Berita Terbaru

UNIVERSITAS HASANUDDIN

Dukung Ekosistem Laut Berkelanjutan, Unhas Terlibat dalam Konservasi Teluk Bone  

MAKASSAR– Tekanan terhadap wilayah pesisir dan ekosistem laut menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya perairan Teluk Bone. Berbagai aktivitas di kawasan pesisir berpotensi menimbulkan dampak terhadap kondisi fisik, kimia, dan biologis perairan sehingga diperlukan langkah pengelolaan yang mampu menjaga kelestarian ekosistem sekaligus mengakomodasi pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. 

Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui tim teknis penyusun dokumen zonasi dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (Fikp) turut berpartisipasi dalam kegiatan Evaluasi Teknis Usulan Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Teluk Bone di Kabupaten Bone dan Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis (23/10) di Swiss-Belhotel Makassar.  

Keterlibatan Unhas dalam proses tersebut tidak hanya melalui penyusunan dokumen rencana zonasi, tetapi juga penyediaan kajian dan pertimbangan ilmiah yang mendukung penetapan Kawasan Konservasi Perairan Teluk Bone. Kontribusi ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-14, Life Below Water, yang mendorong konservasi dan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Kajian yang disusun turut memberikan dasar ilmiah bagi pengelolaan kawasan pesisir dan laut dengan memperhatikan kondisi ekosistem, perlindungan keanekaragaman hayati, serta keberlanjutan pemanfaatan sumber daya perairan. 

Evaluasi teknis diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan melalui Direktorat Konservasi Ekosistem. Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, SKK Migas, Lembaga Maritim Nusantara (LEMSA), serta tim teknis penyusun dokumen zonasi.

Tim teknis Unhas yang terlibat dalam penyusunan dokumen tersebut terdiri atas Prof. Dr. Chair Rani, M.Si., Prof. Ahmad Faizal, S.Kel., M.Si., dan Muhammad Dalvi Mustafa, S.Pi., M.Si.  Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan dari unsur pemerintah pusat dan daerah, akademisi, serta lembaga terkait. Hadir antara lain perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, Cabang Dinas Kelautan Bosowasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Makassar, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang, SKK Migas, dan Lembaga Maritim Nusantara (LEMSA). 

Dari Unhas, Prof. Dr. Chair Rani, M.Si. mengukapkan Unhas hadir dalam menangani perluasan dan penetapan kawasan konservasi, pengelolaan efektif, blue carbon dan terumbu karang, serta konvensi dan neraca sumber daya laut.   

“Kegiatan evaluasi teknis ini merupakan kelanjutan dari proses penyusunan Rencana Zonasi Kawasan Konservasi Perairan Teluk Bone yang telah dilaksanakan sebelumnya. Penyusunan dokumen diawali melalui serangkaian forum diskusi bersama para pemangku kepentingan, pengumpulan data, serta kajian terhadap kondisi kawasan hingga tersusunnya rencana zonasi,” Ujar Prof. Chair Rani.

Dokumen zonasi tersebut mendukung upaya pengelolaan kawasan pesisir dan laut secara berkelanjutan. Penyusunannya turut memperhatikan upaya meminimalkan dampak terhadap kondisi fisik, kimia, dan biologis wilayah pesisir serta menjaga kelestarian ekosistem laut di kawasan Teluk Bone.

Perahu nelayan berlabuh di kanal berlatar pohon kelapa

Setelah proses penyusunan dokumen rampung, tahapan selanjutnya dilaksanakan melalui evaluasi teknis terhadap usulan penetapan Kawasan Konservasi Perairan Teluk Bone yang mencakup wilayah Kabupaten Bone dan Kabupaten Sinjai. Evaluasi dilakukan untuk menelaah substansi teknis dokumen sekaligus menghimpun masukan dari berbagai pihak terkait sebelum proses penetapan kawasan dilanjutkan.

Prof. Dr. Chair Rani, M.Si. menjelaskan bahwa tim penyusun rencana zonasi Kawasan Konservasi Teluk Bone diundang oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan untuk memberikan penjelasan dan masukan terkait substansi teknis dokumen yang telah disusun. 

“Tim yang terlibat dalam penyusunan rencana zonasi kawasan konservasi Teluk Bone diundang untuk bersama-sama melakukan evaluasi teknis terhadap usulan penetapan kawasan konservasi perairan di Kabupaten Bone dan Kabupaten Sinjai,” ujarnya.

Melalui keterlibatan akademisi Unhas, proses penyusunan dan evaluasi kawasan konservasi memperoleh dukungan perspektif ilmiah berdasarkan kajian terhadap karakteristik dan kondisi ekosistem perairan Teluk Bone. Kontribusi tersebut memperkuat peran perguruan tinggi dalam menyediakan basis pengetahuan bagi penyusunan kebijakan dan pengelolaan sumber daya kelautan.

Kegiatan ini juga melanjutkan kolaborasi Unhas bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan berbagai pemangku kepentingan dalam penyusunan rencana zonasi Kawasan Konservasi Perairan Teluk Bone. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan Teluk Bone yang menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus memperhatikan pemanfaatan sumber daya perairan bagi masyarakat di wilayah sekitarnya. (*/aya)

Editor: ISHAQ RAHMAN

Kolase sembilan biota laut di terumbu karang
Ragam biota laut penghuni ekosistem terumbu karang. Mulai dari bulu babi hingga karang dan kima.

Berita terkait :

Share berita :

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email

This post is also available in: Indonesia