Pembangunan kesehatan di daerah kerap menghadapi persoalan yang tidak berhenti pada ketersediaan program. Tantangan juga muncul sejak tahap perencanaan: bagaimana membaca persoalan kesehatan dari data, menentukan prioritas, memilih intervensi yang memiliki daya ungkit, hingga memastikan anggaran dan program bergerak dalam arah yang sama.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) mendampingi sejumlah pemerintah daerah dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Kerja (Renja) bidang kesehatan. Pendampingan dilakukan di Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe Kepulauan, Mimika, Kolaka Utara, dan Buton Tengah.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama Biro Perencanaan dan Anggaran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dengan FKM Unhas untuk memperkuat tata kelola perencanaan pembangunan kesehatan di daerah.
Selama proses pendampingan, tim FKM Unhas bersama tim perencana di masing-masing Dinas Kesehatan menelaah kembali dokumen perencanaan yang telah disusun, mengidentifikasi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian, serta menyelaraskan arah program dengan kebijakan pembangunan kesehatan nasional dan kebutuhan daerah.
Pendekatan tersebut menempatkan data sebagai salah satu dasar dalam pengambilan keputusan. Perencanaan tidak sekadar menyusun daftar kegiatan, melainkan merumuskan hubungan antara persoalan, tujuan, intervensi, indikator capaian, dan sumber daya yang tersedia.
Proses pendampingan menggunakan pendekatan Input–Process–Output. Tahap awal dilakukan melalui penelaahan dokumen perencanaan dan Focus Group Discussion (FGD) untuk memetakan kekuatan, kelemahan, serta tantangan yang dihadapi tim perencana. Tahapan berikutnya dilanjutkan melalui workshop, diskusi teknis, kunjungan lapangan, dan pertemuan daring.
Dalam proses tersebut, tim perencana juga didorong untuk memperkuat kemampuan dalam menentukan masalah prioritas, memilih kegiatan dengan dampak yang lebih besar, membangun koordinasi lintas sektor, serta menyusun kerangka kegiatan dan anggaran secara terintegrasi.
Pendampingan berlangsung sejak Mei hingga September 2025 melalui delapan kali pertemuan pada setiap kabupaten, yang terdiri atas empat kunjungan lapangan dan empat pertemuan daring.
Pengalaman di empat daerah ini memperlihatkan bahwa kualitas pembangunan kesehatan memiliki hubungan erat dengan kualitas proses perencanaannya. Program kesehatan membutuhkan dasar bukti yang kuat agar intervensi yang dirancang dapat menjawab persoalan nyata di masyarakat dan menghasilkan capaian yang dapat diukur.
Kemampuan menerjemahkan data dan target pembangunan ke dalam program, kegiatan, indikator, serta mekanisme pemantauan menjadi bagian penting dari penguatan sistem kesehatan di tingkat daerah. Di titik inilah perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui pendampingan, penguatan kapasitas, dan pengembangan pendekatan berbasis pengetahuan.
Melalui kerja sama ini, FKM Unhas berupaya mendukung pemerintah daerah membangun sistem perencanaan kesehatan yang lebih terintegrasi, responsif terhadap kebutuhan masyarakat, berbasis bukti, dan berorientasi pada hasil.
Penguatan kapasitas perencana daerah juga memiliki relevansi dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Perencanaan dan tata kelola kesehatan yang lebih baik dapat mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 3: Good Health and Well-being, yang mendorong kehidupan sehat dan kesejahteraan bagi seluruh kelompok usia.
Dengan pemanfaatan data yang lebih optimal, perencanaan yang terarah, dan kolaborasi lintas sektor yang semakin kuat, intervensi kesehatan diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih nyata terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Kegiatan pendampingan penyusunan Renstra dan Renja ini dilaksanakan FKM Unhas bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe Kepulauan, Mimika, Kolaka Utara, dan Buton Tengah, melalui kerja sama dengan Biro Perencanaan dan Anggaran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, selama Mei hingga September 2025.
Editor : Ishaq Rahman







