MAKASSAR – Tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim hingga ancaman terhadap ketahanan pangan, menuntut lahirnya inovasi berbasis sains yang mampu menjembatani kepentingan lingkungan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks ini, sektor kelautan dan perikanan menjadi salah satu pilar strategis yang memiliki peran penting untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Komitmen tersebut tercermin dalam penyelenggaraan the 13th National and the 9th International Symposium on Marine and Fisheries (SYMARFISH) 2026 yang diinisiasi oleh Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin. Mengusung tema “Science-driven Innovation in the Blue Economy: Achieving Food Security and the SDGs”, forum ilmiah ini menjadi ruang temu akademisi, peneliti, pemerintah, industri, dan masyarakat untuk merumuskan solusi berbasis riset bagi masa depan kelautan dan perikanan.
Ketua Panitia, Wilma J. C. Moka, S.Kel., M.Agr., Ph.D., menjelaskan antusiasme peserta simposium pertanda tingginya perhatian terhadap pengembangan ilmu kelautan dan perikanan. Tercatat sebanyak 120 peserta mengikuti kegiatan ini dengan total 90 abstrak makalah yang telah didaftarkan. Para peserta berasal dari berbagai negara, mencerminkan semakin luasnya kolaborasi internasional dalam mendukung riset dan inovasi sektor maritim.
“Forum ini kami harapkan menghasilkan dampak nyata terhadap tata kelola sumber daya kelautan dan perikanan. Hasil diskusi dan rekomendasi diharapkan dapat berkontribusi langsung pada arah kebijakan serta pengembangan riset di masa mendatang,” jelas Wilma.
Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., mengemukakan bahwa pengembangan ilmu kelautan dan perikanan merupakan tanggung jawab bersama. Besarnya potensi sumber daya maritim Indonesia menghadirkan peluang strategis sekaligus tantangan yang harus dijawab melalui sinergi dan kolaborasi.
“Apa yang dihasilkan dalam SYMARFISH ini akan kami sampaikan kepada para pengambil kebijakan. Forum ini menghadirkan pemikiran terbaik dari para ilmuwan dan praktisi yang berkontribusi dalam memperkuat ilmu kelautan dan perikanan Indonesia,” jelas Prof. JJ.
Prof. JJ juga menekankan pentingnya kesamaan visi dan misi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan. Penguatan sektor kelautan dan perikanan tidak hanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan nelayan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
SYMARFISH 2026 menghadirkan beragam topik strategis, meliputi keanekaragaman hayati perairan, ekologi dan konservasi akuatik, oseanografi dan perubahan iklim, bioteknologi kelautan dan perikanan, akuakultur berkelanjutan, sistem informasi geografis kelautan dan perikanan, pencemaran dan ekotoksikologi perairan, pengolahan hasil perikanan, hingga sosial ekonomi kelautan dan perikanan.
Pembicara utama adalah Kepala BRIN, yang diwakilkan oleh Zainal Arifin (Direktorat Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran (KLHKSDAK). Topik yang dibahas adalah “BRIN Agenda on Ocean: Blue Economy, Food Sovereignty and SDGs”.
Selain itu, hadir para pembicara internasional maupun nasional yaitu:
- Prof. Dr. Bayram Ozturk (Istanbul University)
- Prof. Dr. Lim Phaik Eem (University of Malaya)
- Prof. Xuefeng Wang, Ph.D., (Guangdong Ocean University)
- Prof. Dr. Ir. Nadiarti Nurdin Kadir, M.Sc., (Universitas Hasanuddin)
- Prof. Dr. Pramaditya Wicaksono, S.Si., M.Sc., (Universitas Gadjah Mada)
- Dr. Ahmad Bahar, S.T., M.Si., (Universitas Hasanuddin)
- Dr. Andi Muhammad Yuslim Patawari, S.STPi., M.P., dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (20/06) tersebut dijadwalkan selesai hingga pukul 18.00 Wita. Setelah sesi pemaparan dari para narasumber dan diskusi, agenda dilanjutkan dengan sesi paralel yang memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mempresentasikan hasil penelitian. (*/mir)
Editor : Ishaq Rahman







