Berita Terbaru

UNIVERSITAS HASANUDDIN

Dari Hipertensi hingga Air Bersih, Mahasiswa FKM Unhas Petakan Masalah Kesehatan di Dusun Bakke

Soppeng — Persoalan kesehatan di tingkat desa kerap terlihat melalui pengalaman warga dalam kehidupan sehari-hari. Di Dusun Bakke, Desa Ganra, warga menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari hipertensi dan kolesterol tinggi pada kelompok dewasa, kasus stunting, kualitas air bersih, saluran pembuangan yang berbau, hingga paparan asap rokok di dalam rumah.

Persoalan tersebut dihimpun mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) Posko 33 Desa Ganra melalui Focus Group Discussion (FGD) I bersama kader posyandu dan masyarakat Dusun Bakke, Kecamatan Ganra, Kabupaten Soppeng, Senin (21/7).

Kegiatan yang berlangsung pukul 15.30 WITA ini merupakan bagian dari rangkaian Praktik Belajar Lapangan I (PBL I). Mahasiswa menggunakan pendekatan partisipatif dengan menggali pengalaman, keluhan, dan kebutuhan kesehatan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Tim PBL I Posko 33 Desa Ganra beranggotakan tujuh mahasiswa, yakni Nur Pratika Adeliyana Latif dari peminatan Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP), Fransisca Budi Ayuningsih Ruliawan dari Kesehatan Lingkungan, Rifka Sari dari Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Afra Izza Amatullah dan Zhafirah Yustiani dari Epidemiologi, Ekayanti Bubun dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta Farhana Putri Qanitah dari Manajemen Rumah Sakit. Kegiatan tersebut mendapat pendampingan dari Supervisor Basir, SKM., M.Sc.

Hasil diskusi menunjukkan hipertensi dan kolesterol tinggi sebagai keluhan kesehatan yang banyak ditemukan pada masyarakat dewasa. Temuan tersebut memperlihatkan kebutuhan terhadap penguatan deteksi dini dan pemantauan faktor risiko penyakit tidak menular di tingkat masyarakat.

Pada kelompok anak, mahasiswa menemukan satu kasus stunting di wilayah Posyandu Dusun Bakke. Kasus tersebut merupakan bagian dari 15 kasus stunting yang tercatat di Kecamatan Ganra. Data ini turut diperhatikan dalam pemetaan kesehatan masyarakat, terutama terkait pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Persoalan lingkungan turut muncul dalam diskusi. Warga menyampaikan kondisi saluran pembuangan yang berbau akibat limbah makanan serta air bersih yang keruh dan berasa. Kebiasaan merokok di dalam rumah juga mendapat perhatian karena sebagian besar perokok merupakan kepala keluarga.

Situasi tersebut membuat anggota keluarga lain, termasuk anak-anak, berisiko terpapar asap rokok di lingkungan rumah. Warga juga mengungkapkan kebutuhan terhadap pemeriksaan kesehatan rutin dengan cakupan yang lebih luas, terutama pemeriksaan kolesterol dan asam urat yang masih jarang dilakukan.

Koordinator Desa PBL I Posko 33 Desa Ganra, Nur Pratika Adeliyana Latif, mengatakan informasi dari masyarakat memberikan pijakan bagi mahasiswa dalam menentukan prioritas persoalan kesehatan.

“Suara langsung dari masyarakat memberikan gambaran nyata tentang tantangan kesehatan yang mereka hadapi sehari-hari. Informasi ini penting untuk membantu kami menentukan persoalan yang perlu diprioritaskan,” ujarnya.

Bagi mahasiswa kesehatan masyarakat, FGD tersebut menjadi ruang untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kondisi kesehatan di lapangan. Informasi tentang penyakit, lingkungan, perilaku, serta kebutuhan pelayanan kesehatan dihimpun sebagai bagian dari proses analisis masalah kesehatan berbasis masyarakat.

Temuan FGD selanjutnya digunakan dalam penyusunan prioritas masalah dan perencanaan kegiatan PBL I di Desa Ganra. Pendekatan partisipatif tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi wilayah.

Kegiatan ini mendukung penguatan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan sejalan dengan arah Asta Cita. Upaya tersebut juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 tentang kehidupan sehat dan kesejahteraan.

Editor : Ishaq Rahman

Berita terkait :

Share berita :

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email

This post is also available in: Indonesia