Pemerintah Indonesia terus menyiapkan berbagai strategi dan langkah menyongsong era Revolusi Industri 4.0. Salah satunya menyiapkan sumberdaya manusia terampil di bidang teknologi informasi dan komunikasi atau talenta digital.
Salah satu perubahan besar dalam revolusi 4.0 di bidang teknologi informasi dan komunikasi adalah transformasi dengan kehadiran perangkat dan keahlian big data, internet of things, artificial intelligence, machine learning, cloud computing dan beragam teknologi interaktif terbaru.
Kementerian Kominfo kembali menggandeng Unhas menyelenggarakan pelatihan Fresh Graduate Academy (FGA) dan Vocational School Graduate Academy (VSGA) Digital Talent Scholarship (DTS) 2020.
Penandatanganan Momerandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama Bagi Mitra Pelaksana FGA dan VSGA DTS 2020 sebanyak 88 mitra berlangsung di Ballroom Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa (17/12/2019).
Pada kesempatan ini, Universitas Hasanuddin diwakili oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Prof. Dr. Andi Alimuddin Unde, MSi.
“Program DTS bertujuan untuk memberikan pelatihan dan sertifikasi tema-tema bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang unggul dan relevan dengan kebutuhan industri kepada calon tenaga kerja dan calon entrepreneur. Tujuan praktisnya adalah untuk mengurangi pengangguran, baik yang sudah berada di lapangan kerja maupun segera memasuki lapangan kerja,” ujar Basuki Yusuf Iskandar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Balitbang SDM) Kementerian Kominfo
Basuki menambahkan bahwa target dari program DTS ini adalah lulusan sekolah menengah dan universitas serta mahasiswa tingkat akhir yang telah menyelesaikan materi perkuliahan.Program ini juga memfasilitasi mereka hingga memasuki dunia pekerjaan melalui platform yang sudah disiapkan yaitu Simonas.
Menteri Kominfo Johnny G. Plate menyatakan pelaksanaan Program DTS merupakan upaya nyata Pemerintah untuk menyiapkan Indonesia menjalani migrasi digital. Saat ini kita sedang memasuki era industri 4.0, di mana dunia telah bermigrasi dan bertansformasi dari dunia fisik ke dunia digital. Maka kita harus mengambil langkah tepat untuk melanjutkan migrasi menuju bangsa digital tersebut.
Menteri Johnny menambahkan bahwa Indonesia berpotensi kekurangan 9 juta talenta digital pada tahun 2035. Menurutnya, setiap tahunnya Indonesia harus menyediakan sekurang-kurangnya 600.000 talenta digital.
“Tentunya ini bukan pekerjaan yang mudah. Jangan sampai kita sudah membangun infrastruktur digital dan membuat regulasi akan tetapi tidak memiliki talent digital yang memadai. Hal ini penting untuk memastikan pembangunan yang ujungnya mencapai pada rakyat,” jelas Menteri Johnny.
Menteri Kominfo mengatakan bahwa Program DTS belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan talent digital. DTS ini hanya memenuhi 10 persen dari kebutuhan tahunan akan talent digital. Diperlukan upaya untuk mengajak perusahaan telekomunikasi nasional dan global untuk bersama-sama dengan Perguruan Tinggi, Politeknik, dan Sekolah untuk menghasilkan talenta digital yang dibutuhkan oleh Indonesia.
Tahun 2020, Kementerian Kominfo membuka enam akademi dalam Program DTS. Selain FGA dan VSGA, penerima beasiswa pelatihan dan sertifikasi dapat memiliki Coding Teacher Academy (CTA), Online Academy (OA), dan dua akademi baru yaitu Thematic Academy dan Regional Development Academy).
Unhas bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika pada tahun 2019 menggelar Fresh Graduate Academy selama 2 bulan. Pelatihan itu diikuti oleh lebih dari 220 orang dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Unhas sudah memulai pelaksanaan program Fresh Graduate Academy yang menerima lulusan D3 dan S1 dan yang setingkat untuk diberikan pelatihan dan skill dalam 4 bidang yaitu Artificial Intelligence, Internet of Things, Big Data Analytics dan Cloud Computing.
Jumlah peserta yang telah dilatih adalah 220 orang bertempat di Departement Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Kampus Gowa. Pelatihan berlangsung pada bulan Juli hingga 15 Agustus 2019, berlangsung intensif Senin hingga Sabtu.(*)
Editor : Ishaq Rahman, AMIPR




