*JAKARTA* – Universitas Hasanuddin (Unhas) menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan kawasan transmigrasi melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan pada Pelepasan Nasional Ekspedisi Patriot 2026 yang diselenggarakan Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia. Sebagai salah satu dari sepuluh perguruan tinggi unggul yang dipercaya menjadi mitra pendamping, Unhas akan berkontribusi dalam menghasilkan rekomendasi ilmiah dan solusi inovatif untuk memperkuat pembangunan kawasan transmigrasi di berbagai wilayah Indonesia.
Program Ekspedisi Patriot merupakan bagian dari Program Patriot Transmigrasi yang dirancang sebagai model kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Melalui keterlibatan sivitas akademika, program ini mengedepankan pemetaan potensi wilayah, identifikasi persoalan lokal, serta penyusunan rekomendasi berbasis riset guna mendorong pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, M. Iftitah Sulaiman Suryanegara, menjelaskan bahwa pembangunan Indonesia harus menjangkau seluruh wilayah, termasuk kawasan perbatasan dan daerah strategis lainnya. Menurutnya, pembangunan kawasan transmigrasi tidak cukup hanya melalui penyediaan infrastruktur, tetapi juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalamnya.
“Ekspedisi Patriot hadir untuk membantu mengidentifikasi persoalan di kawasan, menemukan solusi yang tepat, serta memastikan masyarakat lokal menjadi pelaku utama yang memperoleh manfaat pembangunan. Program ini bukan sekadar memindahkan penduduk, melainkan mewujudkan pemerataan pembangunan ekonomi,” jelas Iftitah Sulaiman.
Dirinya menambahkan, pemerintah menggandeng sepuluh perguruan tinggi unggul di Indonesia agar setiap proses pendampingan memiliki landasan ilmiah yang kuat. Kehadiran perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang dapat diterapkan sesuai karakteristik setiap kawasan transmigrasi.
Mewakili Rektor Unhas, Wakil Ketua Bidang Pengabdian kepada Masyarakat LPPM Unhas, Prof. Ir. Muhammad Arsyad, S.P., M.Si., Ph.D., menegaskan, Unhas mendukung penuh pelaksanaan Program Ekspedisi Patriot sebagai bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Menurut Prof. Arsyad, Unhas menurunkan sebanyak 125 orang untuk mendukung pelaksanaan program tersebut sekaligus menyinergikan berbagai program pengabdian kepada masyarakat dengan agenda Ekspedisi Patriot agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
“Kami memandang Ekspedisi Patriot sebagai wujud nyata pengabdian perguruan tinggi. Kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan riset, tetapi juga harus mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat melalui solusi atas berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan,” jelas Prof. Arsyad.
Lebih lanjut, Prof. Arsyad menjelaskan terdapat dua fokus utama kontribusi Unhas dalam program ini. Pertama, membantu mengidentifikasi berbagai persoalan di kawasan transmigrasi, melakukan analisis secara ilmiah, serta memberikan alternatif rekomendasi kebijakan kepada Kementerian Transmigrasi. Kedua, mengidentifikasi desa-desa potensial untuk dikembangkan sebagai desa binaan Unhas sehingga pendampingan dapat terus berlanjut meskipun rangkaian Ekspedisi Patriot telah berakhir.
Menurutnya, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjadikan hasil pengabdian tidak berhenti pada pemetaan persoalan, tetapi berkembang menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan sekaligus mendukung pembangunan wilayah strategis nasional.
Sebelumnya, Unhas telah lebih dahulu melepas Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Tahun 2026 pada Kamis (23/7) di Ruang Senat Lantai 2 Gedung Rektorat Unhas. Pelepasan dipimpin langsung oleh Rektor, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., yang menegaskan bahwa Program Patriot Transmigrasi merupakan implementasi nyata visi Kampus Berdampak, yaitu menghadirkan ilmu pengetahuan sebagai solusi atas berbagai persoalan pembangunan masyarakat.
Prof. JJ menjelaskan bahwa para Patriot tidak hanya menjalankan pengabdian, tetapi juga akan memetakan potensi wilayah, mengidentifikasi tantangan pembangunan, serta merancang solusi berbasis riset yang sesuai dengan karakteristik masing-masing kawasan.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara gading yang menghasilkan pendidikan dan riset. Ilmu pengetahuan harus hadir di tengah masyarakat, menjadi solusi atas persoalan nyata, serta memberikan dampak bagi pembangunan kawasan,” tegas Prof. JJ.
Pelepasan Nasional Ekspedisi Patriot 2026 berlangsung di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (30/7), dan dihadiri Wakil Menteri Transmigrasi, jajaran pejabat kementerian terkait, Deputi BRIN, Komisi V DPR RI, serta perwakilan sepuluh perguruan tinggi pendamping. Pada kesempatan tersebut, Kementerian Transmigrasi melepas sebanyak 1.427 Patriot yang akan bertugas di 53 kawasan transmigrasi di Indonesia. (*/tep/mir)






