Berita Terbaru

UNIVERSITAS HASANUDDIN

LSP Unhas Bahas Skema Sertifikasi LPJK untuk Penguatan Kompetensi Mahasiswa Fakultas Teknik

Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Hasanuddin bersama Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (FT-Unhas) menggelar audiensi terkait penerapan dan penguatan skema sertifikasi kompetensi Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) bagi mahasiswa Fakultas Teknik. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Gedung Insinyur Fakultas Teknik Unhas, Selasa (10/2).

Audiensi tersebut menjadi langkah strategis dalam upaya menyiapkan lulusan Fakultas Teknik Unhas yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki pengakuan kompetensi profesional melalui sertifikat kompetensi sebelum memasuki dunia kerja.

Dekan Fakultas Teknik Unhas, Prof. Muhammad Isran Ramli, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Fakultas Teknik pada prinsipnya menyambut baik keberadaan dan peran LSP Unhas. Menurutnya, LSP Unhas akan sangat membantu dalam memfasilitasi mahasiswa agar memiliki kualifikasi kompetensi yang terstandar sebelum lulus.

“Ke depan, kami mengupayakan agar mahasiswa Fakultas Teknik Unhas wajib memiliki sertifikat kompetensi dari LSP Unhas sebelum mereka menyelesaikan studi. Ini merupakan bagian dari penguatan kualitas lulusan,” ujar Isran Ramli.

Terkait teknis pembiayaan sertifikasi, Dekan FT-Unhas menjelaskan bahwa pengaturan skema pembiayaan masih akan dibahas lebih lanjut. Sertifikasi kompetensi berada di luar komponen Uang Kuliah Tunggal (UKT) sesuai dengan peraturan terbaru, sehingga diperlukan koordinasi lanjutan antara pimpinan fakultas, khususnya Wakil Dekan Bidang Akademik, dan LSP Unhas untuk merumuskan skema pembiayaan yang tepat dan tidak membebani mahasiswa.

Sementara itu, Kepala Pusat LSP Unhas, Mukti Ali, Ph.D., menegaskan pentingnya sertifikat kompetensi sebagai nilai tambah bagi lulusan. Saat ini terdapat sejumlah skema sertifikasi LPJK yang telah selaras dengan kebutuhan mahasiswa Fakultas Teknik.

“Hari ini kami mensosialisasikan sebanyak 85 skema sertifikasi bersama LPJK. Lulusan diharapkan sudah memiliki sertifikat kompetensi sebelum lulus, karena hal tersebut akan meningkatkan daya saing mereka di dunia kerja,” jelas Mukti Ali.

Ia juga menambahkan bahwa LSP Unhas terus mencari formula pembiayaan sertifikasi yang lebih ringan dan tidak membebani mahasiswa. Selain itu, beberapa skema sertifikasi mensyaratkan pelatihan tertentu yang ke depan dapat diselenggarakan oleh program studi, sementara LSP Unhas akan berperan sebagai lembaga penguji.

Pada kesempatan yang sama, Manager Skema LSP Unhas, Prof. Sri Purwanti, memaparkan secara rinci mengenai skema sertifikasi LPJK. Dari 85 skema yang tersedia, sebanyak 47 skema level 6 dinilai paling relevan untuk digunakan oleh program studi di Fakultas Teknik, sementara skema lainnya dapat disesuaikan lebih lanjut oleh masing-masing prodi.

Prof. Sri Purwanti juga menyampaikan bahwa beberapa skema yang belum memiliki asesor ke depan dapat diisi dengan merekrut dosen Fakultas Teknik sebagai asesor. Saat ini, jumlah asesor di bidang teknik dinilai sudah memadai, baik yang berada di bawah LSP P3 maupun LSP Unhas, sehingga implementasi skema sertifikasi sangat memungkinkan untuk segera dilakukan.

“Kami juga akan membagikan daftar skema LPJK yang sudah ada untuk disesuaikan dengan kebutuhan program studi. Selain itu, sejumlah skema teknik juga sedang dalam proses pengajuan ke BNSP untuk verifikasi dalam rangka penambahan ruang lingkup,” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa mahasiswa yang akan mengikuti sertifikasi sebagai asesi wajib telah meluluskan seluruh mata kuliah yang menjadi persyaratan dasar sesuai dengan ketentuan pada masing-masing skema.

Audiensi ini diharapkan menjadi titik awal penguatan sinergi antara LSP Unhas dan Fakultas Teknik Unhas dalam mewujudkan lulusan yang kompeten, tersertifikasi, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global.(*/lspuh)

Editor : Ishaq Rahman

Berita terkait :

Share berita :

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email

This post is also available in: Indonesia