Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) memperkuat kontribusinya terhadap pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan melalui kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan kesepakatan pada Kamis, 20 Maret 2025, yang salah satu fokus utamanya merupakan penyusunan kajian tata ruang Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam Ulu sebagai dasar bagi perencanaan wilayah yang berbasis data dan mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan.

Kajian tata ruang DAS memiliki posisi strategis dalam pengelolaan wilayah karena DAS merupakan satu kesatuan ekologis yang menghubungkan kawasan hulu, badan sungai, wilayah sempadan, hingga kawasan hilir. Perubahan tata guna lahan pada satu bagian DAS dapat memengaruhi sistem hidrologi, sedimentasi, kualitas air, serta kondisi ekosistem perairan pada bagian lainnya. Karena itu, perencanaan ruang berbasis DAS diperlukan untuk memastikan pemanfaatan ruang tidak hanya mempertimbangkan aspek pembangunan, tetapi juga daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14: Life Below Water, pengelolaan DAS memiliki keterkaitan penting dengan upaya menjaga keberlanjutan ekosistem perairan. Meskipun SDG 14 secara khusus berorientasi pada konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan laut dan sumber daya kelautan, kondisi ekosistem perairan tersebut tidak dapat dipisahkan dari sistem perairan daratan. Sungai dan DAS merupakan bagian dari konektivitas hidrologis yang membawa air, sedimen, nutrien, maupun berbagai material menuju ekosistem perairan di wilayah hilir.
Melalui kajian tata ruang DAS Mahakam Ulu, Unhas mengambil peran akademik dalam mendorong pendekatan pengelolaan wilayah yang mempertimbangkan keterkaitan antara aktivitas manusia dan fungsi ekologis perairan. Pendekatan tersebut penting untuk mengidentifikasi pola pemanfaatan ruang yang sesuai dengan karakteristik wilayah, sekaligus mendukung upaya menjaga fungsi kawasan sungai dan daerah tangkapan air.
Pengelolaan DAS yang berbasis karakteristik wilayah juga berperan dalam menjaga kualitas habitat akuatik. Tata ruang yang tidak memperhatikan kondisi ekologis dapat meningkatkan tekanan terhadap badan air melalui perubahan tutupan lahan, peningkatan limpasan permukaan, erosi dan sedimentasi, serta masuknya berbagai bahan pencemar ke sistem sungai. Sebaliknya, perencanaan yang mengintegrasikan aspek hidrologi dan ekologi dapat membantu mempertahankan fungsi alami DAS dan menciptakan kondisi yang lebih mendukung keberlanjutan keanekaragaman hayati perairan.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mahakam Ulu menyampaikan harapannya agar kerja sama tersebut dapat menghasilkan kajian yang mampu memberikan solusi komprehensif terhadap berbagai tantangan penataan ruang di wilayah Mahakam Ulu.
“Kajian yang disusun diharapkan dapat menjadi salah satu dasar dalam merumuskan perencanaan wilayah yang mampu menyeimbangkan kebutuhan pembangunan dengan perlindungan terhadap sumber daya alam,” sebut Kepala Dinas PUPR.
Ketua LPPM Unhas, Prof. Dr. Muh. Nasrum Massi, menyambut baik kerja sama tersebut dan mengapresiasi inisiatif Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu. Ia menyampaikan bahwa LPPM Unhas memiliki pengalaman dalam melaksanakan kajian tata ruang di berbagai wilayah di Indonesia dan siap memberikan kontribusi melalui pendekatan berbasis data dan inovasi.
“LPPM Unhas memiliki pengalaman luas dalam kajian tata ruang di berbagai daerah di Indonesia. Kami siap memberikan kontribusi terbaik untuk mendukung perencanaan yang berbasis data dan inovasi,” ujarnya.

Dalam perspektif pengelolaan ekosistem perairan, kajian DAS juga memungkinkan proses perencanaan dilakukan secara lebih integratif. Pendekatan ini menempatkan DAS bukan semata-mata sebagai ruang administratif, tetapi sebagai sistem ekologis yang memiliki hubungan antara kondisi tutupan lahan, aliran air, kualitas lingkungan, dan keberadaan organisme akuatik. Dengan demikian, pengelolaan wilayah dapat diarahkan untuk mempertahankan fungsi ekologis perairan sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Bagi Unhas, keterlibatan dalam kajian tata ruang DAS Mahakam Ulu merupakan bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan lingkungan melalui riset dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi akademisi dan pemerintah daerah diharapkan menghasilkan rekomendasi yang tidak hanya relevan untuk kebutuhan pembangunan saat ini, tetapi juga mampu memperhitungkan keberlanjutan sumber daya air dan ekosistem perairan dalam jangka panjang.
Melalui kerja sama tersebut, Unhas dan Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu membangun sinergi antara ilmu pengetahuan, perencanaan wilayah, dan perlindungan lingkungan. Pendekatan ini menegaskan bahwa pencapaian pembangunan berkelanjutan membutuhkan pengelolaan wilayah yang terintegrasi, berbasis bukti ilmiah, serta memperhatikan keterhubungan antara ekosistem daratan dan perairan sebagai satu kesatuan ekologis. (*/aya)
Editor: Ishaq Rahman




