Universitas Hasanuddin kembali menggelar Rapat Paripurna Senat Akademik dalam rangka penerimaan jabatan profesor dalam bidang peternakan. Rapat dimulai pada pukul 09.00 WITA di Ruang Senat Akademik Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar, Selasa (10/3).
Proses pengukuhan guru besar ini dihadiri oleh Rektor Unhas, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A., Ketua, Sekretaris, dan anggota Senat Akademik, Dewan Profesor, tamu undangan serta keluarga besar dari kedua profesor yang dikukuhkan.
Rapat Senat Akademik dipimpin langsung oleh Ketua Senat Akademik, Prof. Dr. Dadang A. Suriamihardja. Sementara prosesi pengukuhan dan pembacaraan berita acara penerimaan dibacakan oleh Ketua Dewan Professor Unhas, Prof. Dr. Ir. Mursalim.
Dua guru besar yang dikukuh adalah:
(1) Dr. Ir. Muhammad Irfan Said, S.Pt., M.P., IPM, sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Teknologi Pengolahan Limbah dan Sisa Hasil Ternak, saat ini menjabat Ketua Departemen Produksi Ternak di Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, dikukuhkan sebagai guru besar ke-402.
(2) Dr. Ir. Jasmal Ahmari Syamsu, M.Si., IPU., ASEAN Eng, sebagai guru besar dalam bidang Ilmu dan Teknologi Pakan, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, dikukuhkan sebagai guru besar ke-403.
Rektor Unhas, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A mengucapkan selamat kepada kedua guru besar yang dikukuhkan. Selain itu, beliau juga mengucapkan selamat kepada Fakultas Peternakan atas bertambahnya dua profesor baru.
“Guru besar di Unhas cukup banyak, tetapi kita tetap mendorong kuantitas dan kualitas guru besar kita. Saat ini kita menjadi PT dengan jumlah guru besar aktif terbanyak kedua di Indonesia. Pada tahun 2019, Unhas berhasil mengukuhkan 26 guru besar baru, terbesar di antara seluruh perguruan tinggi di Indonesia,” ucap Prof. Dwia.
Prof. Dwia menghimbau agar Gubes jangan hanya tinggal di kampus saja, tetapi harus memberi kontribusi pada masyarakat dan terhadap pembangunan daerah dan nasional. Dengan kepakaran yang dimiliki, seorang guru besar diharapkan dapat berbuat lebih banyak untuk kemashlahatan.
Prof. Dr. Ir. Muhammad Irfan Said, S.Pt., M.P., IPM
Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Irfan membawakan topik tentang “Optimalisasi Potensi Kulit Ternak Sebagai Sumber Daya Peternakan Menuju Kemandirian Industri Pengolahan Kulit dalam Negeri”.
Industri pengolahan kulit merupakan salah satu industri strategis yang memiliki potensi untuk dikembangkan di Indonesia. Ketersediaan bahan baku kulit di Indonesia cukup potensial. Berdasarkan data tahun 2013-2017, populasi ternak besar dan kecil sebagai sumber bahan baku kulit di Indonesia masih didominasi oleh ternak kecil (kambing dan domba), disusul ternak sapi potong yang memiliki populasi terbesar diantara ternak besar lainnya.
Prof. Irfan melihat bahwa masih terdapat beberapa permasalahan mendasar dalam pengembangan industri kulit di Indonesia, seperti: (1) Kontinuitas pasokan bahan baku kulit sangat rendah, sedangkan permintaan di dalam negeri sangatlah tinggi; (2) kualitas bahan baku kulit dalam negeri masih tergolong rendah, belum sesuai harapan industri; (3) kebijakan karantina terkait impor kulit belum berjalan optimal; (4) produksi limbah belum dikelola sesuai standar, berpotensi merusak lingkungan; (5) keterbatasan Sumber Daya Manusia; dan (6) proses produksi dari produk turunan kulit ternak belum maksimal.
“Pemanfaat by-product kulit ternak tidak hanya dikembangkan untuk pemenuhan kebutuhan non-pangan (fashion), namun juga untuk memenuhi kebutuhan pangan,” jelas Prof. Irfan.
Prof. Irfan menutup pidato ilmiahnya dengan pernyataan bahwa meskipun kulit ternak hanya merupakan sisa hasil dari suatu proses penyembelihan, namun brand yang dibawa dapat melebihi nilai satu ekor ternak itu sendiri.
Prof. Dr. Ir. Jasmal Ahmari Syamsu, M.Si., IPU., ASEAN Eng
Selanjutnya, Prof. Jasmal membawakan pidato dengan topik “Signifikansi Limbah Tanaman Pangan Sebagai Pakan Sapi Potong dalam Mendukung Pengembangan Peternakan Integratif”.
Prof. Jasmal memaparkan bahwa kualitas sumber daya manusia dipengaruhi oleh tingkat konsumsi pangan, terutama konsumsi protein hewani asal ternak. Peternakan merupakan faktor penentu kualitas sumberdaya manusia.
“Selayaknya peternakan menjadi sektor yang patut mendapat perhatian serius dan butuh keberpihakan. Dengan terpenuhinya kebutuhan produk pangan akan berdampak pada meningkatnya status gizi dan kualitas sumberdaya manusia,” kata Prof. Jasmal.
Prof. Jasmal selanjutnya menguraikan tentang limbah tanaman pangan sebagai pakan sapi potong. Salah satu kendala ketersediaan pakan khususnya hijauan (rumput/leguminosa) adalah berkurangnya lahan penggembalaan dan ketersediaannya dipengaruhi oleh musim. Maka dari itu, diatasi dengan pemanfaatan pakan limbah tanaman pangan, seperti jerami padi, jagung, kedelai, kacang tanah, pucuk ubi kayu, serta jerami ubi jalar.
Menutup pidatonya, Prof. Jasmal menjelaskan bahwa salah satu kendala yang dihadapi dalam penerapan integrasi sapi potong dan tanaman pangan adalah belum terpadunya antara sub sektor peternakan dan tanaman pangan.
“Sinergitas kebijakan dan program antar sub sektor peternakan dan tanaman pangan perlu dilakukan untuk pengembangan pola integrasi sapi potong dan tanaman pangan,” tutup Prof. Jasmal.
Rapat paripurna Senat Akademik dalam rangka Pengukuhan Guru Besar ini berlangsung dengan lancar dan hikmat, berakhir pada pukul 11.30 Wita.(/zem)
Editor : Ishaq Rahman, AMIPR




