Berita Terbaru

UNIVERSITAS HASANUDDIN

Selamat Dies ke-12 Fakultas Farmasi Unhas: Generasi Sehat Proaktif dan Inovatif Beretika, Mendukung Unhas Humaniversity.

Sehat dan Sakit, ditakdirkan menjadi pasangan kata yang sulit terpisahkan. Ini berlaku sebagai ‘kesepakatan umum’ diantara makhluk yang memiliki siklus hidup. Hubungan antara keduanya tidak hanya terjadi pada mahluk bernama manusia. Hewan dan tumbuhan pun akan menjalani siklus diantara keduanya. Tentu saja kita semua, termasuk juga hewan dan tumbuhan menginginkan siklus yang pertama yang lebih dominan kita jalani walaupun secara alamiah siklus yang satunya lagi suatu saat pasti kita rasakan. Keseimbangan hidup termasuk tubuh kita telah ‘menandatangani kontrak’ yang tak bisa diingkari apalagi dihilangkan. Mereka punya hak dan porsi masing-masing tanpa perlu meminta persetujuan kita.
 
Namun takdir juga selalu menghadirkan jalan keluar. Di antara siklus itu ada kata mujarab yaitu obat. Kata ini muncul sebagai reaksi kecerdasan manusia memanfaatkan kekayaan alam yang tersedia secara luas. Dari mengamati fenomena dalam keseharian manusia maupun melalui penelitian yang detail dan mendalam serta secara konsisten dilakukan.  
 
Bicara obat tentu tidak jauh dari bidang ilmu ini: Farmasi. Ilmu yang sejatinya lahir dari pendekatan tradisional masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, bahkan bagaimana memanfaatkan kekayaan alam yang tersedia dengan sendirinya. Cerita kehebatan seseorang bernama tabib dengan keilmuan pengobatan tradisional yang didapatkan secara turun temurun dari keluarganya banyak mewarnai cerita di kalangan awam. Fakta sejarah menyatakan dari Yunani, Tiongkok, Timur Tengah hingga wilayah Asia lainnya punya catatan penting terkait keahlian pengobatan tradisional mereka. Bahkan dalam legenda orang Yunani, Asclepius, Sang Dewa Pengobatan menugaskan Hygieia untuk meracik campuran obat. Selanjutnya oleh komunitas masyarakat Yunani, Hygieia disebut sebagai apoteker. Tentu saja cerita versi lain dibelahan dunia yang lain juga menghiasi perbincangan tentang pengobatan tradisional. Tak cukup waktu untuk membahas secara keseluruhan. Entry point yang penting adalah bahwa ilmu ‘farmasi kuno’ telah lama dikenal oleh masyarakat. Itu juga termasuk di Indonesia tentunya. 
 
Kini, farmasi telah jauh berkembang melesat meninggalkan bayang-bayang sejarahnya. Farmasi sebagai salah satu bidang profesional kesehatan berakar dari kombinasi ilmu kesehatan dan ilmu kimia. Dimandatkan untuk bertanggungjawab memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat. Tidak hanya terkait praktik farmasi tradisional seperti peracikan dan penyediaan sediaan obat, namun lebih jauh dan besar cakupannya ke arah pelayanan farmasi modern yang berhubungan dengan layanan terhadap pasien di antaranya layanan klinik, evaluasi efikasi dan keamanan penggunaan obat, dan penyediaan informasi obat. 
 
Tulisan ini ingin mengajak kita semua untuk “memahami lebih detail” disiplin ilmu yang telah lama memberikan kontribusinya untuk masyarakat lewat institusi pendidikan tinggi bertajuk Unhas. Ilmu yang lebih banyak mendalami dan berkutat pada program yang bersifat kuratif dan rehabilitatif ini hadir jauh lebih dulu dari lahirnya “induk fakultas” nya. 
 
Program Studi Farmasi Unhas tidak bisa dipisahkan dari sejarah kelahiran Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam (FMIPA). Milestone 17 Agustus 1963 adalah awal dari segalanya. Diawali dengan nama Fakultas Ilmu Pasti dan IPA (FIPPA), mengasuh 4 prodi yang menjadi cabang utama IPA saat itu: matematika, fisika, kimia, biologi hingga kemudian menjadi 5 bersaudara dengan adik baru bernama Farmasi.
 
