Soppeng – Kesehatan masyarakat tidak hanya dapat dibaca melalui angka dan data. Di balik setiap persoalan kesehatan, terdapat kondisi lingkungan, kebiasaan, akses layanan, hingga pengalaman warga yang perlu dipahami secara langsung. Perspektif inilah yang mulai digali mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) saat menjalani Praktik Belajar Lapangan I (PBL I) di Desa Ganra, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng.
Langkah awal itu dimulai melalui Seminar Awal PBL I yang digelar mahasiswa Posko 33 di Cafe Baca Kantor Desa Ganra, Selasa (15/7). Forum tersebut mempertemukan mahasiswa dengan pemerintah desa, kader kesehatan, dan masyarakat untuk membuka ruang komunikasi sekaligus mengenali kondisi kesehatan yang berkembang di tengah masyarakat.
Sebanyak 26 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Hadir Kepala Desa Ganra Andi Wahyu Gunawan, S.Sos., M.Si., bersama jajaran aparat dan staf desa, Kepala Dusun Bakke, perwakilan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), TP PKK Desa Ganra, kader Posyandu, perwakilan Bhabinkamtibmas, serta masyarakat Desa Ganra.
Pertemuan tersebut menjadi titik awal bagi mahasiswa untuk memahami Desa Ganra dari perspektif masyarakat. Informasi yang diperoleh dari warga nantinya menjadi bagian dari proses identifikasi dan pemetaan masalah kesehatan yang akan dilakukan selama pelaksanaan PBL I.
Koordinator Desa Posko 33, Nur Pratika Adeliyana Latif, mengatakan kehadiran mahasiswa diarahkan untuk menemukan masalah kesehatan yang menjadi prioritas dengan melibatkan masyarakat dalam prosesnya.
“Keberadaan kami di Desa Ganra diharapkan dapat menjadi proses belajar bersama. Dukungan pemerintah desa, kader kesehatan, dan masyarakat sangat penting agar masalah kesehatan yang kami temukan benar-benar menggambarkan kondisi di lapangan,” jelas Nur Pratika Adeliyana Latif.
Pendekatan tersebut membuat proses PBL tidak berhenti pada pengumpulan informasi. Mahasiswa belajar melihat keterkaitan antara berbagai faktor yang memengaruhi kesehatan masyarakat sekaligus memahami bahwa solusi kesehatan perlu disusun berdasarkan kondisi dan kebutuhan setempat.
Kepala Desa Ganra, Andi Wahyu Gunawan, S.Sos., M.Si., menyambut baik kehadiran mahasiswa FKM Unhas. Ia berharap pelaksanaan PBL I dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan mendukung upaya peningkatan derajat kesehatan di Desa Ganra.
Dalam sambutannya, ia juga berbagi gambaran mengenai kondisi Desa Ganra serta mengajak masyarakat untuk berpartisipasi selama rangkaian kegiatan berlangsung. Keterlibatan masyarakat dinilai penting agar proses yang dilakukan mahasiswa dapat berjalan selaras dengan kebutuhan desa.
Pada Seminar Awal tersebut, mahasiswa memperkenalkan PBL I beserta tujuan dan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan selama dua pekan. Penjelasan tersebut dilanjutkan dengan diskusi bersama peserta untuk menggali informasi awal sekaligus membangun kesepahaman mengenai proses pembelajaran yang akan dilakukan di tengah masyarakat.
Posko 33 Desa Ganra terdiri atas tujuh mahasiswa dari berbagai peminatan di FKM Unhas, yakni Nur Pratika Adeliyana Latif dari Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP), Fransisca Budi Ayuningsih Ruliawan dari Kesehatan Lingkungan (Kesling), Rifka Sari dari Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK), Afra Izza Amatullah dan Zhafirah Yustiani dari Epidemiologi, Ekayanti Bubun dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta Farhana Putri Qanitah dari Manajemen Rumah Sakit (MRS). Seluruh kegiatan didampingi supervisor Basir, SKM., M.Sc.
Pengalaman turun langsung ke masyarakat memberi ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan kesehatan yang memiliki konteks lokal. Data dan informasi yang dikumpulkan selama proses PBL I diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami prioritas kesehatan secara lebih objektif dan merancang pendekatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat.
Upaya tersebut turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3: Good Health and Well-Being, yang menempatkan kesehatan dan kesejahteraan sebagai bagian penting dari pembangunan berkelanjutan. Melalui pembelajaran berbasis masyarakat, FKM Unhas mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar memahami teori kesehatan, tetapi juga membangun kemampuan membaca masalah, bekerja bersama masyarakat, dan berkontribusi dalam menemukan solusi berbasis kebutuhan.
Dari Desa Ganra, proses belajar itu dimulai dengan mendengar. Sebab, sebelum menentukan persoalan yang perlu ditangani, mahasiswa perlu memahami terlebih dahulu bagaimana masyarakat melihat dan mengalami persoalan kesehatannya sendiri.
Editor : Ishaq Rahman




