Universitas Hasanuddin terus memperkuat jejaring internasional di bidang kelautan dan perikanan melalui kolaborasi strategis bersama Shanghai Ocean University (SHOU) dan Guangdong Ocean University (GDOU). Kemitraan ini diarahkan untuk mempercepat pengembangan riset, pendidikan, serta inovasi teknologi yang mendukung pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan. Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam pertemuan delegasi universitas mitra dengan Rektor Unhas di Kampus Unhas Tamalanrea, Selasa (23/6).
Delegasi Shanghai Ocean University yang dipimpin oleh Vice President SHOU bersama delegasi Guangdong Ocean University dan tim peneliti Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas melakukan audiensi dengan Rektor Unhas. Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama sains dan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta perluasan kolaborasi pendidikan dan riset di bidang marine and fisheries.
Berbagai agenda strategis menjadi fokus pembahasan, di antaranya pengembangan program student exchange, penjajakan program double degree antara Unhas, SHOU, dan GDOU, perluasan proyek riset kelautan dan perikanan, hingga penyusunan peta jalan kerja sama sampai tahun 2028. Ketiga institusi juga membahas dukungan pemerintah Indonesia dan Tiongkok terhadap pengembangan marine ranching serta pemanfaatan Unhas TV sebagai media diseminasi berbagai aktivitas kolaborasi internasional.
Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menegaskan bahwa kemitraan internasional harus mampu melahirkan manfaat yang nyata, tidak hanya dalam bentuk publikasi ilmiah, tetapi juga melalui implementasi inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Kemitraan ini merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan ilmu pengetahuan. Ketika tiga universitas menyatukan keunggulan akademik, kapasitas riset, dan jejaring internasional, maka yang dibangun bukan sekadar kerja sama antarinstitusi, tetapi ekosistem inovasi yang mampu menghasilkan solusi bagi keberlanjutan sumber daya laut dan kesejahteraan masyarakat pesisir,” jelas Prof JJ.
Senada dengan hal tersebut, Vice President Shanghai Ocean University, Prof. Weijie Ni menyampaikan bahwa Unhas merupakan mitra strategis dalam memperkuat kolaborasi akademik di kawasan Asia. Menurutnya, sinergi yang dibangun tidak hanya akan memperluas penelitian bersama, tetapi juga membuka peluang yang lebih besar bagi pertukaran mahasiswa, dosen, serta pengembangan teknologi kelautan yang memberikan manfaat bagi kedua negara.
“Kami melihat Unhas sebagai mitra yang memiliki kapasitas akademik dan riset yang sangat kuat di bidang kelautan. Kolaborasi ini diharapkan menjadi pondasi bagi lahirnya inovasi bersama yang berkontribusi terhadap pembangunan sektor kelautan yang berkelanjutan di tingkat regional maupun global,” jelas Prof. Weijie Ni
Dalam pertemuan tersebut, para pihak juga membahas peluang integrasi program marine ranching dan stock enhancement dengan agenda Kampung Nelayan Merah Putih. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat pengembangan kawasan pesisir berbasis sains dan teknologi, sekaligus mendorong peningkatan produktivitas perikanan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan ekonomi pesisir secara berkelanjutan.
Sebagai bagian dari agenda kolaborasi, Unhas, Shanghai Ocean University, dan Guangdong Ocean University melaksanakan Unveiling Ceremony for the Establishment of a Stock-Enhancement-Oriented Marine Ranch. Momentum tersebut menjadi simbol dimulainya pengembangan marine ranch yang berorientasi pada penguatan stok sumber daya perikanan melalui pendekatan ilmiah dan inovasi teknologi.
Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan tersebut menegaskan komitmen ketiga institusi untuk menghadirkan kerja sama yang menghasilkan luaran nyata. Pengembangan marine ranching diarahkan sebagai platform kolaboratif yang mengintegrasikan riset, inovasi teknologi, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat dalam mendukung pengelolaan ekosistem pesisir dan laut secara berkelanjutan.
Kolaborasi ini sekaligus memperkuat posisi Universitas Hasanuddin sebagai salah satu pusat unggulan riset kelautan di Indonesia yang aktif membangun jejaring global untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan maritim melalui pendekatan berbasis sains.
Rangkaian kolaborasi internasional ini telah berlangsung sejak Senin (22/6) melalui kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi strategis di Kepulauan Spermonde, meliputi Pulau Bonetambung untuk meninjau implementasi artificial reef, Pulau Barrang Caddi sebagai lokasi pengembangan budidaya ikan komersial, serta Pulau Barrang Lompo yang menjadi pusat hatchery FIKP Unhas dalam mendukung program stock enhancement.
Keseluruhan kegiatan tersebut menjadi pondasi penguatan kemitraan jangka panjang antara Universitas Hasanuddin, Shanghai Ocean University, dan Guangdong Ocean University dalam mengembangkan marine ranching berbasis sains yang tidak hanya mendorong kemajuan riset dan inovasi, tetapi juga menghadirkan solusi berkelanjutan bagi pengelolaan sumber daya kelautan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. (*/fikp/mir)
Editor : Ishaq Rahman







