MAKASSAR – Universitas Hasanuddin kembali melakukan prosesi penerimaan anggota Dewan Profesor bagi lima guru besar dari berbagai bidang keilmuan. Masing-masing guru besar menyampaikan pidato penerimaan yang memaparkan perjalanan riset serta gagasan inovatif untuk menjawab tantangan kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan.
Isi pidato mencakup dinamika bakteri dan biomaterial dalam perawatan gigi, pemanfaatan bahan alam untuk penyakit periodontal, pengembangan lebah madu, hingga sastra sebagai ruang dialog budaya. Hal ini mengindikasikan variasi gagasan dan pemikiran yang memperlihatkan kontribusi ilmu pengetahuan Unhas dalam menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Kegiatan berlangsung Rabu (26/08), di Ruang Senat Lantai 2, Gedung Rektorat, Kampus Unhas Tamalanrea. Adapun kelima Professor yang menyampaikan pidato pengukuhannya yakni:
Berikut rangkuman masing-masing pidato pengukuhan para guru besar.
Prof. Dr. drg. Maria Tanumi Hardja, MDSc.,
Guru Besar Bidang Ilmu Konservasi Gigi dan Mikrobiologi Endodontik, Fakultas Kedokteran Gigi.
Judul: “Dinamika Bakteri dalam Saluran Akar Gigi Tantangan dan Harapan Menuju Endodontik yang Lebih Cerdas, Aman, Presisi dan Berbasis Bukti”
Prof. Maria menjelaskan tiga pendekatan utama yakni dinamika bakteri saluran akar gigi, tantangan yang dihadapi dalam memahami dan mengendalikan infeksi endodontik, dan harapan menuju endodontik yang lebih cerdas, aman, presisi dan berbasis bukti.
Perjalanan infeksi saluran akar umumnya dimulai dari karies gigi, yang jika tidak segera ditangani akan berkembang menjadi inflamasi pulpa. Apabila proses tersebut terus berlangsung, jaringan pulpa dapat mengalami nekrosis. Jika proses tersebut terus berlangsung, jaringan pulpa dapat mengalami nekrosis. Setelah jaringan pulpa kehilangan vitalitasnya, ruang pulpa dan saluran akar yang sebelumnya steril, berubah menjadi lingkungan yang memungkinkan mikroorganisme masuk, berkembang dan membentuk komunitas.
Dinamika bakteri dalam saluran akar meliputi perubahan dari kondisi steril menjadi ekosistem mikroba, pembentukan komunitas polimikroba dan biofilm, serta perubahan profil mikroorganisme selama perkembangan penyakit dan setelah tindakan perawatan. Pemahaman ini merupakan landasan ilmiah dalam menentukan cara mendiagnosis, membersihkan, mendisinfeksi hingga memantau saluran akar.
Persoalan utama endodontik bukan hanya tentang membunuh bakteri. Namun, juga berkaitan dengan menentukan mikroorganisme yang masih hidup, menjangkau system anatomi yang kompleks, mengendalikan biofilm serta mengevaluasi hasil perawatan berdasarkan data mikrobiologis, klinis, radiografis dan kebutuhan pasien.
Ditengah kompleksitas endodontik, perkembangan ilmu pengetahuan memberikan harapan besar bagi masa depan endodontik. Seluruh pekembangan tersebut mengarah pada endodontik yang semakin berbasis bukti, presisi, dan berorientasi pada kualitas hidup. Arah ini sejalan dengan konsep P4 dentistry, yaitu Personalized dentistry (perawatan disesuaikan dengan kondisi individual pasien), Predictive dentistry (data klinik dan teknologi), Preventive dentistry (pencegahan hingga pemantauan), dan Participatory dentistry (pasien sebagai mitra aktif pengambilan keputusan dan pemeliharaan kesehatan gigi).
Prof. Dr. Asdar, drg., M.Kes.,
Guru Besar Bidang Ilmu Periodontologi, Fakultas Kedokteran Gigi
Judul: “Pemanfaatan Bahan Alami sebagai Terapi Pendukung Dalam Perawatan Penyakit Periodontal”.
Gambaran epidemiologi global penyakit periodontal menunjukkan bahwa penyakit ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang kompleks dan multifactorial. Oleh karena itu, strategi pengendalian penyakit periodontal harus mencakup upaya promotive, preventif dan kuratif yang terintegrasi, serta didukung oleh penelitian inovatif.
Patogenesis penyakit periodontal merupakan penyakit inflamasi kronis yang memengaruhi jaringan penyangga gigi, termasuk gingiva, ligament periodontal, sementum dan tulang alveolar. Penyakit ini diawali oleh akumulasi biofilm mikroba pada permukaan gigi yang memicu respon imun host, sehingga menghasilkan kerusakan jaringan yang bersifat progresif bila tidak ditangani.
