Ikatan Alumni Fakultas Teknik (IKATEK) Universitas Hasanuddin bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang bertajuk “Strategi Rantai Pasok dalam Mendukung Pembangunan Ibukota Negara Baru”. Kegiatan yang dihadiri sekitar 250 orang ini berlangsung di Hotel Aryaduta, Senin (14/10).
FGD ini menghadirkan Dirjen Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Syarif Burhanuddin sebagai keynote speaker, Gubernur Sulawesi Selatan, (Prof. Dr. HM. Nurdin Abdullah, M.Agr), Plt. Direktur Utama PT. Nindya Karya sekaligus Ketua IKATEK Unhas (Haedar A. Karim). Turut hadir Deputi Bidang Pengembangan Kementerian PPN/Bappenas (Rudy S. Prawirdanata), Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PUPR (Eko Djoeli Heripoerwanto), dan Dirjen Cipta karya Kementerian PUPR (Danis H. Sumadilaga).
Hadir pula Wakil Bupati Penajem Paser Utara Kalimantan Timur (H. Hamdam), Ketua Lembaga Pengembangan Jasa konstruksi Nasional (Ruslan Rivai), Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia bidang Konstruksi dan Infrastruktur (Erwin AKsa), Ketua Umum Indonesian Society of Steel Construction (Ken Pangestu), dan Sekjen Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Andi Rukman).
Tujuan utama diselenggarakannya FGD ini ialah sebagai bentuk dukungan atas gagasan pemindahan Ibu Kota Negara, diperlukan kesiapan rantai pasok industri konstruksi terkait material dan peralatan konstruksi, sumber daya manusia, investasi, dan teknologi. Kesiapan ini nantinya akan menjaid hal yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan kesiapannya melalui suatu strategi peningkatan kinerja rantai pasok konstruksi yang lebih dinamis.
Adapun pokok bahasan pada FGD ini adalah
1. Strategi rantai pasok konstruksi nasional
2. Visi dan misi ibukota negara baru
3. Strategi pembiayaan infrastruktur ibukota negara baru
4. Implementasi teknologi dalam pengembangan rantai pasok
5. Dukungan pemerintah daerah
6. Dukungan LPJKN dalam pengembangan strategi rantai pasok
7. Strategi dukungan sector industry dalam rantai pasok konstruksi
8. Peranan asosiasi material danperalatan konstruksi (MPK)
Ketua IKA Teknik Unhas, Haedar Karim, dalam sambutannya menyatakan bahwa seluruh alumni Fakultas Teknik siap terlibat dan bersinergi dalam proses persiapan pembangunan Ibu Kota Negara yang baru.
“Saya selalu sampaikan kepada seluruh alumni Fakultas Teknik bahwa kita harus berkontribusi membantu Sulsel melalui keilmuan kita. Apalagi setelah Ibu Kota Negara resmi dipindahkan ke Kalimantan, maka secara otomatis Sulsel menjadi tulang punggung yang membantu seluruh proses pembangunan di sana. Mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, kita harus aktif terlibat dalam mengawal proses penyelesaian seluruh pekerjaan yang membutuhkan sumber daya di bidang keteknikan,” Jelas Haedar Karim
Gubernur Sulawesi Selatan dalam sambutannya menyatakan pentingya FGD ini serta peran krusial Segitiga Emas “Seko” yang terletak di antara Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat dalam pembangunan Ibu Kota Negara yang baru di Kalimantan Timur. Beliau menjelaskan bahwa saat ini Pemprov. tengah membangun akses jalan menuju Seko yang menjadi titik terdekat di Sulsel menuju Kalimantan Timur
“Dulu, perjalanan menuju Seko itu membutuhkan waktu tiga hari tiga malam. Setelah kami buka akses jalan ke sana, sekarang waktu untuk ke sana sudah tidak sampai sehari lagi. Tentunya pembukaan jalan ini baru tahapan awal saja, masih butuh tahapan-tahapan lainnya agar benar-benar bisa dilalui dan menjadi akses terdepan Sulsel sebagai penyangga bagi Ibu Kota Negara kita yang baru,” Jelas Prof. Nurdin.
Lebih lanjut lagi, beliau menjelaskan bahwa Seko memiliki potensi sumber daya yang dibutuhkan oleh Kabupaten Penajem Paser Utara dalam menyiapkan diri sebagai Ibu Kota Negara yang baru, utamanya dari segi pemenuhan pangan.
