas produk.

Inovasi Sederhana Berdampak Nyata

Pengalaman di CV. Kawali Coffee Farm, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, menjadi contoh bagaimana inovasi tepat guna mampu menjawab persoalan nyata di tingkat petani dan pelaku usaha. Melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dosen dan mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas), mitra memperoleh mesin pulper bermotor berkapasitas sekitar 200 kilogram buah kopi per jam yang dirancang mudah dipindahkan ke lokasi panen.

Namun, yang lebih penting dari sekadar penyerahan alat adalah proses transfer pengetahuan yang menyertainya. Tim pengabdian tidak hanya menyerahkan mesin, tetapi juga memberikan pelatihan intensif kepada operator dan pekerja CV. Kawali Coffee Farm. Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada prinsip kerja mesin pulper, prosedur pengoperasian yang aman, pengaturan kapasitas sesuai kondisi buah kopi, hingga teknik perawatan rutin agar performa mesin tetap optimal dalam jangka panjang.

Pelatihan juga menekankan pentingnya mempercepat waktu antara panen dan proses pengupasan. Peserta diajak memahami bahwa kualitas kopi tidak hanya dipengaruhi oleh varietas tanaman atau kondisi lahan, tetapi juga oleh kecepatan penanganan pascapanen. Semakin singkat buah kopi menunggu sebelum diproses, semakin kecil risiko fermentasi yang tidak diinginkan sehingga karakter rasa kopi dapat dipertahankan dengan lebih baik.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa inovasi bukan hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga membangun kapasitas manusia yang mengoperasikannya. Sebab, mesin secanggih apa pun tidak akan memberikan manfaat maksimal tanpa pengetahuan dan keterampilan pengguna.

Program ini kemudian dilengkapi dengan pelatihan penyusunan Business Model Canvas (BMC) melalui diskusi kelompok terarah. Bersama tim Universitas Hasanuddin, pengelola CV. Kawali Coffee Farm memetakan sembilan elemen utama bisnis, mulai dari segmen pelanggan, proposisi nilai, saluran distribusi, hingga struktur biaya dan sumber pendapatan. Hasilnya adalah sebuah dokumen BMC yang menjadi peta jalan pengembangan usaha dan strategi pemasaran yang lebih terarah.

Kolaborasi antara inovasi teknologi dan penguatan manajemen menunjukkan bahwa peningkatan daya saing kopi tidak cukup hanya melalui mesin yang lebih cepat. Produktivitas harus berjalan beriringan dengan strategi bisnis yang mampu menciptakan nilai tambah bagi produk.

Lahirnya Ide Pengabdian

Gagasan pengabdian ini berawal dari permasalahan yang dihadapi oleh CV. Kawali Coffee. Pimpinan perusahaan ini, Andi Abdillah Suardi, bercerita bagaimana rendahnya kapasitas usahanya dalam pengupasan ceri kopi.

“Proses pascapanen relatif lama, sehingga kualitas bahan baku menurun. Kami juga belum memiliki model bisnis dan strategi pemasaran yang terintegrasi dengan identitas merek yang kuat,” papar Andi Abdillah.

Ketua Tim Pengabdian Unhas, Dr. Februadi Bastian, menjelaskan bahwa berangkat dari persoalan, ia dan beberapa dosen serta mahasiswa berinisiatif mengajukan usulan pengabdian masyarakat melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang dibiayai melalui hibah Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi.

“Masalah yang dihadapi oleh CV. Kawali Coffee juga merupakan masalah yang dihadapi oleh kelompok petani binaan kami. Apalagi, isu ini sangat relevan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang merupakan perhatian nasional dan global,” jelas Februadi.

Dr. Februadi merujuk pada isu-isu pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui peningkatan pendapatan petani kopi, SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Para dosen dan mahasiswa Unhas dalam tim ini menggelar kegiatan lapangan (yaitu Pelatihan dan Focus Group Discussion) di Bulukumba pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Kisah dari Bulukumba ini mengingatkan bahwa inovasi di sektor pertanian tidak selalu harus berupa kecerdasan buatan atau mesin berteknologi tinggi. Sering kali, perubahan terbesar justru lahir dari teknologi yang sederhana, mudah dioperasikan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Unhas, dengan kekuatan riset dan inovasinya, hadir untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.

Tim Pengabdian pada Masyarakat Unhas:

Ketua: Dr. Februadi Bastian, S.Tp., M.Si

Anggota:
1. Dr. rer.nat. Zainal, S.Tp., M.FoodTech
2. Rahmat Nurul Prima Nugraha, S.E., M.Sc

Mahasiswa:
1. Irham Rasyid,
2. Febrio Rynaldo,
3. Andi Arnan,
4. Harum Bunga Cinta,
5. Nurhanifauziah Wijaya,
6. Insani Lathifah
7. Shabrina Rafidah Harun

Mitra sasaran program:
– CV. Kawali Coffee (dipimpin oleh Andi Abdillah Suardi).(*/ir)

Editor : Ishaq Rahman

Berita terkait :

Share berita :

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email

This post is also available in: Indonesia