Implikasi klinisi dari penyakit periodontal tidak hanya terbatas pada rongga mulut, namun juga berdampak sistematik. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa inflamasi periodontal kronis dapat berkontribusi terhadap peningkatan Risiko penyakit kardiovaskular melalui mekanisme inflamasi sistemik dan bakteremia.
Terapi konvensional dalam perawatan penyakit periodontal secara umum berfokus pada eminimasi biofilm dan kalkulus melalui prosedur mekanis, terutama scalling dan root planning (SRP), yang hingga saat ini masih dianggap sebagai gold standar. Namun, salah satu keterbatasan utama adalah ketidakmampuan dalam mengatasi biofilm subgingiva yang bersifat kompleks dan resisten. Oleh karena itu, pemanfaatan bahan alam merupakan salah satu upaya mengatasi keterbatasan terapi konvensional dan meningkatkan outcome klinis pasien periodontal.
Secara ilmiah, rasional penggunaan bahan alam didasarkan pada kandungan senyawa bioaktif yang memiliki sifat antiinflamasi, antibakteri, antioksidan dan regenerative. Berbagai fitokimia seperti flavonoid, polifenol, terpenoid dan alkaloid telah terbukti mampu memodulasi jalur molekuler yang terlibat dalam pathogenesis penyakit periodontal.
Dalam konteks regenerasi jaringan periodontal, bahan alam juga menunjukkan potensi yang menjanjikan. Beberapa biomaterial berbasis bahan alam, seperti hidroksiapatit dari cangkang laut, memiliki sifat osteokonduktif dan biokompatibel yang tinggi. Bahan alam memiliki keunggulan dalam hal biokompatibilitas dan keamanan dibandingkan bahan sintesis.
Karena berasal dari sumber biologis, bahan ini umumnya memiliki toksisitas yang rendah dan risiko efek samping yang minimal. Rasional pemanfaatan bahan alam juga diperkuat oleh host modulation therapy dalam periodontology modern. Terapi ini juga bertujuan mengatur respon imun host agar tidak berlebihan dan merusak jaringan.
Beberapa senyawa alami telah terbukti mampu memodulasi jalur imun, seperti menghambat produksi matrix metalloproteinases (MMPs) yang berperan dalam degradasi kolagen, serta meningkatkan produksi sitokin antiinflamasi seperti IL-10.
Prof. Dr. Juni Jekti Nugroho, drg., SpKG SubSp KE.,
Guru Besar Bidang Ilmu Biomaterial Endodontik, Fakultas Kedokteran Gigi
Judul: “Peran Biomaterial Endodontik dalam Preservasi dan Regenerasi Jaringan Gigi”.
Dalam terapi saraf gigi yang vital, terutama saraf gigi yang terbuka secara tidak sengaja saat prosedur perawatan, pilihan biomaterial merupakan penentu utama keberhasilan. Pada kondisi pulpa yang terbuka akibat karies, trauma atau tidak sengaja terbuka saat tindakan perawatan, dokter gigi tidak hanya menutup celah pulpa.
Selama beberapa dekade, kalsium hidroksida adalah bahan penting dalam endodontik. Sifat alkalisnya memberikan efek antibakteri dan mampu menstimulasi pembentukan lapisan pelindung dentin. Namun, bahan ini juga memiliki keterbatasan pH yang tinggi dapat merusak permukaan jaringan, kelarutannya tinggi, ikatan lemah terhadap dentin dan lapisan yang terbentuk masih memiliki celah.
Keterbasan tersebut mendorong pengembangan biomaterial berbasis kalsium silikat, seperti mineral trioxide aggregate, tricalcium silicate cement dan biokeramik. Bahan ini dapat menutup celah pada dentin dengan lebih baik, melepaskan ion kalsium, serta membentuk lapisan menyerupai hidroksiapatit, yaitu mineral utama jaringan keras gigi.
Kemajuan ini belum menjawab seluruh tantangan. Beberapa bahan berbasis kalsium silikat masih memiliki masalah dalam prosedur aplikasi, waktu pengerasan, biaya hingga pelepasan ion kalsium yang belum sepenuhnya optimal. Karena itu, penelitian terus dilakukan untuk memperbaiki biomaterial yang sudah ada agar lebih aman, stabil, lebih mudah digunakan dan sesuai dengan jaringan pulpa.
