Sekolah Pascasarjana (SPS) Unhas berupaya mengoptimalkan peran dan fungsinya institusi pendidikan tinggi pada level yang lebih tinggi. Untuk itu, SPS Unhas perlu menggagas pendekatan yang spesifik dengan tingkat penguasaan keilmuan yang relatif lebih tinggi dibandingkan program sarjana. Salah satu strategi yang ditempuh oleh pimpinan SPS Unhas adalah dengan menyelenggarakan kuliah umum yang menghadirkan nara sumber bereputasi internasional. Kegiatan ini diselenggarakan setiap bulan.
Pada kesempatan wawancara, Prof. Jamaluddin Jompa, Ph.D., selaku Dekan SPS Unhas menjelaskan bahwa kehadiran dosen tamu internasional (International Visiting Lecturer) merupakan bagian dari upaya pengembangan ilmu, pengetahuan, dan wawasan, baik untuk dosen terutama untuk mahasiswa. Dengan hadirnya para narasumber yang memiliki keunggulan akademik, sivitas akademika berpeluang memperoleh ilmu dan pengetahuan baru yang lebih beragam.
“Mahasiswa pada program pascasarjana dituntut untuk menguasai kedalaman dan keluasan ilmu pengetahuan. Aspek kedalaman bisa mereka peroleh dengan secara konsisten menerima materi dan pembelajaran di kelas, sementara aspek keluasan ilmu diperoleh melalui kehadiran pada kuliah umum dengan materi yang beragam. Jadi, mahasiswa tidak hanya fokus pada bidang ilmunya saja. Jika hanya fokus pada satu ilmu, kita akan tertinggal,” jelas Prof Jamal.
Prof. Jamal menambahkan, kehadiran dosen tamu di SPS Unhas merupakan imbas dari hubungan baik yang dibangun oleh seluruh elemen sivitas akademik, terutama di lingkungan Pascasarjana Unhas. Banyaknya dosen tamu yang bersedia hadir dan berbagi ilmu menjadi indikator bahwa Unhas layak menjadi mitra dalam mengembangkan atmosfer akademik.
“Ini tidak lepas dari sumber daya yang ada di Pascasarjana Unhas, yang secara sadar membangun jejaring dengan berbagai pihak. Jaringan yang luas akan berdampak positif bagi upaya kita untuk mengembangkan Pascasarjana, yang juga akan berkontribusi bagi pengembangan Unhas,” sambung Prof Jamal.
Dalam menghadirkan dosen tamu, secara umum pihak Pascasarjana Unhas tidak menemukan hambatan yang signifikan. Namun adakalnya terdapat situasi dimana minat mahasiswa untuk hadir yang masih perlu didorong. Mungkin saja salah satu kendala adalah kemampuan bahasa asing, khususnya Inggris, yang masih belum merata dikalangan mahasiswa kami.
“Semangat dan antusias mahasiswa perlu ditingkatkan. Kita masif menyebarkan informasi jika ada kuliah umum dengan nara sumber internasional, tapi terkadang mahasiswa yang datang jumlahnya terbatas. Budaya akademik ini perlu kita dorong terus-menerus,” kata Prof Jamal.
Selain mengoptimalkan kehadiran dosen tamu dan luar negeri, SPS Unhas juga aktif mendorong keterlibatan untuk menyukseskan Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan program global. Tujuan pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa sebagai kelanjutan dari Millenium Development Goals (MDGs) ini sekarang sedang dalam pergerakan yang luas.
Menurut Prof. Jamal, Pascasarjana Unhas sejak awal aktif mempromosikan SDGs Center, yang dibentuk dengan dukungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). SPS Unhas aktif mendorong keterlibatan dosen-dosen dalam pencapaian target SDGs sesuai mandat PBB.
“SDGs merupakan agenda global yang telah diterjemahkan pada level nasional. Perguruan Tinggi menjadi salah satu pilar dalam mencapai tujuan berkelanjutan ini. Di Unhas, peran kita sangat jelas dengan berbagai program dan kegiatan. Misalnya saja, saat ini di Unhas kita dirikan pusat stunting yang berada di bawah naungan SDGs Center Unhas,” kata Prof. Jamal.
Melalui pusat stunting ini, para pihak bersama-sama melakukan pemetaan untuk mengetahui daerah-daerah yang permasalahan stuntingnya tinggi.(*)
Editor : Ishaq Rahman, AMIPR




