Rabu, 26 Juni 2019, adalah hari yang akan selalu dikenang oleh Profesor Sangkot Marzuki. Bertempat di Bertempat di Aula Ir. Fachruddin Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, mantan Direktur Lembaga Eijkman Institute tersebut mendapatkan apresiasi dari civitas akademika Univesitas Hasanuddin melalui acara “Tribute to Profesor Sangkot Marzuki : Science Knows No Boundaries”.
Acara ini dilaksanakan secara kolaboratif oleh Sekolah Pascasarjana, Dewan Profesor, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Gigi.
Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dwia Aries Tina Pulubuhu, berkesempatan untuk membuka acara. Dalam sambutannya, Prof Dwia menjelaskan relasi yang telah lama terjalin antara Univeristas Hasanuddin dan Prof Sangkot Marzuki.
“Prof Sangkot Marzuki telah lama menjalin hubungan erat dengan rektor-rektor Unhas terdahulu, yakni dimulai dari Prof Radi A Gani. Prof Sangkot juga telah berkontribusi besar dalam Medical Forum bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran untuk proses transfer ilmu pengetahuan dengan ilmuwan Unhas,” kata Prof. Dwia.
Sambutan khusus juga diberikan oleh Dekan Sekolah Pascasarjana, Prof Jamaluddin Jompa dan Dekan Fakultas Pascasarjana Mahidol University, Prof Patcharee Lertrit. Dua sosok tersebut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk Prof Sangkot Marzuki yang telah menjadi guru bagi mereka sejak dulu.
Prof Jamal Jompa menjelaskan bahwa dirinya mempunyai kesan sangat mendalam terhadap sosok Prof. Sangkot Marzuki. “Prof Sangkot dan saya terlibat bersama dalam berbagai forum ilmuwan interdisipliner bernama KAVLI, SCIENCE 45 dan ALMI,” kata Prof. Jamal.
Sementara Prof Patcharee sendiri memiliki kedekatan emosional dengan Prof Sangkot yang telah menjadi guru dan teladan selama menjadi mahasiswa hingga menjawab sebagai Dekan Fakultas Pascasarjana Mahidol University. “Prof Sangkot telah menjadi role model bagi saya sejak dulu. Dia yang telah memberikan inspirasi bagi saya untuk melakukan yang terbaik bagi ilmu pengetahuan,” kata Parcharee salam sambutan singkatnya.
Tidak hanya itu, testimoni terhadap Prof Sangkot Marzuki juga diberikan oleh sejumlah koleganya yang bersama bekerja di institute Eijkman maupun selama beliau menjabat sebagai Dewan Guru Besar di Monash University. Adalah Prof Herawati Supolo-Sudoyo yang telah menjadi saksi perjalanan Prof Sangkot Marzuki melintasi bangsa-bangsa dengan ilmu pengetahuan melalui lembaga Eijkman Institute.
Prof Herawati menjelaskan bagaimana Prof Sangkot Marzuki akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia meneruskan Eijkman Institute atas permintaan dari BJ Habibie. Dari situ, Prof Sangkot telah berkontribusi besar terhadap pembangunan sains dan ilmu pengetahuan di Indonesia.
Tiga kolega lainnya dari Prof Sangkot Marzuki turut memberikan “Words of Reflection”, yakni Prof Kevin Baird, Prof Hans Pols, dan Bruce Alberts. Masing-masing dari mereka menyebutkan pesan dan kesan selama bekerja bersama Prof Sangkot Marzuki.
Dalam kesempatannya memberikan kuliah umum, Prof Sangkot Marzuki menceritakan perjalanannya yang berawal dari minatnya pada “mithocondrial biogenesis” selama studi di Monash University, Melbourne. Prof Sangkot kemudian banyak mengeluarkan tulisan ilmiah dan penelitian terkait “mithocondrial DNA mutations” hingga menjadi direktur untuk lembaga biologi molekul Eijkman.
Prof Sangkot Marzuki menyadari bahwa negara membutuhkan landasan yang kuat untuk memproduksi penelitian ilmiah yang kaya.
“Indonesia masih terus mencoba, bahkan terkadang gagal untuk mengambil langkah penting dalam pembangunan sains dan teknologi. Hal tersebut disebabkan karena terkadang penelitian limiah tidak diimbangi dengan keahlian, inovasi, dan sumber daya yang mumpuni.”, ujar Prof Sangkot.
Selain Tribute to Prof Sangkot, Sekolah Pascasarjana juga meluncurkan lembaga baru bagi studi Interdsiplin yaitu, CEISS (Center of Excellence for Interdisciplinary and Sustainability Science) dan menjalin kerjasama secara resmi dengan Fakultas Pascasarjana Mahidol University, Thailand.(*)
Laporan: Dillah Trya, Sekolah Pascasarjana
Editor: Ishaq Rahman