Salah satu arah riset yang dikembangkan adalah pemanfaatan sumber daya hayati dan sumber mineral alami Indonesia sebagai komponen dari biomaterial endodontik. Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Namun, banyak sumber daya tersebut yang belum dioptimalkan dengan baik dalam bidang kedokteran gigi, khususnya endodontik.
Selain bahan alam organik, penelitian ini juga menaruh perhatian pada mineral alami, khususnya kalsium karbonat dari cangkang, yang seringkali dianggap limbah. Padahal, dari sudut pandang biomaterial, cangkang kaya kalsium karbonat, memiliki organisasi mineral yang khas dan berpotensi diolah menjadi tambahan biomaterial.
Biomaterial endodontik merupakan penentu kualitas penyembuhan serta menghubungkan upaya mempertahankan jaringan, membantu regenerasi, mengembangkan ilmu bahan, dan memberikan perawatan yang berpusat pada manusia dalam upaya mempertahankan gigi alami selama mungkin.
Prof. Dr. Ir. Budiaman, M.P., IPU.,
Guru Besar Bidang Ilmu Serangga Hutan-Lebah Madu, Fakultas Kehutanan.
Judul: “Peranan Lebah Madu Terhadap Pembangunan Bangsa”.
Beberapa spesies lebah dikelola secara luas, termasuk lebah madu Eropa, lebah madu Asia dan beberapa lebah stingless bees, lebah soliter yang dapat membantu penyerbukan bagi tanaman. Di Indonesia sendiri, terdapat 80.000 ton madu per tahun, dimana sebesar 70% dari madu hutan dan 30% madu ternak.
Penelitian di kampung Rimba Fakultas Kehutanan Unhas menunjukkan bahwa lebah madu Tetragonulla biroi dapat diperbanyak secara massal dengan teknik pembelahan koloni dengan metode pembelahan koloni dengan ratu dan tanpa ratu. Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa budidaya lebah madu dapat direkayasa untuk produksi berbagai jenis madu dari aneka buah-buahan yang dibuat formulasi sebagai jus buah pada lebah madu ternak metode cepat untuk produksi madu sari buah mengkudu dengan menggunakan lebah Apis mellifera.
Sementara itu, hasil penelitian pada kawasan industri Makassar menunjukkan bahwa budidaya lebah stingless bees dan produk madu yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bioindicator pencemaran lingkungan perkotaan. Untuk optimalisasi produksi madu dan propolis Tetragonula biroi, telah ditemukan prototype peti bentuk vertical yang terbaik pada lebah stingless bees.
Serangga lebah madu dalam alam yang wilayahnya iklim tropis termasuk Indonesia, merupakan habitat dan surga bagi kehidupan lebah madu dan tumbuhnya berbagai industry biologi terkait, telah terbukti berperan sangat penting dalam pembangunan bangsa. Unhas bisa hadir sebagai pusat riset dan pengembangan lebah madu.
Prof. Dra.Herawaty Abbas, M.Hum., M.A., Ph.D.,
Guru Besar Bidang Ilmu Kesusastraan, Fakultas Ilmu Budaya.
Judul: “Kesusastraan Australia sebagai Ruang Dialog Budaya: Membaca Identitas, Memori, Keberagaman, dan Harmoni Kemanusiaan dalam Dunia yang Majemuk”.
Salah satu manfaat terbesar kajian kesusastraan Australia adalah kemampuannya membantu memahami keberagaman. Australia merupakan negara yang dibangun melalui perjumpaan berbagai kelompok budaya (masyarakat aborigin, keturunan Eropa, migran Asia, komunitas Timur Tengah, dan berbagai kelompok diaspora lainnya. Novel Promising Azra karya Helen Thurloe memperlihatkan identitas bukan sesuatu yang kaku dan tunggal, melainkan sesuatu yang terus dibentuk melalui interaksi sosial.
Sastra berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan budaya yang berbeda. Melalui karya-karya Australia, mahasiswa Indonesia dapat memahami kehidupan masyarakat yang secara geografis dekat, tetapi secara budaya sering kali kurang dipahami. Sebaliknya, kajian sastra membuka peluang bagi terjadinya dialog antara pengalaman Indonesia dan Australia.
Sastra berperan membangun harmoni sosial. Melalui penelitian terhadap karya Australia, ditemukan bahwa berbagai konflik sosial seringkali berakar pada kegagalan memahami pengalaman orang lain. Diskriminasi muncul ketika manusia tidak mampu melihat kemanusiaan dalam diri orang yang berbeda. Sastra bukan sekedar kajian tentang teks, melainkan kajian tentang manusia dan masa depannya. (*/mir)
Editor : Ishaq Rahman