“Bahkan sebelum ada wacana pemindahan Ibu Kota, Sulsel telah menjadi tulang punggung dan penyangga bagi Pulau Kalimantan, utamanya Kalimantan Timur karena lokasi yang sangat strategis dan berdekatan. Seko sendiri dari segi fisik memiliki iklim yang dingin dan memiliki sejumlah potensi sumber daya peternakan yang bisa menghasilkan daging dan susu segar yang apabila masyarakat di sana kami beri pelatihan, tentu bisa mengolah sumber daya tersebut menjadi produk berdaya saing unggul. Kami berharap Seko bisa memenuhi seluruh kebutuhan pangan di Ibu Kota yang baru dan bahkan bisa menjadi Lumbung Daging Nasional,” Jelas Prof. Nurdin.
Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR dalam pemaparannya menjelaskan bahwa proses pemindahan Ibu Kota Negara ini bukan tanpa alasan. Sejak tahun 2017, Kementerian PPN telah melakukan proses awal pemindahan Ibu Kota Negara yakni survey disertai identifikasi, penyusunan masterplan, DED, land acquisition (pembebasan lahan), penyusunan dan penyelesaian kajian, penyiapan regulasi dan kelembagaan, dan perencanaan teknis kawasan. Proses ini direncanakan berlangsung hingga tahun 2021 mendatang yang dilanjutkan dengan tahap pelaksanaan selama tiga tahun.
“Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan dalam pemindahan dari Jakarta ke Kalimantan ini. Bappenas telah melakukan kajian terkait apa saja yang kita butuhkan di Ibu Kota yang baru nanti. Kami ingin mewujudkan Ibu Kota Negara yang baru kita nantinya menjadi Kota yang Terencana atau City by Design. Kota-kota besar di negara-negara luar itu membangun kotanya dengan cara membuat masterplan terlebih dulu baru membangun, sedangkan kita di Indonesia ini karena kotanya sudah ada sejak dahulu kala, maka pembangunan kita menyesuaikan saja dengan kondisi kota yang sudah ada. Ini yang ingin kita ubah di Ibu Kota Negara baru kita,” Jelas Syarif.
Syarif juga menjelaskan, Ibu Kota Negara yang baru nantinya akan berstandar internasional yang berkonsep Green City, Smart City, Forest City, Modern and Beautiful City, serta Sustainable City.
“Seluruh konsep itu ingin kita integrasikan dan implementasikan, sebab pembangunan ini tidak akan berhenti. Bila di timeline Bappenas keberlanjutan pembangunan ini hanya sampai tahun 2045 saja, tapi pembangunan infrastruktur pasti tidak akan pernah berhenti. Karena pusat pemerintahan yang berpindah, maka secara otomatis seluruh elemen pemerintahan dari eksekutif, legislatif, dan yudikatif juga ikut berpindah. Jumlah penduduk di sana otomatis akan meningkat dan hal pertama yang harus kita pastikan adalah kepadatan penduduknya tidak melampaui ketersediaan kebutuhan,” Kata Syarif.
Jumlah penduduk yang diperkirakan akan berpindah ke Ibu Kota yang baru adalah 1,5 juta orang dengan luas lahan sebesar 40.000 Ha. Meningkatnya jumlah penduduk ini tentunya berbanding lurus dengan kebutuhan primer yang ikut meningkat. Syarif menyebut peran Sulsel sebagai penyedia kebutuhan terdekat dan terlengkap dari Kalimantan. Beliau juga menjelaskan tantangan yang akan dihadapi ke depannya.
“Peranan penting Sulsel seperti yang telah dipaparkan oleh Prof. Nurdin adalah sebagai penyedia kebutuhan bagi Ibu Kota baru selama proses perpindahan ini. Salah satu tantangan rantai pasok konstruksi dalam pemindahan Ibu Kota kita kerucutkan menjadi 5M, yaitu Man, Machine, Method, Material, dan Money. Untuk menjawab tantangan ini kita perlu bersinergi dengan tenaga-tenaga ahli, perusahaan-perusahaan konstruksi dan penyedia material. Pada dasarnya seluruh rangkaian pemindahan ibu kota ini membutuhkan sinergi dari seluruh komponen yang ada. Itulah mengapa melalui FGD ini, saya juga sekalian mengajak kita semua untuk memberikan kontribusi terbaik kita dalam pemindahan ibu kota ini,” tutup Syarif.(*)
Editor : Ishaq Rahman




