Berita Terbaru

UNIVERSITAS HASANUDDIN

Dubes Indonesia untuk Pakistan Terima Masukan Akademisi Unhas

Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Republik Islam Pakistan di Islamabad (KBRI Islamabad) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama civitas akademika Universitas Hasanuddin.  Acara berlangsung pada Senin (5/8/2019) di Ruang Rapat A, Lantai 4 Gedung Rektorat Unhas, dimulai pukul 09.00 WITA.
 
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh, Iwan Suyudhie Amir, hadir bersama beberapa staf konsuler dari KBRI Islamabad.  Turut hadir dalam FGD ini adalah Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama (Prof. dr. Muh. Nasrum Massi, Ph.D), Wakil Rektor Bidang Akademik (Prof. Dr. Ir. Muh. Restu, MP), Direktur Kerja Sama (Muh. Iqbal Djawad, Ph.D), serta beberapa dekan dan pimpinan unit kerja.
 
Dalam sambutan pengantarnya sebelum FGD, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama yang mewakili Rektor Unhas, menyampaikan kegembiraannya atas kehadiran Duta Besar Iwan dan rombongan di Unhas.
 
“Kami selalu mencari peluang kemitraan dengan berbagai stakeholder terkait.  Kehadiran Yang Mulia Duta Besar Iwan  Suyudhie Amri sangat berarti, dimana kita bisa berdiskusi membahas peluang-peluang yang dapat disinergikan,” kata Prof. Nasrum.
 
Melalui presentasi pendahuluannya, Dubes Iwan Suyudhie memaparkan tentang dinamika dan posisi Pakistan dalam politik luar negeri Indonesia.  Negara yang terletak di Asia Selatan ini memiliki makna strategis bagi Indonesia.
 
“Indonesia dan Pakistan memiliki kedekatan sejarah yang kuat.  Pada masa kemerdekaan, Pakistan memberikan bantuan kepada Indonesia.  Sebaliknya ketika Pakistan terlibat perang dengan India pada tahun 1967, Presiden Soekarno secara terang-terangan memberikan dukungan kepada Pakistan,” kata Dubes Iwan.
 
Kedekatan hubungan kedua negara yang mendorong pemerintah Indonesia memberi apresiasi tinggi.  Pada peringatan Kemerdekaan RI ke-50, Presiden Soeharto menganugerahkan Bintang Mahaputra kepada Bapak Pendiri Pakistan, Muhammad Ali Jinnah.  Penghargaan ini juga ditujukan untuk seluruh Bangsa Pakistan.
 
“Namun sayangnya, opini kebanyakan masyarakat Indonesia tentang Pakistan itu sering dikaitkan dengan isu terorisme dan radikalisme Islam.  Menurut saya, hanya sebagian dari opini itu benar.  Pakistan juga memiliki sisi lain yang perlu dikaji dan bisa menjadi laboratorium ilmu sosial. Sayangnya, perhatian publik terhadap negara ini relatif rendah,” papar Dubes Iwan.
 
FGD kali ini menghadirkan tiga orang panelis sebagai penanggap utama.  Muhammad Yusri Zamhuri, Ph.D dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis menguraikan perspektif bidang ekonomi dalam hubungan Indonesia – Pakistan.  Beliau menyoroti posisi daya saing Indonesia yang seharusnya dapat dioptimalkan.
 
“Pada masa mendatang, kita akan menghadapi bonus demografi.  Jangan sampai bonus demografi kita itu terdiri dari penduduk yang mengalami stunting, sebab ini berarti masalah.  Maka, sejak dini kita harus menjawab persoalan ini,” kata Yusri.
 
Penelis kedua yang menyoroti dimensi sosial hubungan Indonesia – Pakistan adalah Dr. Muhammad Yusring Baco, MA.  Dosen Sastra Asia Barat Fakultas Ilmu Budaya ini membahas tentang posisi Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia dan Pakistan.
 
“Tadi pak Dubes sudah menjelaskan, Indonesia dan Pakistan adalah negara berpenduduk muslim terbesar pertama dan kedua di dunia.  Ini adalah kesamaan sosial budaya yang dapat menjadi perekat. Apalagi ada catatan historis yang erat diantara kedua negara,” kata Yusring.
 
Sementara panelis ketiga, Ishaq Rahman, S.IP, M.Si, dari Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik membahas aspek politik dalam hubungan Indonesia – Pakistan.  Presentasinya mengkonfirmasi sinyalemen bahwa perhatian publik Indonesia terhadap Pakistan relatif rendah.
 
“Dari 841 dosen pada yang ada pada 72 prodi hubungan internasional di Indonesia, hanya sekitar 5.6% saja yang pernah melakukan penelitian tentang hubungan bilateral Indonesia dan Pakistan.  Memang ada sekitar 44% yang pernuh menulis artikel tentang Pakistan. Data ini justru melahirkan narasi tentang sumber tulisan tersebut. Ternyata memang bersumber dari informasi terbuka, bukan hasil riset. Sehingga tidak heran jika ada pandangan yang bias tentang Pakistan,” jelas Ishaq.
 
Diskusi yang dipandu oleh Muh. Iqbal Djawad sebagai moderator ini kemudian mendengarkan berbagai respon dari peserta FGD.  Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Dr. Ir. Abdul Rasyid Djalil, MP yang hadir mendorong agar dosen-dosen Unhas mempersiapkan skim penelitian terkait Pakistan. “Kita bisa memfasilitasi melalui skema pendanaan internal yang kita miliki,” kata dosen Ilmu Kelautan yang akrab disapa Pak Cido ini.(*)
 
 
Editor : Ishaq Rahman

Berita terkait :

Share berita :

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email

This post is also available in: Indonesia