Empat belas tahun bersama dalam FIPPA hingga mengalami ‘turbulensi’ dengan kebijakan menggabungkan FIPPA dan Fakultas Teknik menjadi Fakultas Sains dan Teknologi (SAINTEK). 16 Juli 1977 adalah tonggak sejarah penggabungan itu. Namun tidak berlangsung lama, enam tahun berselang, tepatnya 1983 Fakultas Saintek kembali dimekarkan menjadi FMIPA dan FT. Itulah yang terus menjadi ‘branding’ hingga kini.
 
Berada di FMIPA dirasa tidak cukup untuk mengembangkan keilmuan dengan tuntutan kualitas yang lebih baik. Tim pengembangan ditugaskan untuk menjembatani itu. Perjuangan panjang untuk “mengembangkan diri” menemui titik terang di awal tahun 2007. Upaya untuk menjadi fakultas tersendiri akhirnya disetujui oleh Dirjen Dikti Kemendikbud saat itu. Rektor Universitas Hasanuddin saat itu, Prof. Idrus A. Paturusi menandatangani pembentukan Fakultas Farmasi secara resmi berdasarkan SK Rektor Unhas: 441 / H4 / O / 2007 tanggal 14 Maret 2007. Walaupun mimpi indah itu masih harus menunggu episode baru karena peluncuran resmi Fakultas Farmasi baru diselenggarakan pada tanggal 14 Nopember 2007. Menjadi fakultas ke-14 di Unhas.  
 
Fakultas Farmasi saat ini mengasuh 4 prodi. Pertama dan utama adalah S1 Farmasi. Tentunya juga membina prodi Profesi Apoteker. Selain itu juga mengasuh 1 prodi S2 yaitu Magister Farmasi dan 1 prodi S3 yaitu Doktoral Farmasi. 
 
Tak perlu bertanya panjang terkait akreditasi prodi di fakultas ini. Tiga prodinya yaitu S1 Farmasi, Profesi Apoteker serta Magister Farmasi merupakan prodi unggul dari BAN PT dengan raihan Akreditasi A. Hanya menyisakan Doktoral Farmasi yang belum A karena masih program studi baru. Di level internasional, Prodi S1 Farmasi telah mendapatkan akreditasi internasionalnya lewat ASIIN. 
 
Fakultas ini menjadi salah satu unit kerja dengan kualitas SDM kelas tinggi. Fakultas ini diasuh 44 dosen aktif. Sekira 40 % diantaranya bergelar Doktor tamatan dalam dan luar negeri. Meski baru memiliki 5 professor aktif namun potensi berkembang fakultas ini sangat besar.  Mau bukti? dari data kepegawaian, hampir setengah dari jumlah dosennya adalah dosen muda yang sedang dan telah memperoleh gelar doktor khususnya dari luar negeri dengan beragam latar negara.  Modal yang terbilang sangat besar untuk menghasilkan apoteker handal dan akademisi pilihan. 
 
Karya luar biasa itu adalah persembahan sivitas akademika Fakultas Farmasi, dan pastinya tidak lepas dari tangan dingin Sang Dekan, Prof. Gemini Alam. Tipikal manusia murah senyum dan penggemar berat cerutu dengan watak pekerja keras. Sering membuat orang salah sangka akan identitasnya jika hanya membaca dari namanya. Tentu saja apa yang dicapainya juga hasil kerja para Dekan, pimpinan dan sivitas akademika Fakultas Farmasi sebelumnya. Kita patut mengapresiasi Prof. Elly Wahyuddin sebagai perintis dan pengelola fakultas ini untuk pertama kalinya. Prof Elly telah mangantar fakultas ini menjadi ada dan besar serta makin menjadi pilihan generasi milenial.
 
Kamis, 14 Nopember 2019, Fakultas Farmasi Unhas berusia 12 tahun. Jika dilihat dari umur fakultas ini memang terbilang masih sangat muda. Namun jika patokannya adalah sejak prodi ini ada maka tentu umurnya sudah kategori matang. Menyatukan langkah pengabdian untuk masyarakat dan bangsa serta selalu mengedepankan semangat Benua Maritim Indonesia dalam menghasilkan pembelajar proaktif dan inovatif yang beretika adalah cita-cita yang tak pernah surut. Selamat Dies Natalis ke-12 Fakultas Farmasi Unhas. Institusi Unggulan dalam bidang kefarmasian dengan pengembangan insani, inovatif, serta reputasi internasional untuk kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu garda terdepan Unhas mewujudkan Humaniversity.
 
#Unhas
#Communiversity
#Humaniversity

Berita terkait :

Share berita :

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email

This post is also available in: Indonesia