PANGKEP – Pulau-pulau kecil di Indonesia menyimpan kekayaan laut yang melimpah. Namun, potensi tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat. Banyak hasil laut masih dijual sebagai komoditas mentah atau hanya dikonsumsi dalam rumah tangga, sehingga nilai ekonominya belum berkembang optimal. Di sisi lain, budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat kepulauan juga menghadapi tantangan untuk tetap lestari di tengah berkembangnya sektor pariwisata.
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kawasan pesisir tidak cukup hanya mengandalkan sumber daya alam. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai tambah, sekaligus menjadikan budaya sebagai kekuatan dalam membangun destinasi wisata berkelanjutan. Dalam proses inilah perempuan memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi keluarga sekaligus penjaga tradisi masyarakat.
Melihat potensi sekaligus tantangan tersebut, tim dosen Universitas Hasanuddin mengembangkan program pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan diplomasi keamanan budaya dengan pariwisata pendidikan di Pulau Laiya, Desa Mattiro Labangeng, Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.
Program ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui skema Community Development (ComDev) 2026 sebagai upaya memperkuat kapasitas perempuan dalam mengembangkan usaha berbasis hasil laut dan pariwisata.
Sebelum menyusun program, tim Unhas terlebih dahulu melakukan diskusi bersama pemerintah desa dan kelompok perempuan untuk memetakan kebutuhan masyarakat. Pendekatan tersebut menjadi langkah penting agar solusi yang ditawarkan tidak hanya bersifat akademik, tetapi benar-benar menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat kepulauan dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal.
Ketua Tim Pengabdian, Prof. Dr. Seniwati, S.Sos.,M.Hum., menjelaskan, pembangunan kawasan pulau kecil memerlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pendapatan masyarakat. Pengembangan ekonomi harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal sehingga masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa kehilangan identitas yang menjadi kekuatan utama destinasi wisata.
“Melalui metode Focus Group Discussion (FGD), demonstrasi praktik, dan pendampingan langsung, sebanyak 15 perempuan pelaku usaha memperoleh pelatihan mengenai pengolahan hasil laut yang higienis, teknik pengawetan pangan, pengemasan produk, hingga peningkatan mutu olahan agar memiliki daya saing lebih tinggi,” kata Prof. Seniwati.
Tim pengabdian menyediakan bahan baku sebagai modal awal serta melatih peserta dalam literasi keuangan, penentuan biaya produksi dan harga jual, serta pemasaran digital. Pendekatan ini diharapkan memperluas pemasaran produk olahan hasil laut hingga menjangkau wisatawan dan konsumen dari berbagai daerah.
Yang membedakan program ini dengan pelatihan kewirausahaan pada umumnya adalah hadirnya konsep pariwisata pendidikan (education tourism) yang dipadukan dengan diplomasi keamanan budaya. Dalam pendekatan ini, wisata tidak hanya dipandang sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai ruang belajar untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal, tradisi masyarakat pesisir, serta praktik pemanfaatan sumber daya laut yang bertanggung jawab. Dengan demikian, pengembangan pariwisata berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas budaya masyarakat Pulau Laiya.
Pengembangan solusi bagi masyarakat kepulauan dilakukan melalui kolaborasi multidisiplin yang melibatkan juga Universitas Sulawesi Barat, mahasiswa, pemerintah desa, serta mitra internasional dari University of Ilorin, Nigeria. Sinergi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pembangunan di pulau-pulau kecil memerlukan perpaduan keahlian, pengalaman lapangan, dan kemitraan lintas institusi agar mampu menghasilkan dampak yang berkelanjutan.
Program yang dilaksanakan pada 14 April 2026 dan 15 Juni 2026 ini sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui penguatan ekonomi perempuan, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas masyarakat, SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui pemanfaatan sumber daya pesisir yang berkelanjutan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara berbagai mitra.(*/pngb/mir)
Editor : Ishaq Rahman






